Nando&Nurul Mengganti BBM dengan Urine

Nando dan Nurul mengubah urine menjadi bahan bakar mobil. (Foto: Hari Istiawan/okezone)

Nando dan Nurul mengubah urine menjadi bahan bakar mobil. (Foto: Hari Istiawan/okezone)

MALANG - Dua siswa SMAN 10 Kota Malang, Nurul Inayah dan Nando Novia berhasil menjuarai lomba teknologi International Young Inventors Project Olympiad (IYIPO) di Tbilisi, Georgia. Keduanya berhasil menyisihkan 101 peserta dari 40 negara dan mendapat medali emas atas prestasinya tersebut.

Kedua siswa ini berhasil menyabet penghargaan internasional dengan penelitiannya yang mengubah urine menjadi energi listrik melalui Photo Electro System. "Listrik sudah diuji coba untuk menggerakkan mobil radio kontrol," kata Nando yang juga ketua dewan riset muda SMA Negeri 10 Malang, kemarin.

Nando menjelaskan, dia bersama Nurul mengaku telah melakukan penelitian ini selama tiga bulan. Hanya dengan memanfaatkan listrik tenaga surya, kata Nando, mereka bisa mengubah urine menjadi hidrogen yang dapat menghasilkan listrik. Listrik ini dapat menggerakkan mobil yang mampu melaju dengan kecepatan 60 kilometer per jam. "Satu liter urine dapat menghasilkan listrik untuk melaju 17 kilometer," kata Nando.

Menurut Nando, proses elektrolisasi satu liter urine membutuhkan waktu 1,5 menit. Selain itu, urine yang digunakan hanya urine dari manusia sehat. Sebab, urine yang mengandung unsur gula atau kimia lain akan menganggu proses elektrolisasi. Urine dipilih karena proses elektrolisasi lebih efisien hanya membutuhkan catu daya 0,37 volt, bandingkan dengan air yang membutuhkan listrik 1,2 volt.

Mereka telah merencanakan alat tersebut ditanam di sebuah mobil dengan perkiraan perhitungan mencapai Rp50 juta untuk merealisasikan alat tersebut dapat menggerakkan mobil listrik. Keduanya bercita-cita merealisasi mobil listrik berbahan bakar urine tersebut dan berharap dukungan dana dari sponsor. Saat ini, mereka juga sudah mengajukan hak paten atas temuan tersebut dan berharap dukungan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Dalam ajang kompetisi teknologi itu, Indonesia diwakili tiga tim. SMA Negeri 10 Malang bertarung dalam kategori teknologi. Kategori fisika diwakili siswa SMA Aceh dengan membuat alat pendeteksi kemurnian minyak goreng. Temuan ini  dianugerahi mendapat medali perak. Sedangkan SMA Tangerang berlomba dalam kategori kimia dengan meneliti air bermagnet untuk meningkatkan pertumbuhan kecambah. Tim SMA Tangerang mampu meraih medali perunggu.
(rfa)
berikan komentar anda Lakukan Login untuk Komentar tanpa moderasi.
0 komentardisclaimer
breaking news x