Hutan Unhas Pusat Rehabilitasi Narkoba

Image: corbis.com

Hutan Unhas Pusat Rehabilitasi Narkoba
MAKASSAR - Hutan pendidikan Universitas Hasanuddin (Unhas) akan menjadi lokasi pembinaan bagi pecandu narkoba di Sulawesi Selatan (Sulsel). Mereka akan menjalani pembinaan berbasis konservasi sumber daya alam setelah menjalani proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Narkoba Baddoka.

Penetapan lokasi ini merupakan tindak lanjut kerjasama antara Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) dengan Unhas.  Tidak hanya itu, pada 26 juni mendatang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan akan mendeklarasikan Hari Anti Narkoba di kawasan hutan yang berada di Bengo, Kabupaten Maros, itu.

Rektor Unhas Prof Idrus Paturusi menjelaskan, angka pengguna narkoba di Sulsel cukup tinggi. Dari data BNN, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Sulsel pada 2008 1,80 persen atau 103.849 orang, meningkat menjadi 2,04 persen atau 121.773 orang pada 2010, bahkan diperkirakan meningkat menjadi 2,08 persen atau 125.730 orang pada akhir 2011.

Jika dilihat dari tren perkembangannya, maka setiap tahunnya, pengguna narkoba di Sulsel mengalami peningkatan enam persen. Sehingga, pada 2015 angka tersebut diperkirakan menjadi 147.611 pengguna narkoba jika tidak mendapat penanganan yang tepat.

"Hutan ini dipilih karena ternyata suasana dan hawa yang ditawarkan hutan sangat bagus secara psikologis untuk rehabilitasi mantan pengguna," ungkap Idrus baru-baru ini.

Dengan luas 3.600 ha, hutan pendidikan Unhas adalah laboratorium alam yang digunakan sebagai tempat praktik dan penelitian mahasiswa. Sesuai jenis tanamannya, hutan ini terbagi atas hutan alam dan hutan pinus. Hutan pendidikan Unhas memiliki potensi fisik, potensi biologi, dan potensi sosial yang strategis untuk dikelola sebagai pusat pendidikan, penelitian, pelatihan, dan pelayanan kehutanan di Sulsel dan regional Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Aktivitas masyarakat di dalam dan di sekitar hutan pendidikan Unhas adalah bersawah, berkebun, dan beternak. Sebagian masyarakat juga melakukan kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu seperti pengambilan kayu bakar, penyadapan getah pinus, penyadapan aren, pembuatan gula aren, pengambilan benih tanaman mahoni dan pinus, pemanfaatan tanaman obat-obatan, jamur, dan lain-lain. Aktivitas masyarakat tersebut membentuk agroekosistem yang dapat menjadi tempat belajar bersama stakeholder. (rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Jumlah Kendaraan yang Di-recall Gara-Gara Airbag Melonjak