Image

Kisah Pengalung Bunga PM Zhou Enlai di KAA

Jackson Leung (Foto: okezone/Iman Herdiana)

Jackson Leung (Foto: okezone/Iman Herdiana)

BANDUNG - Jackson Leung, usianya sudah menginjak 71 tahun, namun semangatnya tidak kalah dengan anak muda. Hampir setiap tahun, pengusaha ekspor impor ini menyempatkan diri hadir dalam peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.

 

Apa peran ayah dua anak itu dalam KAA 57 tahun silam? Jackson Leung ketika itu masih duduk di bangku SMA. Dia salah seorang siswa yang terpilih mengalungkan bunga kepada delegasi KAA.

Tugasnya mengalungkan bunga melati kepada Perdana Menteri (PM) Republik Rakyat Tiongkok (RRT) era itu Zhou Enlai pada 16 April 1955.

Jackson dengan bangga menunjukkan foto saat mengalungkan bunga ke kepala Zhou.

“Saya bilang kepada dia, ‘Anda sangat baik’. Lalu dia menjabat tangan saya. Tangannya terasa halus,” tutur Jackson.

Pria kelahiran Bandung 1940 itu menambahkan, saat dipercaya mendapat tugas itu dia baru berumur 15 tahun.

Jackson mengaku tidak pernah menyangka akan diberi tugas terhormat itu. Gurunya hanya meminta dia menunggu jemputan di Kebun Jati, Jakarta. Dia menunggu dari pagi sampai sore seorang diri tanpa dijelaskan apa yang harus dikerjakannya.

Saat itu, Jackson tahu bahwa dunia tengah krisis akibat perang dingin antara Blok Barat (AS dan sekutunya) dengan Blok Timur (Uni Soviet dan negara komunis).

Dia juga tahu bahwa kota kelahirannya akan digelar Konferensi Asia Afrika (KAA), sebuah gerakan negara-negara terjajah yang terjepit di antara dua blok besar itu.

Di saat menunggu itu, sebuah mobil menjemputnya. Ketua Konferensi yang juga PM Indonesia, Ali Sastroamidjojo, memanggil Jackson.

Alangkah terkejutnya Jackson saat diminta Ali Sastroamidjojo untuk mengalungkan bunga kepada Zhou.

“Beliau orangnya mengerti dunia, memahami kehidupan rakyat, berani melawan, tetapi caranya pakai teori,” kenangnya.

Usai mengalungkan bunga, dia disalami Zhou juga Ali Sastroamidjojo. Menurut tradisi Tionghoa, jika seseorang disalami orang besar, maka orang itu akan hoki atau jaya masa hidupnya.

Foto Jackson yang mengalungkan bunga dan disalami Zhou dipampang di berbagai media massa. Jackson hanya sebagian remaja sekolah yang dilibatkan dalam perhelatan akbar itu.

Dia berada satu tempat dengan Bung Karno, Gamal Abdul Naser (Mesir), Josip Broz (Yugoslavia), Jawaharlal Nehru (India), dan tokoh besar lainnya.

“Setelah salaman, mungkin ada 800-an orang yang menyalami saya. Kata mereka jangan cuci tangan, bekas orang besar,” sebutnya.

Seiring perjalanan, Jackson pun melanjutkan hidup di Peking, RRT. Dia melanjukan sekolah setelah tamat SMA. Di Peking sempat belajar selama dua tahun kemudian melanjutkan studi di jurusan filsafat sebuah universitas di Hong Kong.

Rupanya dia betah di Hong Kong dan membuka usaha di sana. Kemampuan bahasa asingnya yang cemerlang membuat bisnisnya lancar. Meski bisnis di luar negeri telah sukses, dia tetap memerhatikan Indonesia.

Ketika Aceh diguncang gempa dan tsunami pada 2004 lalu, dia pun menyumbangkan tenaga dan hartanya. Kemudian setiap peringatan KAA, dia selalu hadir untuk menuturkan pengalamannya.

“KAA memiliki spirit luar biasa. Awalnya hanya diikuti 25 negara, tapi dua tahun kemudian jadi 106 negara. Menurut saya spirit KAA, spirit Bandung, masih relevan hingga kini,” ungkap pria yang mahir berbahasa Jepang, Korea, dan Mandarin itu.

(ton)
Live Streaming
Logo
breaking news x