Dua Banser Dibacok Pendekar SHT, GP Ansor Meradang

|

Ketua GP Ansor Jawa Timur Alfa Isnaini (Foto: Dok Sindo)

Dua Banser Dibacok Pendekar SHT, GP Ansor Meradang

TULUNGAGUNG - Dua anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, diserang ratusan pemuda beratribut perguruan silat Setia Hati Terate (SHT).

 

GP Ansor wilayah Jawa Timur dan PCNU Kabupaten Tulungagung mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas sekaligus meminta menghukum pelaku seberat-beratnya. Sebab, tindakan brutal para pendekar tersebut tidak hanya melukai dua anggota banser, tapi juga merobohkan dan menginjak-injak papan nama Kantor Ranting Nahdatul Ulama (NU).

 

“Penyerangan dan perusakan ini bukan perbuatan kriminal biasa. Tapi sudah mengarah kepada pelecehan organisasi Nahdatul Ulama,” tegas  Ketua GP Ansor Jawa Timur Alfa Isnaini kepada wartawan.

 

Peristiwa penyerangan terjadi pada Minggu 27 Mei 2012 sore di Kantor Ranting NU Desa Wonokromo, Kecamatan Gondang. Dua anggota Banser yang disabet parang adalah Brilian Kusuma Adi (18) dan Moh Rizal Saputra (15).

 

Adi menderita luka bacok pada punggung. Pemuda asal Desa/Kecamatan Kauman ini terpaksa mendapat tujuh jahitan. Sedangkan Rizal mengalami luka pada bagian pantat dan terpaksa mendapat sembilan jahitan. Saat penyerangan, keduanya mengenakan seragam Banser.  Sebab usai melakukan acara jalan sehat dalam rangka memperingati Harlah NU ke-89. Akibat peristiwa tersebut, hari ini seluruh anggota Ansor dan Banser langsung berkumpul di Kantor PCNU Tulungagung.

 

Tidak hanya dari wilayah Tulungagung. Perwakilan Banser dari daerah sekitar Tulungagung  juga berdatangan. Di antaranya Kediri, Madiun, Nganjuk, Trenggalek, dan Blitar. Belum lagi pernyataan sikap melalui pesan pendek (SMS) dan BlackBerry Messenger dari Ansor dan Banser wilayah  Jombang, Tapal Kuda, dan Madura. Mereka siap mendatangkan pasukan jika diperlukan.

 

Bahkan sejumlah anggota Banser sudah bersiap melakukan aksi balasan termasuk  sweeping kepada warga perguruan SHT di Tulungagung. Untungnya tindakan yang bisa menjurus ke perbuatan brutal tersebut berhasil diredam.

 

“Faktanya seluruh sahabat Ansor dan Banser di Jawa Timur tidak terima.  Jika polisi tidak mampu menyelesaikan masalah ini secara adil dan transparan, jangan salahkan kami jika mengambil tindakan sendiri,” ancam Alfa.

 

Di depan seluruh pengurus PCNU dan sejumlah Kiai, serta perwakilan Polres Tulungagung, Alfa yang juga mantan Ketua DPC PKB Tulungagung pro Gus Dur itu menegaskan pihaknya akan mengawal permasalahan ini hingga tuntas. Selama polisi bertindak tegas, pihaknya menjamin tidak akan tindakan balasan dari Ansor maupun Banser.  “Kami tidak ingin melihat karena ada anggota polisi yang jadi anggota SHT kemudian tidak menindak tegas para pelaku. Tidak ada deadline waktu, namun kami meminta secepatnya kasus selesai, “tegasnya.

 

Hari ini juga Alfa mengaku diminta terbang ke Jakarta untuk menjelaskan permasalahan kepada Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid. Hal senada disampaikan Ketua Tanfidziah PCNU Tulungagung, Abdul Hakim Mustofa.

 

Ia mengibaratkan NU sebagai sarang lebah. Jika diganggu tentu tidak akan tinggal diam. Kendati demikian, dalam kasus ini  PCNU mengimbau GP Ansor, Banser, Pagar Nusa,  IPNU, PMII dan santri pondok pesantren untuk menahan diri.

 

“Dan mengingat peristiwa kekerasan yang dilakukan anggota SHT bukan pertama kalinya, kami juga menyurati PBNU di Jakarta untuk membawa perguruan SHT ke ranah hukum,” ujarnya.

 

Kabag Ops Polres Tulungagung Komisaris Polisi Subagyo yang berada di Kantor PCNU berjanji akan mengusut tuntas kasus ini. Saat ini polisi telah menetapkan dua orang sebagai tersangka dan beberapa orang lainya diperiksa sebagai saksi. “Untuk motifnya (penyerangan) apa kita masih mendalami. Yang pasti semua yang bersalah akan kita tindak tegas dan transparan,” ujarnya.

 

Keterangan berbeda disampaikan Wakapolres Tulungagung Kompol Wiyogo Pamungkas. Menurut Wiyogo, polisi sudah menetapkan tiga tersangka. Yaitu Ali Habib (18), warga Desa Jarakan, Kecamatan Gondang, Suryanto (18), warga Desa Mojoarum, Kecamatan Gondang, dan  Sando (19), warga Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo.

 

Ketiganya berperan sebagai perusak, yakni melempari  serta merobohkan papan nama Kantor Ranting NU Wonokromo. “Satu pelaku yang berperan sebagai pembacok masih buron. Dan saat ini dalam pengejaran petugas,” ujarnya.

 

Wiyogo menegaskan bahwa motif penyerangan ini murni kekerasan biasa. Tidak ada muatan lain yang menungganginya. Hal senada disampaikan Sekretaris perguruan silat SHT Cabang Tulungagung  Zaini Pasha. Bahwa kekerasan yang terjadi berawal dari gesekan antara pendekar SHT dengan pesilat Pagar Nusa (PN) di sekitar alun-alun Kota Tulungagung.  Dari informasi yang diperolehnya, sebelum terjadi penyerangan, pagi itu  sekelompok pesilat PN berselisih dengan pendekar SHT.

 

“Dan ketika menyerang balik, mereka (pendekar SHT) tidak tahu bahwa itu Kantor Ranting NU. Yang ada dibenaknya adalah melampiaskan kekesalan,” ujarnya.

 

Kendati demikian, secara organisasi, kata Zaini SHT tidak akan melakukan pembelaan. Bahkan pihaknya menyebut para pelaku sebagai oknum yang menyimpangi tujuan  organisasi SHT.

 

“Kita serahkan sepenuhnya ke ranah hukum. Kita juga melarang keras anggota SHT untuk melakukan tindak kekerasan. Namun, karena anggota kami banyak, tentu masih saja ada anggota yang nakal,” terangnya.

(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Ombudsman: 'Kartu Sakti' Jokowi Pemborosan