Aroma Soekarno di Gedung Indonesia Menggugat

|

Lukisan hitam-putih Soekarno di GIM Bandung (Foto: Okezone/Iman Herdiana)

Aroma Soekarno di Gedung Indonesia Menggugat

BANDUNG - Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung menjadi saksi bisu bagaimana perjuangan Presiden RI pertama sekaligus Proklamator kemerdekaan Soekarno. Di gedung itu, Soekarno disidang Belanda dan dalam sidang itu pula Putra Sang Fajar justru menggugat Belanda.

 

Memeringati peringatan kelahiran Bung Karno ke-111, suasana gedung yang pada zaman Belanda disebut Landraad itu terasa begitu kental dengan segala hal beraroma Sang Proklamator.

Pasalnya, gedung yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan itu menjadi tempat pameran tunggal seorang pelukis spesialis figur hitam putih, Suherman.

Pada pameran bertema “111 Tahun Soekarno dalam Hitam dan Putih” itu pria yang akrab disapa Pahe itu menyajikan 11 lukisan Soekarno berukuran besar, rata-rata ukuran setiap kanvas hampir 150 sentimeter.

Sebelas lukisan yang dipasang mencerminkan perjalanan sejarah hidup Bung Karno, mulai dari lukisan Soekarno saat baru lulus dari Institut Teknologi Bandung (ITB), perjuangan Soekarno di masa prakemerdekaan, lukisan Soekarno dengan konteks sidang tuduhan makar oleh Pemerintah Kolonial Belanda, hingga lukisan menjelang akhir hayatnya.

Salah satu lukisan dibuat di GIM, yakni sosok Soekarno yang berdiri tegak mengenakan stelan formal militer, tangan kirinya memegang tongkat komando, wajahnya menghadap sedikit ke kiri dengan tatapan mata yang jauh. Di atas sosok itu ada burung elang yang terbang. Tinggi lukisan itu hampir dua meter.

Kata Pahe, burung elang tersebut simbol dari garuda. “Waktu melukis di GIM, aura yang saya tangkap adalah sebuah kharisma besar dan nilai-nilai perjuangan yang tetap hidup sampai kini. Pancasila yang berada di burung garuda mencerminkan pemikirannya yang nasionalis, tegas, dan mencintai rakyatnya,” ungkapnya.

Di setiap lukisan yang dipamerkan juga ada kutipan yang diambil dari pidato dan tulisan Soekarno. Sehingga, selain bisa mengenang sosok Bung Karno yang kharismatik, pengunjung juga bisa membaca sedikit pemikirannya.

Bahkan pengunjung seolah diajak berdialog dengan Soekarno ketika mengamati lukisan sambil membaca kutipan tersebut.

“Apakah kelemahan kita: kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita sebagai bangsa penjiplak luar negeri, kurang memercayai satu sama lain. Padahal kita ini asalnya rakyat gotong royong,” kata Bung Karno. Kutipan ini diambil Pahe dari pidato Bung Karno ketika peringatan HUT Kemerdekaan RI pada 1966.

Untuk melukis perjalanan hidup Soekarno, Pahe menyajikan lukisan hitam putih Soekarno yang mengenakan kaos oblong putih, tanpa peci yang biasa dikenakannya, sehingga rambutnya tampak sudah menipis. Tatapan mata Soekarno di lukisan ini tampak kosong, wajahnya banyak terdapat kerutan.

Saat melukis masa tua Soekarno, kata Pahe, dirinya merasakan masuk dalam kehidupan yang pedih dan kecewa. Pahe berusaha mencari kutipan Soekarno yang paling tepat untuk mendampingi lukisan tersebut, yakni “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tetapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.

“Karena Bung Karno kan lengsernya bukan biasa, tapi dilengserkan,” ucapnya.

(ton)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Etalase

      "Munir" Tetap Suarakan Keadilan

      Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

    • Etalase

      Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

      Gizi buruk dialami sejumlah anak dari pengungsi korban tsunami Mentawai. Minimnya asupan makanan bergizi serta lingkungan yang kotor turut berkontribusi membuat anak-anak tumbuh secara tidak normal.

    • Etalase

      Yadnya Kasada di Mata Wong Tengger

      Rela bolos sekolah serta rela menunda atau meninggalkan pekerjaan demi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Lantas, apa itu Yadnya Kasada di mata orang Tengger?

    • Etalase

      Istimewanya Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

      Yadnya Kasada termasuk upacara yang istimewa bagi warga Tengger karena diselenggarakan di Gunung Bromo. Dalam upacara tersebut juga diadakan ujian dan pengkuhan dukun-dukun baru.

    Baca Juga

    SDA Yakin Muktamar Jakarta Sah