Sahabat yang Merindukan Panji

Ilustrasi (Gelar/Okezone)

Sahabat yang Merindukan Panji
“Dia itu ya pakai blankon tekes, pake kain sebatas lutut. Dia kadang membawa keris di belakang pinggangnya. Ke mana-mana, Panji selalu disertai pengiringnya. Pengawal yang berperawakan tinggi besar dengan rambut keriting, bernama Brajanata. Ada juga pengawalnya yang pendek, gemuk, dengan rambut dikuncir ke atas, dialah Prasanta.

Panji itu sifatnya luhur, berani, pemurah, setia dan penuh cinta kasih,” kata Agus teman saya menirukan dongeng dari kakeknya dahulu.

Agus masih sangat terkesan dengan dongeng masa kecil itu. Baginya, bahasa tutur sebagaimana disampaikan melalui dongeng itu memang membawa imajinasi. Karena itu sejak kecil dia membayangkan seperti apa Panji Asmara Bangun, Sekartaji, Rondo Dadapan, Buto Ijo dan sebagainya. Imajinasi itu melewati bentuk visual, jagat kasat mata, yang membawa lamunan yang jauh dan tinggi.

Saya pun terpukau oleh daya ceritanya, walau kadang saya sering bingung dengan campuran bahasa Jawanya yang medhok. Setiap dia bercerita, gayanya selalu antusias dan yakin. Saya, yang tidak tahu budaya Jawa Timur pun, sering ikut yakin betapa menakjubkannya tokoh Raden Inu Kertapati sewaktu mengalahkan musuh-musuh di dalam petualangannya. Sering pula ujung mata saya tiba-tiba banjir oleh butiran bening, saat Agus menceritakan pengembaraan cinta Panji Asmarabangun. Namun terkadang jika saya perhatikan, dia sering pula melebih-lebihkan sesuatu dalam ceritanya. Misalnya saja, saat dirinya berceloteh kampungnya adalah latar cerita Enthit, salahsatu bagian dari 1001 kisah Daur Panji.

Pernah, saat kami sedang libur kuliah, Agus mengajak saya mengunjungi kampung halamannya. Menurutnya, saya harus tahu tanah leluhur dimana dongeng itu berasal. Namun waktu itu saya menolak. Alasannya sederhana, tiket Bandung-Kediri terlalu mahal buat saya.

***

Sepuluh tahun kemudian, saya menerima secarik surat. Saya agak kaget bahwa surat tersebut ternyata datang dari sahabat saya, Agus dari kampungnya. Isi surat itu menceritakan kekecewaannya terhadap warga di kampungnya. Kampung di mana ia tinggal sedang dicekam suasana sepi dan gersang. Sejak beberapa tahun ini, kampungnya seolah menjadi mati. Tidak ada lagi warga yang berduyun-duyun mengolah sawah.

Perempuannya tidak ada yang terlihat lagi mencuci di sungai. Bahkan, jasad dua tetangganya yang meninggal beberapa hari yang lalu tidak terurus karena para pemuda yang biasa menggali lubang kubur sudah pindah ke ibu kota.

Saya seolah tertegun dengan bunyi surat sahabat saya itu. Apalagi saat dia ceritakan beberapa orang warga sengaja membakar ladang tani mereka dengan membabi-buta, seolah menggambarkan upacara perpisahan dengan tanah leluhur mereka. Tanah di kampungnya menjadi tandus. Banyak tetangganya yang kini tidak betah mencari penghidupan di kampung sendiri. Mereka lebih memilih jadi migran atau TKI dan TKW.

“Semua ini bermulanya pasti karena dibakar oleh cerita dongeng Panji,” tulisnya. “Generasi muda setelah saya banyak yang menjadi linglung. Anehnya, mereka linglung karena cinta yang terlalu. Mereka terlalu merindukan sosok Panji yang ksatria itu. Bahkan, buktinya mereka terus mencari-cari sampai ke ibukota dan luar negeri. Dalam benak mereka, keberadaan Panji ternyata bukan sekadar dongeng menjelang tidur dari buyut-buyut mereka. Mereka ingin bertemu sosok Panji yang ternyata sudah amat sangat lama terpatri di lereng Gunung Penanggungan, Arjuno dan juga tertatah di Candi Penataran. Mereka beranggapan jika meninggalkan kampung maka mereka akan dapat bertemu ksatria pengembara yang dirindukan mereka itu.”

Dia terus saja bercerita panjang lebar bahwa kini bukan sosok panji yang mengembara mencari kekasihnya, Dewi Sekartaji. Justru cicit-cicitnya yang kini dilanda kembara rindu untuk bertemu sosok panji yang gemilang dalam cerita itu. Mereka tidak puas kalau sosok panji digambarkan seperti hanya dalam relief atau mulut-mulut cerita orang tua mereka.

“Malah ada sebagian tetanggaku yang beranggapan Raden Inu Kertapati itu berwajah bule. Alasannya karena cerita Panji ini banyak juga ditemukan di luar kampungnya.” lanjutnya.

“Setakat itu,” pungkas sahabat saya dalam suratnya, sudah tiga halaman penuh kertas folio saya baca namun ceritanya tentang keanehan kampungnya belum juga usai, “Tafsiran-tafsiran mereka sudah jauh dari nilai-nilai budaya kampung sendiri. Mereka sudah tidak lagi bisa membedakan yang mana fakta atau fiksi. Mereka sudah terlalu terbuai dengan obrolan fantasi seperti dalam cerita-cerita daur panji; Ande-ande Lumut, Keongmas, Cindelaras atau Golek Kencana.”

Lainnya, sahabat saya mengurai lagi, “Kunjungilah aku sekali ini saja! Tengoklah barang sebentar keadaan kampungku sekarang. Suasana yang jauh berbeda dari yang sering kuceritakan dulu sewaktu kuliah. Dulu kau sempat urung mengunjungi tanah asal kelahiranku, aku yakin kau menyesal pada waktu itu. Aku tahu kau sangat penasaran dengan topi tekes, bentuk relief, timun yang montok-montok atau wajah orang-orang yang mendapat gelar kebangsawanan.”

Memang dulu teman dekatku ini pernah menjelaskan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang mendapat gelar kebangsawanan seperti Panji atau Wira. Jadi seperti halnya nama Panji itu ialah gelaran langsung bangsawan, pangkat dalam ketentaraan atau yang setaraf dengan pangkat Wedana. Menurut Agus pula, dalam berbagai variannya, tokoh Panji ini mempunyai julukan bermacam-macam di antaranya Makaradweja, Wira Namtani, Raden Ino Kertapati dan Nusapati. Demikian pula dengan kekasihnya yang mempunyai sebutan Amahi Lara, Warastrasari, Anrang Kesari dan Galuh Candrakirana. Dari cerita Agus inilah, sewaktu kuliah dulu saya sangat ingin tahu seperti apa rupa orang-orang yang punya gelaran bangsawan ini.

Saya pikir ada benarnya juga surat kawanku ini. Bagaimana mungkin seluruh warganya rela meninggalkan kampung halamannya sendiri demi menemukan sosok yang benar-benar mirip seorang Panji yang dari kecil mereka idam-idamkan? Hal tersebut bisa saja terjadi karena para bangsawan yang hidup di zaman sekarang sudah tidak bisa memberikan perlindungan atau pengayoman seperti yang bisa diberikan oleh para bangsawan pada zaman dahulu. Warga-warga kampungnya ini mungkin sedang dilanda krisis figur sehingga mereka berbondong-bondong meninggalkan kampung. Padahal, pikir saya, justru kehausan mereka inilah yang nantinya akan menggerus kearifan lokal mereka sendiri. Bahkan, mereka bisa-bisa kehilangan identitas budaya sendiri.

Lagi-lagi, saya ikut terbawa cerita teman saya, Agus. Namun kali ini dengan versi yang berbeda. Setelah beberapa kali menghela napas, saya lanjutkan bacaan surat kawan saya yang tadi sempat terpotong oleh alam pikiran saya.

“Jadi, saya mohon jika kau berkenan dan punya luang waktu singgahlah ke tempatku, kawan,” tutupnya.

Saya membolak-balik kertas keempat yang saya baca tapi hanya sampai di situ saja isi suratnya. Saya sebenarnya agak menyayangkan kedatangan surat tersebut. Seharusnya surat yang baru pertama kali mempertemukan kami kembali semenjak berpisah di universitas dulu ini mengantarkan reuni kenangan tentang kami. Sebaliknya, surat ini malah berisikan curahan hati mengenai kekecewaannya terhadap sosok Panji yang diidolakan semenjak kecil itu.

Tiba-tiba, selembar kertas kecil meluncur dari amplop surat yang tadi saya baca. Seketika itu pula saya pungut. Ternyata tiket Bandung-Kediri pulang pergi untuk satu orang plus akomodasi. Saya sedikit senyum masam melihatnya. Mungkin menurut Agus saya akan mengulangi tolakan undangannya ke kampungnya, dengan alasan yang sama pula, tiket mahal.

***

Esoknya, saya berangkat tanpa membawa banyak bekal karena saya pikir akan sebentar saja saya berkunjung. Setelah menempuh perjalanan semalam, saya tiba di terminal kota Kediri. Usai bertanya sana-sini, perjalanan saya lanjutkan dengan menaiki minibus yang akan melintasi kampung tujuan saya. Sejurus kemudian saya diturunkan di sebuah jalan setapak. Sekelilingnya hanya bekas sawah dan ladang gersang. Tidak ada penumpang lain yang turun selain saya, sementara itu minibus tadi meneruskan perjalanan ke jalur yang lain.

Saya lihat jam tangan saya, sudah hampir Dzuhur. Saya rasakan angin tidak lagi semilir. Saya agak merenung. Ternyata apa yang disebutkan dalam surat sahabat saya itu benar. Sambil lalu, saya teruskan langkah kaki saya. Dalam benak saya, biasanya di ujung gang kampung ada tukang ojek atau semacamnya. Sayangnya, harapan saya itu tidak terkabul.

Saya sedikit linglung. Baru kali ini saya sendirian di tempat yang belum saya hafal sebelumnya. Beberapa saat kemudian, seorang petani bertelanjang dada menghampiri saya dari arah berlawanan. Seorang renta dengan sebilah parang terselip di pinggang kanannya. Dandanan yang lusuh mirip tentara zaman kerajaan yang habis diserang penyamun, seperti dalam kisah-kisah yang diceritakan Agus dulu.

“Selamat siang Den,” tegurnya.
“Apa Bapak dari kampung sini?” sapa saya kembali.
“Benar. Aden mau ke kampung Wonogiri? Mari bersama saya. Saya baru mau pulang. Habis menengok ladang”.
“Oh, kebetulan. Saya mau berkunjung ke rumahnya Agus Bimo. Bapak kenal?”
“Maaf, siapa? Boleh diulang?”

Wajah kakek itu tampak sedikit berubah. Air mukanya menjadi seolah ragu-ragu.
“Agus Bimo. Dulu dia kuliah di Bandung. Kabarnya sekarang dia mengurus ladang sayuran.”
“Iya saya tahu. Ia dulu orang yang kami senangi karena dialah kampung kami punya orang pintar yang bisa sekolah sampai kuliah. Tapi beberapa tahun lalu, ia membuat masyarakat kampung ini satu per satu hilang.”
 

Sedikit tercengang, saya lalu kaitkan penasaran saya mengenai keadaan kampung itu.
“Lalu, apa yang terjadi dengan para warga di sini.”
“Benar. Dulu warga sini makmur dan tenteram karena merasa cukup dengan apa yang diberikan alam. Kami qonaah dengan apa yang kami miliki. Semua pemuda mau pergi berladang dan pergi mencari kebutuhan sehari-hari ke hutan. Mereka berpatokan pada alam dan selalu mengingat ajaran leluhur yang terpatri dalam cerita Panji di dongeng sebelum tidur mereka. Orang-orang tidak pernah mempertanyakan seperti apa wajah sosok Panji yang menuntun perilaku hidup mereka itu. Hingga suatu saat, semenjak Agus pulang dari pengembaraannya.

Dia sering mengatakan kepada warga bahwa mengembara itu bagus karena Panji juga mengembara. Warga akhirnya merindukan negeri asing dalam cerita Agus. Selain itu kepercayaan warga mengenai Panji menjadi berubah. Orang yang sukses mendapat emas di negeri orang dapat disejajarkan dengan sosok Panji. Bahkan, mereka menjadi rindu untuk mencari istri dari seberang pengembaraan.”

Setelah itu, tidak ada lagi percakapan kami yang panjang. Kami berjalan cukup jauh. Hampir dua puluhan menit kami berjalan dari jalan utama ke kampung. Terbilang hanya beberapa orang saja yang terlihat di depan rumah di kampung itu. Di lain pandang, saya menyaksikan bekas rumah yang masih hangat terbakar. Di seberangnya, ada sekolah yang hampir tidak ada dinding di masing-masing sisinya. Sungguh pemandangan yang tragis. Sebuah kampung yang benar-benar hampir mati.

“Silakan Aden lurus saja di jalan tanah ini. Nanti ada sebuah gubuk yang dikelilingi ladang timun di sana Raden Agus Bimo tinggal.”

Saya dijajap hanya sampai sebuah jalan kecil yang sisinya penuh rumput ilalang setinggi pinggang saya. Persis seperti jalan ke kuburan, hening dan sepi. Setelah beberapa lama saya mulai melihat ladang dan gubuk yang diceritakan kakek tadi. Saya naik ke atas sebuah bendungan kecil yang ditembok sembarang. Saya berteriak sekencang-kencangnya memanggil nama sahabat saya. Tidak ada seorang pun menyahut. Saya sedikit berlari mendekati gubuk sambil menegur apakah Agus ada di rumah. Saya tengok ke kanan kiri gubuk, hanya keheningan yang didapat. Saya lihat ke langit, matahari sudah sangat terik. Ingin rasanya buru-buru disuguhi minuman segar atau buah kelapa muda yang baru diambil dari pohonnya.

Saya terus menyusuri semua pojok rumah Agus. Saya pikir Agus belum berkeluarga karena tidak ada orang lain yang menunggui rumah itu. Saya juga sempat berpikir sia-sia saja saya pergi jauh-jauh ke sini dari Bandung jika rasa kangen yang tadi sempat memuncak ketika melihat rumah Agus, menghilang karena Agus tidak ada di rumah.

Saya lalu pergi ke kebun belakang rumahnya. Mungkin saja dia sedang berkebun atau semacamnya, sekalian saya mau mengagetkannya. Dia pasti tidak menyangka saya menemuinya secepat ini.

Yang terjadi malah saya yang terkaget-kaget saat melewati kebun timun yang ada di belakang rumah Agus. Mungkin pada saat ini timun sedang panen, tetapi yang mengherankan ukuran timun itu begitu besar, sebesar kepala manusia mungkin. Saya heran mengapa berbagai sayuran itu tumbuh subur dan menyehatkan. Selain itu saya hitung ada hampir 13 jenis sayuran lain yang buahnya berbeda dari ukuran yang sering saya lihat di supermarket. Belum sempat saya terkagum-kagum dengan bentuk sayuran itu, saya lihat seorang lelaki datang tergopoh-gopoh menguak rumpun singkong pada jalan setapak.

Saya yakin itulah Agus Bimo, sahabat dekat saya semenjak kuliah. Dia memikul sekarung hasil tani di punggungnya sehingga jalannya hampir bungkuk. Saya yakin dia sedang memanen salahsatu dari ke-14 jenis tanaman pertaniannya. Dengan sedikit rusuh juga saya menghampirinya. Kemudian kami saling menatap sebentar. Dia letakkan karungnya lalu merangkul tubuh saya erat-erat.

“Apa kabar kawan, Apa kau sudah terima suratku?” tanya Agus tergesa-gesa sambil mempersilakan saya duduk di pekarangannya.
“Sudah. Tapi apa yang terjadi dengan kampungmu?”
“Lupakan dulu soal itu. Apa kau makan timun? Atau mau buah pepaya? Kau bisa petik langsung dari pohonnya. Semuanya langsung bisa dimakan.”

Lama sekali kami bercengkrama. Sampai suatu waktu kawanku mendongeng lagi tentang kisah-kisah Panji yang dulu senang sekali dia ceritakan.

“Kau tahu, bagaimana petani pada masa itu memperlakukan lahannya? Bagaimana cara mereka bercocoktanam.” Prediksi Agus, tentu pada masa itu tidak ada pupuk kimia, tak ada pestisida buatan pabrik, hanya memanfaatkan limbah dalam proses daur ulang alami. Semuanya seolah-olah diserahkan pada kekuasaan alam belaka.

Agus Bimo menyebutkan konsep pertanian dalam Budaya Panji adalah soal tantra atau kesuburan. “Jadi bagaimana memperlakukan tanah, seperti menyayangi istri dan ini hubungannya dengan konservasi alam. Budaya Panji tidak berhenti pada aspek romantika asmara,” ujarnya.

“Pada zaman dahulu konsep pertanian organik berdasarkan kearifan budaya Panji disebarluaskan dengan mudah lewat dongeng yang diwariskan lewat bahasa tutur. Peran dongeng pada masyarakat pertanian itu terbukti sangat bagus karena memperkenalkan cara-cara mulai dari memilih benih, mengolah lahan, hingga produksi pangan yang didasarkan pada prinsip-prinsip organik,” tambahnya.

Dan sekarang, semua Agus ejawantahkan di atas lahan 800 meter persegi miliknya. Berbekal warisan orang tua dan jual ijazah kuliahnya kepada seorang yang hendak melamar di ibukota, Agus dengan tangannya sendiri mengolah tanah gersang di kampung itu menjadi lahan impian. Setengah lahannya untuk sayuran, setengahnya lagi berupa tanaman padi. Semuanya dilakukan dengan cara organik. Namun, ia mengindahkan pula aspek-aspek kebaruan, seperti halnya teknologi dan ilmu pengetahuan.

“Dulu ya, saya juga sekadar tahu itu sebagai dongeng saja. Belakangan saya baru tahu dari seorang pakar seni Jawa Kuno asal Jerman, Lydia Kieven, bahwa semua itu berintikan budaya Panji,” ujar Agus. Intinya, pengaruh Budaya Panji dalam sistem pertanian Nusantara yang mengedepankan sistem organik perlu dihidupkan kembali untuk menjamin kemandirian di sektor tersebut.

“Itulah maksud saya kepada para warga, namun masing-masing punya pendapat yang berbeda. Sebagian yang muda memilih cara instan dengan pergi mengembara. Sementara kaum tua menyalahkan saya atas filosofi ini karena mereka lebih meyakini bahwa apa yang sudah digariskan dalam cerita buhun tidak boleh dicampurbaurkan dengan hal-hal yang baru di zaman sekarang,” ulasnya lagi.

Lembayung hampir memerah. Saya meminta izin untuk mencari hotel. Agus menolak, ia mempersilakan kamarnya untuk ditempati. Sambil menatap malam itu, di gubuk itu saya kembali merenung. Saya tidak menyalahkan siapa yang bertanggungjawab dengan apa yang terjadi di kampung itu. Bukan salah Agus yang ingin meluruskan cerita rakyat yang ada di kampungnya sejak turun menurun lalu. Bukan salah kakek tua yang berbeda pendapat dengan pemikiran generasi setelahnya, macam Agus. Bukan pula salah sebagian warga lain yang pergi meninggalkan kampung karena rindu kenyamanan dan sosok Panji yang sebenar-benarnya.

Sambil merebahkan pikiran, saya teringat Agus Bimo yang dahulu enerjik ketika bercerita tentang Panji. Betapa ia rindu sosok Panji. Ketika kemudian Agus Bimo dewasa, dia seolah merasa terpanggil untuk merealisasikan imajinasinya dari masa kecil itu. Saya pikir, Agus Bimolah sosok Panji yang sebenarnya. Bukan pria pencari kekasih yang hilang, dengan blankon tekes serta bersarung kain sebatas lutut dan ditemani pengawal-pengawal yang tegap.

Agus Bimo hanya seorang pencari jati diri yang akhirnya pulang ke kampung halaman setelah sekian lama menebar kisah hidupnya. Saya permainkan radio milik Agus setelahnya. Mendendang lagu Jawa yang bercerita tentang suasana kampung dan kehidupan petani. Saya teringat, salahsatu dongeng Panji terkait pertanian, Enthit. Di situ ada tembang, “Sing nandur timun mentheg-mentheg iki sapa….. enthiiit.”

Bukan hanya timun, tapi cabai, kacang panjang, dan berbagai macam sayuran serta hasil bumi lainnya yang ditanam hingga mentheg-mentheg alias gemuk, menyenangkan. Dongeng itu bahkan kini saya dengarkan berlagu menemani tidur saya di tanah impian.

Oleh: Telaga Remunggai

Penulis adalah mantan wartawan yang kini mengabdikan diri sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA Negeri 1 Nagrak Kabupaten Sukabumi. 

Beberapa Antologi Cerpen dan Puisi diterbitkan bersama penulis Online lainnya, di antaranya: Ketika Aku Halal Untukmu (Seruni Publishing: 2012), Who Am I, Lord: 5 (nulisbuku.com: 2012), Presiden untuk Presidenku (SANY Publishing: 2012), Merindu rasul dalam Sajak (Seruni Publishing: 2012). 

(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
(ded)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Motif Bunuh Diri Kades dan Keluarga Mulai Terkuak