Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement
Ahmad Arif

Perspektif Progresif Ujian Nasional

Perspektif Progresif Ujian Nasional
A
A
A

Hari-hari ini merupakan hari pertaruhan sekaligus pertarungan bagi peserta didik pada tingkatan tertinggi tiap jenjang pendidikan; SD, SMP dan SMA. Jadwal Ujian Nasional (UN) 2012 secara bertahap di laksanakan mulai jenjang SMA/MA/SMK (16-19 April 2012), SMP/MTs/SMPLB (23-26 April 2012), dan SD/MI/ SDLB (7-9 Mei 2012). Mereka yang terlibat dalam pelaksanaan ujian ini telah menyiapkan segala sesuatu dengan baik. Semua pihak berkeinginan agar ujian dapat terlaksana dengan lancar dan tidak ada gangguan apapun yang bisa mengurangi nilai kejujuran dan obyektifitasnya.

Buah Simalakama

Sedemikian penting arti ujian nasional bagi para siswa, sehingga kegiatan itu menjadi perhatian masyarakat luas. Di antara mereka ada mendukung hingga bahkan ada yang mengkritik kebijakan itu. Rektor UIN Malang, dalam web resmi kampus itu mennjelaskan, para pengkritik berpandangan bahwa tidak semestinya nasib para siswa hanya ditentukan dalam beberapa hari, yaitu pada saat ujian nasional. Alasan lain bagi orang yang berkeberatan diselenggarakan ujian nasional adalah bahwa, semestinya yang berhak mengevaluasi kecakapan siswa adalah para guru sekolah yang bersangkutan. Pihak sekolah adalah yang lebih tahu kehidupan sehari-hari para siswa sehingga dalam melakukan evaluasi akan lebih obyektif dan komprehensif.

Keberatan-keberatan tersebut telah dijawab oleh pihak pemerintah dalam hal ini adalah Kementerian Pendidikan dan kebudayaan. Misalnya bahwa, ujian nasional bukan satu-satunya penentu kelulusan siswa. Kelulusan siswa juga mempertimbangkan nilai ujian sekolah. Namun kebijakan itu juga dijadikan peluang oleh sementara pihak untuk menaikkan nilai ujian sekolah. Dengan cara itu maka semua siswa menjadi lulus,sekalipun misalnya hasil ujian nasional yang bersangkutan rendah.

Permainan strategis yang diambil, baik oleh panitia ujian nasional dan oleh pihak sekolah yang bersangkutan menjadikan obyektifitas dan kejujuran pelaksanaan ujian terganggu. Panitia ujian nasional menghendaki agar ujian dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, sementara pihak sekolah menginginkan agar tidak ada siswanya yang tidak lulus. Besarnya prosentase lulusan ujian nasional selalu dijadikan tolok ukur kualitas sekolah yang bersangkutan. Selain itu, rendahnya kelulusan ujian nasional menjadikan sekolah yang bersangkutan tidak akan diminati lagi oleh masyarakat. Sekolah yang tidak mendapatkan murid baru, lama kelamaan akan mati. Oleh karena itu, mensiasati agar prosentase kelulusan ujian nasional tetap tinggi sama halnya dengan mempertahankan kehidupan sekolah yang bersangkutan.

Soal Kejujuran

Ada fakta yang cukup menarik perhatian dalam perhelatan UN tahun ini, betapa kata kejujuran menjadi magnet bagi semua lapisan masyarakat. Banyak siswa berikrar untuk jujur, menandatangani pakta kejujuran, dan menyampaikan deklarasi anti menyontek menjelang pelaksanaan UN. Mudah-mudahan ini pertanda baik tentang kesadaran akan luhurnya nilai kejujuran dalam belajar. Kita perlu menularkan semangat itu, sehingga pada tahun tahun mendatang UN tak perlu lagi kita awasi melalui CCTV.

Kejujuran adalah sebuah kata yang sulit untuk ditemukan. Baik di kalangan pemerintah, maupun lingkungan sekolah (pendidikan) sekalipun. Ketidakjujuran sering diperlihatkan kepada publik, seperti pemerintah yang korupsi dan tidak jujur dalam mengemban amanahnya. Bahkan menurut Rektor IKIP PGRI Semarang, demi mengejar predikat daerah dengan kelulusan anak didik di UN tinggi, bupati/walikota di banyak daerah sering meminta kepada pejabat birokrat di dinas pendidikan untuk bagaimanapun caranya, daerah yang dipimpinnya harus mendapatkan capaian kelulusan yang tinggi bahkan terkadang harus mencapai 100% tingkat kelulusannya.

Tentunya apa yang diarahan oleh atasan tersebut, pejabat dinas pendidikan tidak bisa menolak, meskipun dikemas dalam bahasa yang absurd. Sedangkan cara pejabat dinas pendidikan memerintahkan para kepala sekolah dengan cara yang lebih sadis lagi, sampai dengan ancaman mutasi misalnya, kepada banyak kepala sekolah. Sementara kepala sekolah yang ingin tetap mempertahankan kekuasaannya, menekan guru, membentuk tim sukses dan atau sebagainya, yang intinya, anak didik di sekolahnya harus bisa lulus 100 %. Jika persoalan UN sudah masuk wilayah kepentingan politik, nilai kejujuran dalam dunia pendidikan masih menjadi sesuatu yang amat mahal. Kejujuran mudah dikatakan, tetapi sangat sulit diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Tengoklah kejadian di Bekasi, kejujuran digadaikan dengan kepentingan dan dilakukan secara rapi dan terpola, bahkan atas arahan dan bantuan pihak sekolahan. Para siswa peserta UN diminta menggunakan celana panjang rangkap dua untuk meloloskan HP ke ruang ujian. Ternyata melalui HP itulah, tim suksesnya mengirimkan jawaban. Modus seperti itu, sering terjadi di setiap tahun pelaksanaan UN. Tapi kenapa hal seperti itu selalu didiamkan dan bahkan cenderung dimaafkan dan diteloransi. Apakah demi mengejar gengsi daerah, predikat kota vokasi (kota dengan angka kelulusan tinggi), jajaran dunia pendidikan menghalalkan segala cara, dan mengorbankan nilai-nilai luhur seperti kejujuran dan kerja keras serta karakter anak didik?

Namun, tidak semua sekolah berlaku serupa. Harian SINDO kemarin (25/4/2012) menurunkan headline news yang cukup membanggakan. Seperti diberitakan, sebanyak 11 siswa SMA Sukma Bangsa, Caleu, Kabupaten Pidie, Nanggroe Aceh Darussalam dikeluarkan dari sekolahnya. Mereka terbukti membawa contekan saat pelaksanaan ujian nasional (UN) pekan lalu. ”Sebanyak 10 orang di antaranya siswa jurusan IPS, 1 orang siswa jurusan IPA,” ujar Sansrisna, Kepala SMA Sukma Bangsa kepada wartawan.

Sementara itu, dalam lanjutan UN SMP dan sederajat kemarin, seorang pengawas di MTs Negeri I Watampone,Sulawesi Selatan, ditangkap. Pengawas bernama Siti Salmawati, yang sedang bertugas, kedapatan memberitahukan kunci jawaban kepada siswa yang diawasinya. Akibatnya, guru honorer MTs Al-Faizun di Kecamatan Palaka,Watampone ini ditangkap polisi yang sedang bertugas di sekolah tersebut. ”Sebagai penanggung jawab pelaksanaan UN tingkat SMP saya pecat yang bersangkutan, sebab saya kecewa sekali,” tegas Kepala Sekolah MTs Negeri I Watampone, Kasmaruddin.

Perspektif Progresif

Dalam rubrik sudut pandang (Republika, 17/4/2012), Burhanuddin Bella menegaskan bahwa ketidakjujuran lahir dari  keiinginan mendapatkan nilai ujian yang tinggi. Nilai menjadi penting karena akan menentukan pilihan-pilihan lembaga pendidikan di jenjang berikutnya, terutama siswa SD dan SMP. Semakin tinggi nilai UN semakin banyak pilihan sekolah. Dari titik ini, jelas nilai UN menjadi penting, terlepas diperoleh dari kejujuran atau ketidakjujuran. Tapi, nilai yang diperoleh dari proses ketidakjujuran hanya akan melahirkan kesenangan sesaat.

Dalam pendidikan, nilai dan kejujuran memang penting. Tapi, keduanya tidak diperoleh dengan instan. Ada proses yang panjang untuk bisa meraihnya. Ibarat menanam pohon, pendidikan tak ubahnya menanam pohon kelapa yang hasilnya baru bisa dinikmati 10-20 tahun ke depan. UN bagian dari prose situ. UN menguji kemampuan peserta didik selama mengikuti pembelajaran dalam salah satu jenjang pendidikan. Proses inilah yang sejatinya mendapat perhatian, bukan sebatas mengejar hasil akhir.

UN sejatinya bagian dari pemetaan pendidikan di negeri ini. Dari hasil UN diketahui kelemahan dan atau kekuatan anak didik di suatu wilayah pada pelajaran tertentu. Kelemahan inilah yang perlu ditindaklanjuti. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta pemerintah daerah seharusnya sungguh-sungguh memanfaatkan peta pendidikan dari hasil UN untuk melakukan pembenahan di wilayah yang lemah pada pelajaran tertentu.

Toh, jalan bukan tak berujung. Kesempatan untuk melakukan pembenahan pun masih terbuka. Wilayah yang siswanya lemah pada pelajaran itu, misalnya, tak ada salahnya mendatangkan pengajar dari daerah lain untuk pelajaran yang sama. Pada saat bersamaan, pengajar dari daerah yang nilai UN siswanya masih rendah diberi kesempatan menimba pengalaman pengajar di wilayah yang lebih bagus dalam jangka waktu tertentu.

Dengan begitu, memungkinhkan pembelajaran di wilayah itu ikut berkembang. Perkembangan itu bisa membuat nilai UN siswa akan lebih bagus. Perkembangan itu juga dapat meninggikan kepercayaan diri dalam mengikuti UN. Biasanya, kepercayaan yang tinggi dapat memperkecil peluang lahirnya kecurangan saat mengikuti UN. Semoga.

Ahmad Arif
Penulis adalah peminat kajian agama dan kemasyarakatan, alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berdomisili di Banda Aceh

(M Budi Santosa)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement