Serba-Serbi Pasar Senen

|

Suasana di Stasiun Senen (Foto: Dok Okezone)

Serba-Serbi Pasar Senen

PASAR Senen sudah dikenal sejak zaman pergerakan kemerdekaan. Kawasan ini menjadi tempat mangkal kawanan preman, juga tongkrongan para pejuang. Adam Malik, Khairul Saleh, AK. Gani hingga mantan Presiden Soekarno, pernah singgah dan berdiskusi di tempat ini.

Mengapa dinamakan Senen? Menurut sejarawan Betawi, JJ Rizal, karena awal perdagangan di pasar ini dimulai pada hari Senin (Senen dalam logat Betawi). Sejak saat itu, Senen menjadi pusat perekonomian, pusat hiburan, dan kandang para preman. Sempat muncul istilah “buaya Senen” yang berisi para bandit dengan segala kejahatan di dalamnya.

Istilah preman sendiri, kata Rizal, berasal dari bahasa Belanda, vrijman, berarti orang bebas yang dikonotasikan negatif untuk menyebut para buaya Senen. Meskipun, preman kala itu disimbolkan sebagai unsur perlawanan terhadap penjajah Belanda.

“Pasar Senen tidak lepas dari cerita Nyai Dasima. Warna yang diwariskan Nyai Dasima serta keberadaan preman mempertahankan ciri khas Senen itu sendiri,” kata Rizal kepada Okezone. Tokoh preman yang paling tersohor di kawasan Senen kala itu adalah Sapi’ie alias Bang Pi’ie.

Meski sangar, pada akhirnya Bang Pi’ie taubat dan mengajak preman-preman Senen untuk kembali ke jalan yang benar. Bang Pi’ie juga sempat mendapatkan penghargaan sebagai Menteri Keamanan Jakarta dari Gubernur Ali Sadikin.

Selain preman, kawasan ini menjadi tempat berkumpul para Seniman pada awal tahun 1950-an. Nama-nama besar seperti Chairil Anwar, Soekarno M Noor, Dalasi Syamsuar, Dahlan Arpandi, dan Ajip Rosidi, kongkow di warung-warung kopi di daerah Senen. Bahkan, cikal bakal kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, juga berasal dari tongkrongan Senen.

Pasar Subuh hingga Bioskop Senen

Dari segi bangunan, Pasar Senen yang sudah ada sejak tiga abad lalu itu tidak bisa dipisahkan dari budaya Tionghoa. Toko-toko dan bangunan di sini hampir semuanya berarsitektur China. Sayang, cagar budaya itu dibongkar oleh Gubernur Ali Sadikin saat akan meremajakan Senen.

Bang Ali lantas menjadikan kawasan Senen sebagai pusat perekonomian yang terdiri dari pasar kue subuh, pasar tradisional, pasar pakaian, dan bursa buku murah Kwitang. Pada perkembangannya, kemudian berdiri Pusat Grosir Senen Jaya, pasar modern yang terhubung dengan mal Atrium Senen.

Meski memiliki pasar modern, pasar tradisional tetap tidak disingkirkan. Termasuk, bursa pakaian bekas (Proyek Senen). Baju-baju yang sebagian merupakan sisa ekspor atau bahan gagal (reject) juga bekas pakai ini sebagian besar berasal dari negeri ginseng, Korea.

Pasar Subuh juga tetap jadi primadona. Ribuan pembeli --kebanyakan terkulak kue-- dari berbagai daerah di Jakarta akan berduyun-duyun menyerbu Pasar Subuh. Pelataran depan proyek Senen sesak dipenuhi lapak-lapak kue hingga ramai sejak tengah malam hingga Subuh menjelang.

Selain pusat ekonomi, Senen juga menjadi sentra hiburan dengan hadirnya bioskop 'Planet Senen' yang masih berdiri hingga saat ini. Meski "tergopoh" Planet Senen masih beroperasi dengan dua Studio. Studio 1 bertempat di lantai satu dengan tayangan film-film usang berkarcis Rp5.000. Di Studio 2 diputar film-film lumayan baru, meski tidak sama masa tayangnya dengan bioskop-bioskop kenamaan. Pengunjung Studio ini dibanderol Rp6.000.

(ded)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • kampung kite

      Sejarah Jembatan Lima

      KAMPUNG Jembatan Lima (kini Kelurahan) berada di wilayah Kecamatan Tambora, Kotamadya Jakarta Barat. Asal usul Jembatan Lima merujuk pada lima jembatan yang ada di daerah ini.

    • kampung kite

      Orang Arab di Kampung Krukut

      KAMPUNG Krukut (kini kelurahan) berada di kecamatan Taman Sari, Kotamadya Jakarta Barat. Daerah ini berbatasan dengan Kelurahan Mahpar (di Jalan Gajah Mada), kelurahan Keagungan (di Jalan Kerajinan), Kelurahan Tanah Sereal (di Jalan Tabib III), dan Kelurahan Petojo (Jalan KH Zainal Arifin). Lantas kenapa dinamakan Krukut?

    • kampung kite

      Pasar Boplo & Cikal Bakal Kawasan Elit Menteng

      BOPLO lebih dikenal sebagai nama pasar tradisional di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Pasar ini termasuk ramai pada dekade 1970-an lantaran berdiri di dekat pemukiman elit Menteng.

    Baca Juga

    Pimpinan DPR Ajak KIH Duduk Bersama