Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Mega Kritisi Peran Perempuan dalam Politik

Tri Kurniawan , Jurnalis-Selasa, 15 Mei 2012 |17:18 WIB
Mega Kritisi Peran Perempuan dalam Politik
Megawati Soekarnoputri
A
A
A

JAKARTA - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik bertema "the Role of Women in Politics" di Universitas Innsruck, Austria.

Dalam kesempatan tersebut, mantan presiden ini bercerita peran perempuan dalam catur politik Indonesia. Menurutnya, dirinya salah satu perempuan yang sempat berjibaku menentang kerasnya rezim orde baru.

"Kesulitan-kesulitan yang saya hadapi selama masa orde baru bukan karena saya adalah figur perempuan, tapi sepenuhnya karena saya dan PDI berdiri tegak menentang kezaliman rezim orde baru," kata dia dikutip dalam rilisnya kepada Okezone, Selasa (15/5/2012).

Karena itu, bagi Mega, pergulatan perempuan Indonesia saat sekarang, bukan hanya untuk mendapatkan pengakuan penyetaraan gender sebagaimana pergulatan banyak bangsa lain, tapi justru menemukan formula bagi implementasinya.

"Tantangan perempuan Indonesia adalah bagaimana menjadikan politik sebagai sebuah gerakan bagi Indonesia dan kemanusiaan yang lebih baik," tegasnya.

Putri mantan Presiden Soekarno ini mengaku selama ini membangun kembali kesadaran politik kaum perempuan Indonesia untuk berani memilih jalan politik, meskipun diakuinya bukan hal mudah.

"Justru dalam era modern seperti ini, pilihan politik bagi perempuan nampak adanya kemunduran dari aspek idealisme. Lebih-lebih sebagai sebuah gerakan," ujarnya.

Dia menilai, Keterlibatan kaum perempuan dalam politik justru kembali dibatasi, bahkan banyak di antaranya yang tidak bisa aktif hanya karena alasan sederhana, yakni tidak diizinkan oleh suaminya.

"Persoalan rendahnya partisipasi dan representasi kaum perempuan, terutama di lembaga-lembaga publik, termasuk di parlemen merupakan masalah serius di Indonesia," ungkapnya.

Persoalan rendahnya dan buruknya kualitas partisipasi dan representasi merupakan bagian dari persoalan demokrasi Indonesia yang belum selesai dan masih terus mencari bentuk, dan bukan merupakan persoalan perempuan semata-mata.

"Masih banyak kelompok dalam masyarakat Indonesia dihadapkan pada kedua persoalan ini," terangnya.

Dia berharap, persoalan partisipasi dan representasi yang buruk ini harus diselesaikan sebagai agenda politik kolektif sebuah bangsa, bukan dibatasi sebagai medan pergulatan gender. "Saya boleh jadi keliru. Tetapi itulah yang selama ini saya rasakan," pungkasnya.

(Tri Kurniawan)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement