Menimbang Perguruan Tinggi

|

Arif Novianto (dok. pribadi)

Menimbang Perguruan Tinggi

TIDAK dapat dimungkiri, seiring dengan terus berkembangnya zaman, kesadaran akan pentingnya sebuah pendidikan yang baik, bermutu dan berkualitas juga semakin dirasakan oleh berbagai kalangan. Mereka pun banyak yang rela merogoh kocek dalam-dalam, hanya agar putra atau putrinya menjadi kaum terdidik, serta memiliki wawasan dan pengetahuan yang dapat menjadi bekal mereka dalam mengarungi geliat zaman.  

Masa-masa ketika para pelajar SMA mencapai titik akhir masa sekolah merupakan suatu keadaan yang sulit. Mereka dihadapkan pada beberapa pilihan, apakah akan mengarungi dunia kerja, melanjutkan studi ke perguruan tinggi, atau yang lainnya.

 

Tetapi ketika memilih untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, masalah pun tidak langsung berakhir karena pilihan lainnya harus mereka hadapi. Kampus mana yang harus mereka pilih, dan program studi apa yang akan menjadi basis pendidikan mereka nantinya. Indonesia sendiri memiliki 46 universitas negeri, enam institut negeri, dan 19 politeknik negeri. Di samping itu, juga terdapat 2.700 perguruan tinggi swasta (PTS) dengan sedikitnya 11 ribu jurusan dan program studi.

 

Pertimbangan dalam menentukan pilihan

 

Dengan demikian, kecermatan serta kejelian dalam memilih perguruan tinggi serta program studi sangatlah diperlukan, sebagai sebuah fondasi awal dalam mengarungi masa pendidikan di kampus. Selain itu, ada beberapa hal yang juga patut dipertimbangkan oleh para pelajar dalam menentukan pilihan studi.

 

Pertama, bakat serta potensi diri. Hendaknya ketika memilih perguruan tinggi serta program studi yang akan digeluti, dapat diarahkan kepada keinginan, bakat ataupun potensi yang kita miliki. Bakat, pada dasarnya adalah pembawaan dari lahir, dan potensi merupakan sebuah kelebihan yang belum tereksplorasi secara maksimal. Jika bakat dan potensi kita searah dengan program studi yang kita geluti, maka hasilnya pasti akan menjadi lebih optimal dan membuat gairah belajar juga meningkat.

 

Sebaliknya, ketika memilih program studi tidak sesuai dengan bakat dan potensi, maka yang terjadi adalah timbulnya benih-benih kebosanan, kemalasan, serta menurunnya semangat dalam belajar. Tidak jarang, kesalahan ini dapat mengarahkan seseorang pada keputusasaan. Keadaan ini sering terjadi karena minimnya informasi yang kita miliki tentang berbagai program studi, kebingungan dalam menentukan ke mana arah yang dituju, dan munculnya sikap yang “ikut-ikutan” pilihan teman atau kerabat ketika memilih program studi kuliah.

 

Kedua, kualitas dan kuantitas perguruan tinggi serta program studi yang diminati. Hal ini juga penting karena akan berhubungan dengan pemolesan dan pengasahan pengembangan intelektualitas seorang calon mahasiswa, baik itu karena kualitas sistem pendidikannya, tenaga pengajar/dosen, serta fasilitas pendukung dalam proses pembelajaran tersebut. Tetapi ketika berbicara tentang kualitas perguruan tinggi, mungkin sebagian besar masyarakat beranggapan bahwa perguruan tinggi negeri (PTN) selangkah lebih baik dibandingkan dengan perguruan tinggi swasta (PTS), baik dilihat dari segi biaya, kualitas dan kuantitasnya. Itu dapat terlihat dari besarnya jumlah pendaftar SNMPTN, yang menurut data dari Kemendikbud mencapai 540.928 peserta pada 2011 dan mengalami peningkatan pada 2012 ini.

 

Akan tetapi PTS kini pun boleh dikatakan mulai menyejajarkan diri dengan PTN. Dilihat dari segi biaya, kualitas dan kuantitasnya antara PTN dan PTS kini sudah hampir tidak ada bedanya. Kondisi itu terjadi karena sokongan kebijakan yang dijalankan oleh PTS dengan pemberian beasiswa, serta pembenahan tenaga pengajar dan infrastruktur. Hasilnya adalah semakin bersaingnya lulusan PTS dan PTN dalam berbagai hal, termasuk dalam kompetisi di dunia kerja. Hal lain yang seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam memilih perguruan tinggi dan program studi adalah akreditasi serta prospek perguruan tinggi dan program studi itu sendiri.

 

Ketiga, faktor biaya serta kemampuan keuangan yang dimiliki. Faktor  terakhir ini merupakan hal yang sulit dielakkan, karena berhubungan dengan batas kemampuan. Faktor ini jugalah yang membuat banyak bakat serta potensi besar yang putra putri bangsa terbengkalai. Kemiskinan dan terus meroketnya biaya pendidikan membuat bakat dan potensi tersebut tidak dipoles dan diasah di iklim pendidikan yang akan membuatnya berkembang.

 

Data Susenas menyebutkan, pada 2010,  61 persen anak-anak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi berasal dari keluarga kaya, sedangkan dari kalangan keluarga miskin hanya kurang dari empat persen. Data ini memperlihatkan semakin tingginya biaya untuk menempuh pendidikan telah membuat keluarga kurang mampu menjadi sulit menikmati pendidikan itu sendiri. Dengan kata lain,  hanya keluarga kayalah yang akan mampu menikmati pendidikan. Apalagi, saat ini pemerintah terkesan mengangkat dan mengedepankan liberalisasi terhadap pendidikan, yang tercermin dalam draft Rancangan Undang-Undang Pendidikan Tinggi (RUUPT) yang diajukan oleh Ditjen Dikti pada April lalu.

 

Penutup

 

Bekal yang paling penting dan utama dalam mengarungi dunia pendidikan, bukanlah dilihat dari apa perguruan tinggi serta program studinya dan berapa banyak uang sakunya; akan tetapi, seberapa besar tekad serta kemauan kita untuk benar-benar belajar demi pendidikan dan pengabdian terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

 

Arif Novianto

Mahasiswa Manjemen dan Kebijakan Publik FISIPOL UGM 2010

Staf di divisi Kajian & Kebijakan Publik GAMAPI 2012

Staffdi Departemen Kajian Strategis BEM KM UGM 2012

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Belasan Rumah di Belakang Tamini Square Terbakar