Christian dan Obsesi Menembus Pasar Asia

|

Image: corbis.com

Christian dan Obsesi Menembus Pasar Asia

KALAU sepatu bermerek Christian Louboutin yang berasal dari Prancis bisa begitu terkenal di dunia, sepatu lokal pun harus bisa mendunia suatu saat, setidaknya dikenal di Asia.

Inilah salah satu obsesi dari Christian Adiguna Sipayung, pengusaha sepatu dengan merek Christian Widz. Bagi pria yang akrab disapa Chris ini, dengan bermimpi, dirinya bisa memiliki target untuk terus berusaha mencapainya.

"Mempunyai mimpi tentunya tak salah kan? Sepatu Christian Louboutin itu sangat terkenal, bahkan untuk sepasang sepatunya itu paling murah Rp15 juta," kata pria kelahiran 15 Juni 1984 ini, belum lama ini.

Anak sulung dari empat bersaudara ini memang sudah bertekad mewujudkan mimpinya meskipun kesehariannya dipenuhi dengan segudang aktivitas. Sebagai pemilik usaha sepatu Christian Widz, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) ini juga tercatat sebagai Policy Owner Services Officer di PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia.

Tak hanya itu, di sela-sela kesibukannya bekerja dan kuliah serta berwirausaha sepatu, Chris juga masih menyempatkan diri untuk siaran seminggu sekali di City Radio. Selain itu, dia pun menjadi Master of Ceremony (MC) untuk berbagai event. Tidak heran jika dia memiliki segudang aktivitas karena Chris memang berpandangan, waktu yang dimiliki harus dimanfaatkan sebaik mungkin, tentunya untuk kegiatan yang positif.

"Kadang-kadang kongkow-kongkow juga sama kawan, itu pun untuk hal yang positif, merecharge pemikiran. Sebab selain kongkow dan bertemu kawan, kami juga akan menambah pengalaman dari sharing," ujar Chris.

Chris bercerita awal mulanya dirinya menekuni usaha sepatu. Setelah tamat kuliah di Universitas Komputer Indonesia (Unikom) jurusan Ilmu Komunikasi di Bandung pada 2006, Chris kembali ke Medan dan mulai menjadi penyiar di Radio Sonya membawakan program Joke on The Air (Joker) pada 2007. Setelah itu, dia bergabung di City Radio hingga saat ini.

Di tahun yang sama, Chris bekerja di PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia sambil tetap melakukan kegiatan MC. Namun, karena dari kecil jiwanya tertempa untuk menjadi seorang pengusaha, keinginannya untuk berwirausaha pun tak terbendung. Tepat pada 14 Februari 2012, Chris dan rekannya Widya bersama adiknya Johan meluncurkan sepatu Christian Widz.

"Cita-cita saya memang ingin menjadi pengusaha. Karena dengan menjadi pengusaha, saya bisa melakukan banyak hal. Dengan menjadi pengusaha, kalau usaha sukses, secara otomatis kesejahteraan kita pun membaik dan tentunya bisa berbuat banyak hal, membantu orang lain, dan sebagainya," papar Chris.

Chris mengaku, jiwa wirausahanya tertempa dari bapaknya yang memiliki usaha grosir serta sang kakek yang berdagang sayur mayur dari Berastagi ke Medan. "Dari kecil aku sudah ikut ompung (kakek) membawa sayur mayur dari Berastagi untuk dijual ke Medan dan membawa barang-barang dari Medan untuk kembali dijual di Berastagi," kenangnya.

Jiwa wirausahanya yang tertempa sejak kecil inilah yang membuatnya menolak keinginan orangtuanya untuk masuk ke Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor. Saat itu, ayahnya mengatakan siap memberikan uang terima kasih Rp60 juta kepada seseorang jika dia bisa masuk ke STPDN. Tapi Chris menolaknya.

Keinginannya yang begitu kuat menjadi pengusaha mendorongnya bekerja menjadi karyawan sehingga mendapatkan modal berusaha. Dari Rp10 juta modal awal yang dimilikinya, kini Chris bisa beromzet Rp5-10 juta per bulan. "Puji Tuhan, semua ini karena banyak teman-teman yang membantu saya. Selain itu saya juga terbantu melalui online shop melalui Blackberry Messenger, Twitter, Facebook, website Presidentcentro.com, juga situs berniaga.com," tutur alumnus SMA Santa Maria 1 Bandung ini.

Saat ini sepatu Christian Widz yang diproduksi dengan model flatshoes, wedges dan higheels, sudah dipasarkan di Medan, Manado, Ambon, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, bahkan Singapura. Chris berkeinginan memiliki gerai Christian Widz di Jakarta dan membuatnya dikenal di Asia. Chris sendiri optimistis bisa mewujudkannya. (lia anggia nasution/koran si)

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Coba Kabur, ISIS Eksekusi Anggotanya