Ritual Zikir Tulak Bala agar Tangkapan Ikan Melimpah

|

Ritual ratik tolak bala

Ritual Zikir Tulak Bala agar Tangkapan Ikan Melimpah

PASAMAN BARAT - Warga Jorong Pondok, Nagari Sasak, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, tak kunjung mendapat hasil tangkapan ikan saat melaut.

Biasanya sehari warga berpenghasilan Rp500 ribu sampai Rp1 juta. Kini hanya dapat Rp100 ribu sampai Rp200 ribu, bahkan tidak ada sama sekali.

“Warga kami di Jorong Pondok mengalami penurunan hasil tangkapan. Biasanya sekali turun kelaut bisa mendapat hasil Rp500 ribu sampai Rp1 juta itu sudah pendapatan bersih,” kata Wali Nagari Sasak, Arman.

Melihat kondisi itu, tokoh masyarakat, pemuda, dan agama melakukan rapat bersama untuk melakukan tradisi ritual Ratik Tulak Bala, tujuannya meminta kepada Tuhan agar diberikan rezeki.

Mereka juga menentukan hari gelaran ritual yang tepat. Ratik Tulak Bala terdiri dari tiga kata, ratik artinya berzikir, tulak artinya menolak, bala berarti bencana, ratik tulak bala artinya berzikir untuk menolak bencana.

Siang hari sekira pukul 13.00 WIB, tradisi ritual Ratik Tulak Bala dimulai. Bahtiar (61) tokoh masyarakat Jorong Pondok, menuturkan awalnya dibentuk dua kelompok, satu di Masjid Nurul Huda yang terletak di bagian utara Jorong Pondok dan Masjid Nurul Hidayah bagian selatan Jorong Pondok.

Ratusan warga melakukan zikir dan tahlil di dalam masjid kemudian dilanjutkan keliling kampung diikuti ustaz dan warga. Saat keliling kampung zikir terus dilantunkan. Lalu dua kelompok itu berjalan kaki sekira 500 meter dan bertemu di Muaro Merdeka.

Semakin lama, suasana zikir terasa lebih khidmat membuat warga larut dalam suasana khusyuk.

“Sambil berjalan warga membacakan ‘Laa Ilaaha Illallah’ berulang-ulang kali,” kata Bahtiar.

Lanjut Bahtiar, setelah kedua kelompok bertemu, mereka akan duduk bersama melakukan tahlil. Salah seorang melantunkan azan. Setelah azan, Katik Kazirin (tokoh agama) memberi kode tepuk menandai tahlil telah selesai, kemudian dilanjut baca doa.

Sambil berderai air mata sambil memohon kepada Tuhan untuk memberikan rejeki dan mejauhkan bala bencana.

Masyarakat kemudian berkumpul dan menyantap makan bajamba (bersama). Hidangan telah disediakan ibu-ibu di lokasi pertemuan yang terletak di Muaro Merdeka. Menu yang disajikan adalah gulai sabo-sabo. Gulai ini berisi ikan kecil hasil pukat pantai oleh masyarakat setempat ditambah dengan gulai kambing.

Kemudian, lanjut Bahtiar, diadakan penyiraman pantai. Air yang disirami itu telah didoakan ulama setempat. Banyak airnya satu ember yang diisi jeruk purut yang diiris.

“Biasanya air yang bercampur dengan jeruk purut itu didoakan oleh Buya H Khatib Yunin, tokoh agama di sini, kemudian air itu kami siram di pantai mulai dari perbatasan Jorong Pondok bagian utara sampai selatan. Panjangnya mungkin empat kilometer kemudian kami tutup dengan doa,” tuturnya.

Keesokan harinya aktivitas laut kembali dilakukan dan hasilnya lebih baik. “Tak hanya meminta kepada Allah rezeki, bala bencana juga kita harapkan tidak datang,” ujarnya.

Jorong Pondok dihuni 607 kepala keluarga yang mendiami 567 rumah. Jumlah total penduduk mencapai 2.564 jiwa. Sebanyak 50 persen masyarakatnya menamatkan SMP, 25 persen berpendidikan SMA, 15 persen tamat SD, dan 10 persen sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Secara ekonomi, 90 persen warganya menjadi nelayan dan 10 persen petani. Selebihnya PNS dan wiraswasta. Di daerah tersebut ada 45 unik boat tempel yang dipakai untuk melaut, 100 unit perahu lore, dan tujuh unit pukat tepi.

Meski demikian kondisi daerah itu rawan bencana, bahkan permukiman warga lebih rendah dari laut, yakni sekira 0,5 meter. Yang menyelematkan dari ancaman rob hanya bibir pantai.

Pada 2010 saat terjadi banjir, mereka mengungsi di pantai. Selain banjir, gempa dan tsunami juga mengintai daerah ini. Apalagi kawasan dataran tinggi bukit cukup jauh, yakni 10 kilometer.

(ton)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Etalase

      "Munir" Tetap Suarakan Keadilan

      Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

    • Etalase

      Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

      Gizi buruk dialami sejumlah anak dari pengungsi korban tsunami Mentawai. Minimnya asupan makanan bergizi serta lingkungan yang kotor turut berkontribusi membuat anak-anak tumbuh secara tidak normal.

    • Etalase

      Yadnya Kasada di Mata Wong Tengger

      Rela bolos sekolah serta rela menunda atau meninggalkan pekerjaan demi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Lantas, apa itu Yadnya Kasada di mata orang Tengger?

    • Etalase

      Istimewanya Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

      Yadnya Kasada termasuk upacara yang istimewa bagi warga Tengger karena diselenggarakan di Gunung Bromo. Dalam upacara tersebut juga diadakan ujian dan pengkuhan dukun-dukun baru.

    Baca Juga

    Orangtua Pelaku Bullying Berharap Pekerjaan dari Jokowi