JAKARTA - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Adnan Buyung Nasution, menerbitkan buku berjudul Nasihat Untuk SBY. Dalam buku tersebut, Buyung menceritakan liku-liku selama menjadi anggota Wantimpres.
Berdasarkan sinopsis buku yang dikutip dari www.belbuk.com, Buyung justru membeberkan pengalaman dan suka-duka selama menjadi anggota Wantimpres angkatan pertama (2007-2009). Blak-blakan ia ungkap kenyataan pahit bahwa banyak nasihat dan pertimbangannya yang tidak didengar. Juga soal Presiden SBY yang memang jarang meminta nasihat dan pertimbangan.
Buyung juga bicara tentang tidak adanya komunikasi rutin dengan Presiden. Pun tidak tersedianya jalur yang efektif dan praktis untuk bertemu Presiden. Selama satu setengah tahun menjadi anggota Wantimpres, hanya tiga kali ia bisa berkomunikasi langsung dengan Presiden. Selebihnya, ”Bergerilya”
Menanggapi hal tersebut, Ketua Fraksi Partai Demokrat, Nurhayati Ali Assegaf, mengatakan bahwa tidak seharusnya Buyung menceritakan hal tersebut. Jika memang terjadi perbedaan pendapat, seharusnya hal tersebut dibicarakan baik-baik.
"Kalau sudah sepakat menerima tugas, kemudian terjadi kekecewaan ya harus dibicarakan, kalau ada lack of communication ya berarti orang itu harus instropeksi, kenapa tidak bisa berkomunikasi dengan atasannya. Sangat tidak etis kalau hal itu diceritakan," tuturnya kepada wartawan di Gedung DPR, Jakarta, Jumat (25/05/2012).
Nurhayati sendiri mengaku belum pernah membaca buku tersebut. Namun, menurutnya, jika memang benar apa yang ditulis Buyung, maka hal tersebut jelas melanggar etika dalam berpolitik.
"Kalau soal buku Bang Buyung saya belum baca dan dengar. Saya kira kalau memang benar seperti yang dikatakan, yang lebih tinggi dalam hidup ini ada etika berpolitik lebih tinggi dalam UU," tegasnya.
(Muhammad Saifullah )
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.