PTN dan PTS : Saudara atau Lawan di Negeri Ini?

|

Dominikus Daud Wuring (Foto: dok. pribadi)

PTN dan PTS : Saudara atau Lawan di Negeri Ini?

PARADIGMA dan interpretasi masyarakat Indonesia secara komprehensif - walau tidak bermaksud untuk mengeneralisasikan - memandang perguruan tinggi negeri (PTN) lebih baik dari perguruan tinggi swasta (PTS), baik itu dilihat dari sisi kualitas pendidikan maupun perbandingan biaya perkuliahan. Tentu hal ini menjadi faktor yang fundamental ketika kita memilih perguruan tinggi. Memang harus diakui, kualitas pendidikan dan biaya menjadi prioritas dalam pemilihan kampus, apakah PTN atau PTS yang memenuhi syarat. Namun paradigma tersebut menciptakan suatu persepsi di masyarakat bahwa PTN lebih baik dari PTS. Apa benar demikian adanya?  

Promosi, baik langsung oleh perguruan tinggi maupun tidak langsung oleh masyarakat, menciptakan suatu paradigma dan interpretasi pada masyarakat bahwa promosi tersebut benar adanya. “Kebenaran” tersebut jugalah yang terkadang dibicarakan di kantin-kantin sekolah, di lingkungan keluarga, dan masyarakat. Tentu hal ini baik, karena informasi pada setiap PTN dan PTS dapat diketahui oleh semua lapisan sosial. Namun masyarakat yang cerdas dapat menyaring informasi tersebut agar tidak menjadi batu sandungan dalam pemilihan perguruan tinggi yang tepat demi masa depan anaknya.

 

Di Indonesia, PTN dan PTS sama-sama ingin memajukan pendidikan untuk masyarakat global melalui kegiatan-kegiatan yang menghasilkan sesuatu bagi dunia. Namun, ada beberapa hal yang perlu diluruskan dari paradigma dan interpretasi yang sudah terlajur ‘berlumut’ dan menjadi konsumsi pembicaraan di masyarakat tentang PTN dan PTS.

 

Perguruan tinggi dalam berkarya

 

Terlepas dari statusnya sebagai kampus negeri maupun swasta, hasil karya yang diukir civitas academica bagi masyarakat dapat dilihat melalui seberapa lama kampus tersebut berdiri. Semakin tua usia suatu perguruan tinggi, dapat dipastikan kualitasnya pyn semakin baik. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan pengalaman perguruan tinggi dalam memberikan bekal pendidikan dan kemampuan kepada para mahasiswanya agar dapat berguna bagi masyarakat di berbagai lapisan sosial.

 

Kegiatan dan kemitraan perguruan tinggi

 

Poin selanjutnya adalah kegiatan di luar perguruan tinggi. Kegiatan ekstensif suatu perguruan tinggi terhadap lingkungan masyarakat dan pendidikan haruslah suatu yang faktual. Tentu saja kegiatan tersebut terintegrasi dan bermitra dengan berbagai macam pihak agar akademisi dapat terarah dalam melakukan kegiatan nyata di masyarakat. Kemudian, jika dia sudah selesai menempuh studi, dia akan mengetahui mitra kampus mana yang menyediakan lowongan pekerjaan. Sementara bagi pihak mitra kampus, dapat mengetahui kualitas akademisi.

 

Lulusan suatu perguruan tinggi

 

Apakah perusahaan menyeleksi calon pegawainya berdasarkan latar belakang pendidikan mereka, yakni kuliah di PTN atau PTS? Meski memberi kontribusi penilaian dalam rekrutmen kerja, perusahaan akan memprioritaskan mereka yang merupakan pekerja keras, mempunyai keterampilan, sikap, serta kemampuan kognitif para calon karyawannya. Apa jadinya jika suatu instansi atau perusahaan hanya menerima para pekerja yang memiliki latar belakang pendidikan negeri atau swasta?.

 

Perguruan tinggi tentu saja bersaing untuk mencetak para akademisi yang berkualitas pada aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Hal ini dapat dilihat pada jumlah lulusan yang diterima pada suatu pekerjaan sesuai bidang studinya. Jadi, melihat hasil cetakan suatu kampus pada pekerjaan, dapat menjadi pertimbangan yang bijaksana dalam memilih perguruan tinggi.

 

Jadi, cukup tiga poin tersebut untuk mengubah paradigma dan interpretasi masyarakat dalam memandang suatu kampus di Indonesia, khususnya dalam konteks PTN dan PTS yang telah dipandang sebagai perbedaan yang mencolok. Padahal dengan memperhatikan tiga poin di atas, kita akan melihat bahwa PTN dan PTS sama adanya. Hanya saja, mari kita kembalikan lagi ke kampus masing-masing untuk mengelola institusi mereka agar berguna bagi masyarakat di semua lapisan sosial.

 

Dominikus Daud Wuring

Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD)

STKIP Persada Khatulistiwa, Sintang

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pemerintah Suriah Terus Gempur Pemberontak