Selain mendesak polisi, Said juga menegaskan kesiapannya membantu jika memang dibutuhkan. Bantuan yang dimaksud, yakni dengan menurunkan anggota Banser NU, seperti ketika menjaga bedah buku Irshad Manji di kantor Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Kalibata, Sabtu 5 April malam.
Bedah buku karya pemikir asal Kanada itu di Komunitas Salihara sebelumnya dibubarkan massa, termasuk anggota Front Pembela Islam.
”Polri harus turun tangan juga harus tegas, dan kalau Banser dimintai tolong, Banser siap bantu,” tegasnya.
Secara terpisah, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Ma'ruf Amin menilai kekerasan yang melibatkan anggota organisasi kemasyarakatan tertentu, telah mencederai prinsip kerukunan dalam masyarakat.
”Terkait kejadian anarkis yang dilakukan oleh ormas tertentu, saya kira bagian dari perilaku yang mencederai prinsip kerukunan, dan kerukunan itu perlu terus kita bingkai," ujarnya sebelum acara tasyakuran atas gelar Doktor Honoris Causa yang disandangnya di Hotel Acacia, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Dia menambahkan, ada empat bingkai kerukunan umat beragama, yakni bingkai politis, sosiologis, teologis, dan bingkai yuridis.
"Saya menyebutnya ada empat bingkai, bingkai politis yang menyangkut komitmen kebangsaan dan kenegaraan. Kedua bingkai Sosiologis, yaitu kearifan lokal dimana daerah itu membuka satu keluarga yang harus dibingkai terus," katanya.
"Ketiga, bingkai teologis, ya artinya teologi dari masing-masing agama harus dibangun terhadap teologi prinsip kerukunan, jangan teologi konflik. Jadi jangan mengangap kelompok lain menjadi musuh. Tetapi, bukan hanya berdampingan secara damai, tapi harus peduli masing-masing. Keempat, bingkai yuridis, jadi kalau ada kekerasan (berarti) kurang memahami prinsip-prinsip kerukunan dalam antar agama, apalagi sesama bangsa," urainya.