Semakin menjamurnya budaya nonton di kalangan masyarakat Indonesia, membuat budaya baca masyarakat kita semakin menurun drastis. Apa yang disuguhkan televisi dengan berbagai programnya, sesungguhnya telah memupus harapan bagi kemajuan bangsa di masa depan. Sebab, tontonan televisi diyakini memiliki magnet yang luar biasa untuk memikat seluruh pemirsa agar duduk manis berada di depan televisi. Apalagi, jika tontonan televisi dijadikan menu sarapan setiap hari sehingga bisa melupakan aktifitas membaca buku.
Magnet luar biasa yang ditawarkan televisi, ternyata telah mampu membius masyarakat kita untuk selalu menikmati tayangan yang disajikan televisi. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, masyarakat kita lama-kelamaan akan terkontaminasi dengan tawaran menarik yang bisa menguntungkan dan memberikan hiburan berarti dalam kehidupan. Sehingga, mereka tidak bisa lepas dari tontonan televisi dan pada akhirnya masyarakat kita akan menjadi bangsa penonton, bukan bangsa yang mampu menciptakan tontonan.
Saya menilai, bahwa budaya nonton (televisi), bukan merupakan budaya bangsa, karena walaupun masyarakat kita berlatar belakang tradisi visual dan lisan, tetapi mereka mempunyai idealisme untuk menjadikan membaca sebagai budaya bangsa. Tidak heran kalau televisi diyakani sebagai salah satu penyebab memudarnya antusiasme masyarakat terhadap buku. Dimana dalam kesehariannya, masyarakat menengah ke bawah, terlalu disibukkan dengan menonton dan mereka lebih terpikat dengan apa yang disuguhkan program televisi.
Saya mendukung sekali dengan semangat yang berlipat ganda dari para pemangku buku dan kutu buku untuk memasyarakatkan budaya baca yang selama ini tergerus oleh budaya nonton di bawah kendali kaum kapitalis dan neoliberalisme. Tergerusnya budaya baca masyarakat kita, menuntut adanya perhatian serius dari semua pihak, agar bersatu mempromosikan dan menstranformasikan jargon “budaya baca” ke seluruh elemen masyarakat.
Adanya jargon “tidak membaca buku adalah dosa”, yang dilontarkan para pemangku buku dan kutu buku, seolah-olah ingin memberikan semangat kepada masyarakat luas bahwa membaca buku menjadi sebuah keniscayaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika menjadi keniscayaan, maka tidak membaca buku merupakan kesalahan terbesar dalam hidup sehingga sangat ironis bagi masyarakat Indonesia yang memiliki peradaban gemilang di masa lampau.
Menyadari hal ini, seharusnya kita mencermati pernyataan Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia, bahwa “ada beberapa kejahatan yang lebih buruk dari pada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku”. Cacatan Brodsky ini, sangat bermakna dan bernilai, jika kita memahaminya dengan sungguh-sungguh dan berusaha mengubah persepsi kita akan ketidakbernilaian jargon di atas. Bagi saya, jargon itu mempunyai makna yang mendalam untuk terus mendorong masyarakat agar menjadikan aktifitas membaca sebagai “budaya bangsa”.
Kendati televisi saat ini menjadi kebutuhan utama dan tontonan yang paling digemari oleh masyarakat kita, tetapi tetap saja, televisi tidak bisa memberikan manfaat bagi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik dan menjadi pemecah dari segala persoalan kebangsaan. Bahkan, mungkin saja, karena pengaruh televisi ini, masyarakat kita akan semakin terbelakang dan menjadi bangsa yang amburadul, di mana moral bangsa terkontaminasi adegan-adegan yang disajikan program televisi.
Perlu diketahui bahwa kemanusiaan kita berkembang karena membaca buku, bukan karena nonton televisi. Karena itu tidak berlebihan mengatakan bahwa pemanusiaan buku bukan hanya membukukan manusia, melainkan meningkatkan kemanusiaannya. Franz Magnis-Suseno (1997) berharap agar generasi televisi dan instant satisfaction sekarang tetap senang membaca buku supaya dapat mengalami keasyikan dan kebebasan ruhani yang menjadi ganjarannya. Demikian pula Jaya Suprana (1997) mengingatkan, sebenarnya yang bisa dan perlu dibaca memang buka hanya “buku” saja, melainkan praktis segenap aspek kehidupan yang bisa terungkap daya pengideraan insan manusia.
Apa yang dikatakan para pemangku buku dan kutu buku tentang asumsi televisi sebagai sumber gegar budaya, kotak idiot, kotak dungu, tuhan kedua, bahkan setan jahat citra sekalipun, memang pernyataan yang sangat rasional dan bisa dipertanggung jawabkan. Mengingat para psikolog pernah berujar, bahwa tontonan (khususnya senetron) dalam televisi dapat menghilangkan memori otak ketika telah membaca buku, kemudian apa yang ada dalam pesan buku itu menjadi hilang.
Secara faktual, teknologi yang identik dengan media ektronik telah menjadi candu bagi masyarakat, semisal televisi yang pada perkembangannya makin menawarkan kultur waching atau peradaban nonton, bukan peradaban baca. Realitas ini, pernah diungkapkan Presiden Direktur Kelompok Kompas Gramedia Jakop Oetama, yang menuturkan bahwa kemajuan peradaban bangsa tidak bisa dibangun dengan budaya nonton, akan tetapi dengan membaca dan menulis kemajuan peradaban bangsa dapat ditentukan. (Kompas, 4/9/2007).
Banyak yang bilang, bahwa dunia perbukuan kita tidak mampu memberikan nilai universalisme sekaligus idealisme yang menjadi fungsi dan peranan buku bagi kemajuan peradaban bangsa. Seolah-olah apa yang diusung dunia perbukuan kita adalah hanyalah pepesan kosong belaka, yang bertujuan meraup keuntungan demi kepentingan golongan. Menurut saya, pernyatan tersebut adalah tidak bernilai dan merupakan titik kulminasi dari pemikiran pragmatis-regresif. Seharusnya, kita sadar bahwa dunia buku adalah dunia pencerahan yang menghilangkan kebekuan pemikiran dan memberikan semangat untuk bangkit dari keterbelakangan sehingga menjadi petualangan intelektual yang menakjubkan.
Tak heran, kalau Ari Ginanjar Agustian (2001), berasumsi bahwa membaca pada gilirannya dapat membuka ruang berpikir bagi seseorang menjadi lebih kreatif dan progresif. Di mana seseorang yang melakukan aktivitas membaca, berati ia telah berpikir dan belajar mengenai keadaan sesuatu yang ada dihadapannya. Penekanan arti penting membaca begitu sangat dimulyakan di sisi Allah. Karena hal inilah yang akan menyelematkan manusia dari lembah kehancuran dan mampu mendorong manusia pada kemajuan peradaban.
Dengan demikian, apa yang menjadi keperihatinan para pemangku buku dan kutubuku dapat kita jadikan acuan untuk terus memasyarakatkan budaya baca ke seluruh elemen bangsa. Ini disadari, sebagai bentuk keperihatinan kita pada budaya baca kita yang tersaingi dengan budaya nonton. Bukan, malah sebaliknya menuding para pemangku buku dan kutu buku sebagai biang utama mencuatnya pragmatisme dalam dunia perbukuan. Apalagi bila kita berada pada momen Hari Buku Nasional, dimana semangat menjadikan buku sebagai peradaban bangsa mesti terus didengungkan secara berkelanjutan.
Mohammad Takdir Ilahi,
Pecinta Buku dan Staf Riset The Mukti Ali Institute Yogyakarta.
(M Budi Santosa)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.