JAKARTA - Direktur Eksekutif Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Liana Bratasida mengungkapkan, kebijakan Asia Pulp & Paper Grup (APP) yang menerapkan prinsip Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) dalam pengembangan bisnisnya diapresiasi berbagai kalangan. APP telah memperlihatkan bahwa industri dalam negeri serius berkompetisi dengan internasional.
Liana berharap, kebijakan baru APP ini dapat memberikan multiplier effect terhadap perusahaan-perusahaan lain untuk menerapkan hal sama. Dengan begitu, citra Indonesia di mata dunia menjadi positif.
‘’Karena persaingan global dan tujuannya ekspor harus dipastikan perusahaan nasional memenuhi standar internasional. Yang pasti, kegiatan APP positif,’’ ujar Liana, dalam pesan elektroniknya kepada wartawan, Sabtu (19/5/2012).
Program APP menunjukkan bahwa Indonesia memerhatikan masalah lingkungan. Sudah saatnya industri kertas nasional menerapkan sustainability concept yang mencangkup tiga pilar, yaitu ekonomi sosial dan lingkungan.
‘’Orang (asing) itu menekan karena tak punya apa-apa. Kita jangan bodoh, jangan terbawa. Yang penting komitmen untuk melaksanakan. Kita minta semua pihak ikut menjaga sehingga ada cross check,’’ tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama Ketua APKI Misbahul Huda mengatakan bahwa kebijakan baru APP menunjukkan kesungguh-sungguhan industri pulp dan kertas Indonesia untuk mencapai produksi kelas dunia sesuai standar lingkungan.
Beberapa pekan lalu industri pulp dan kertas melalui APKI telah berkomitmen dengan mitra dagang serta pemegang saham untuk mendukung penerapan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) sesuai ketentuan Kementerian Kehutanan.
Komitmen ini dinyatakan dalam sebuah petisi yang ditandatangani 20 April 2012 oleh tujuh asosiasi, termasuk APKI.
"Kini APP menerapkan kebijakan baru berdasarkan SVLK yaitu program HCVF. Tak hanya sesuai tapi juga melampaui standar internasional. Dua program ini menunjukkan kalau pembuat kebijakan dan industri kita berkomitmen menjaga sumber daya alam dan keanekaragaman satwa," ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Purwadi Soeprihanto mengatakan komitmen APP yang mengadopsi penilaian Hutan Bernilai Konservasi Tinggi (HCVF) untuk pemasok mereka merupakan terobosan baru dalam industri pulp dan kertas.
Baru-baru ini, kata Purwadi, APHI mendukung pelaksanaan SVLK sebagai sertifikasi jaminan bahwa kayu yang mereka pasok benar-benar ramah lingkungan. Sertifikasi wajib SVLK ini akan memberikan Indonesia standar produksi kelas dunia berkelanjutan.
‘’Kami mendukung komitmen APP yang serius menerapkan sistem pengelolaan hutan berkelanjutan berdasarkan prinsip HCVH. Tentunya akan ada masalah yang harus dihadapi, baik dari APP maupun pemasoknya, seperti yang biasa terjadi ketika sebuah kebijakan baru diterapkan. Namun, yang terpenting adalah adanya proses keterlibatan multi-pihak yang efektif serta dukungan penuh dari semua pihak termasuk pemerintah, asosiasi, dan LSM untuk menjamin keberhasilan implementasi ini,’’ tuturnya.
(Susi Fatimah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.