Pendidikan Mahal, Mahasiswa UPI Bagi-Bagi Uang

|

Tolak pendidikan mahal, BEM Rema UPI bagi-bagi uang (Foto: Iman H/okezone)

Pendidikan Mahal, Mahasiswa UPI Bagi-Bagi Uang

BANDUNG - Belasan mahasiswa yang tergabung Badan Eksekutif Mahasiswa Republik Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (BEM Rema UPI) bagi-bagi uang fotokopian kepada pengendara dan wartawan pada Hari Pendidikan Nasional 2012 ini.

Presiden BEM Rema UPI Hamdan Ardiansyah mengatakan, aksi bagi-bagi uang ini adalah sebuah simbol mahalnya pendidikan di Indonesia.

"Simbol uang ini menggambarkan jika pendidikan di Indonesia hanya dinilai dengan uang terus," kata Hamdan kepada wartawan di sela-sela aksi unjuk rasa di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (2/5/2012).

Hamdan menilai, seharusnya pemerintah menyediakan pendidikan murah bagi masyarakat. Pasalnya, saat ini masih banyak masyarakat yang belum bisa mengakses pendidikan di Indonesia dengan harga terjangkau.

Dalam aksinya, mahasiswa memberikan selembar uang hasil fotokopi yang disatukan dengan pernyataan sikap. Nominal uang yang mereka bagikan adalah Rp2,5, Rp500 bahkan hingga Rp 100ribu.

"Uang terkecil itu Rp2,5 sebagai simbol harapan kita agar pendidikan murah. Sedangkan 100ribu adalah simbol mahalnya pendidikan di Indonesia," katanya.

Sementara, dalam pernyataan sikapnya, para pengunjuk rasa meminta pemerintah menghapuskan komersialisme pendidikan. Selain itu, massa meminta pemerintah merealisasikan anggaran 20 persen pendidikan tanpa gaji dan pelatihan guru.

"Revisi kebijakan Ujian Nasional (UN) dan Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (RUU PT) dalam sistem pendidikan Indonesia," tegasnya.

Usai melakukan aksi unju krasa, mahasiswa berencana menggelar aksi simbolik dengan memberikan satu paket multivitamin kepada Pemprov dan DPRD Jabar. "Kami berikan itu agar pemerintah lebih gesit memajukan pendidikan di Indonesia," pungkasnya.

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Relokasi Korban Longsor Banjarnegara Tunggu Pertimbangan Pusat Vulkanologi