Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Menag: LSM Jelek-jelekkan Bangsa Sendiri ke PBB

Misbahol Munir , Jurnalis-Rabu, 23 Mei 2012 |21:04 WIB
Menag: LSM Jelek-jelekkan Bangsa Sendiri ke PBB
Suryadharma Ali (Foto: Koran Sindo)
A
A
A

JAKARTA - Banyaknya kasus dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan juga intolerasi beragama di Indonesia yang tidak menemukan ujung pangkalnya, sebentar lagi akan ajukan ke Dewan HAM PBB.
 
Menanggapi hal itu, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali menyatakan heran dengan pihak-pihak yang melaporkan kejelekan bangsa terhadap pihak luar. Sebab menurut dia, informasi semacam itu belum tentu benar. Dia pun mengklaim kerukunan beragama di Indonesia merupakan terbaik di dunia.
 
"Saya juga heran, enggak habis pikir, ada lembaga di Indonesia yang memberikan informasi yang jelek-jelek ke luar, padahal informasi yang ia sampaikan itu belum tentu seperti apa yang disampaikan. Tapi kayaknya suatu yang sangat nyaman dan pahlawan kaum minoritas. Sedangkan kaum minoritas itu diperlakukan sama dengan mayoritas. Dan, Anda harus tulis ini, kerukunan beragama di Indonesia terbaik di dunia," ungkap Suryadharma kepada wartawan di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (23/5/2012).
 
Hal itu kata dia, bisa dilihat dari pimpinan negaranya yang sangat toleran dan menghargai atas hari raya semua agama yang diakui di Indonesia.
 
"Presiden, Wapres, dan Menag beragama Islam. Idul Fitri tanggal merah dan hari libur nasional, Presiden, Wapres dan Menag merayakan idul fitri. Enggak aneh kan? Terus Natal, tanggal merah libur nasional, Presiden, Wapres dan Menag juga ikut merayakan natal. Hari besar Hindu, Budha Konghucu juga libur nasional. Presiden, Wapres dan Menag juga ikut merayakan," kata dia.
 
Dia pun menilai apa yang dilakukan para pemimpin Indonesia belum pernah dilakukan oleh pemimpin lain di dunia. "Tunjukkan kepada saya, negara mana di belahan dunia ini yang seperti itu," jelasnya.
 
Sementara saat dikonfrontasi bahwa penilaian kerukunan tidak bisa diukur hanya dari aspek prilaku toleransi pemimpinnya, menurut dia, tentu bisa dipastikan bahwa masyarakat juga berlaku toleran.
 
"Itu menunjukkan pemimpinnya. Kalau Presiden dan Wapres begitu artinya masyarakatnya juga menerima. Kalau Presiden dan Wapres langkahnya salah dalam menghadiri Natal, Waisak, Nyepi, SBY enggak bisa dua periode loh," tegas mantan Menteri Koperasi dan UKM itu.
 
"Tunjukkan negara mana yang seperti itu? Mereka cerewet doang. Kita Paskah aja libur kok, kenaikan Isa Almasih libur. Coba negara mana yang ribut-ribut soal agama di Indonesia melebihi Indonesia? Enggak ada," imbuhnya.
 
Dia pun menyesalkan tindakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang seakan-akan menjadi pahlawan bagi kaum minoritas. Padahal, permasalahan yang dibawanya bukan persoalaan pelanggaran HAM dan intoleransi melainkan lebih pada persoalaan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) tapi malah dibawa ke ranah hukum.
 
"Iya, rasanya nikmat, nyaman betul memberikan informasi negatif tentang Indonesia yang informasi itu belum tentu seperti itu adanya. Misalnya, Yasmin. Yasmin pasti masuk tuh dalam laporan itu. Itu soal IMB. Lagi-lagi IMB bawa ke ranah hukum. Masjid di Jalan Talang, namanya Baitul Makmur itu enggak pernah jadi acuan. Enggak pernah dilihat dan dilaporkan ke sana. Masjid itu punya Ketua pengurus wilayah NU DKI Jakarta, orang Betawi sekarang menjadi Menteri Perumahan Rakyat. Masjidnya, sampai sekarang enggak dapat izin. Gubernurnya orang Betawi, orang Islam dan NU. Kok enggak dapat? Ini enggak ribut," jelasnya.
 
Dia berharap agama tidak dipolitisasi. "Jangan mendiskriditkan, jangan politisasi agama," imbuhnya.
 
Saat ditanya tentang kelompok-kelompok minoritas, seperti suku Badui yang memiliki keyakinan sendiri tetapi dibatasi karena dalam KTP harus memilih salah satu agama yang diakui, menurut dia, Suku Badui tidak diakui sebagai agama melainkan sebagai kebudayaan.
 
"Itu kan diakui sebagai kebudayaan. Jangan yang mengutik-ngutik yang sudah bakulah, atas nama kebebasan. Pembela kaum minoritas. Coba selediki di negara-negara lain bahkan di Amerika Serikat, umat Islam bikin masjid bebas enggak? Di Jerman bebas enggak? Jangan mendeskriditkan negara sendiri," pungkasnya.

(Lamtiur Kristin Natalia Malau)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement