Lelaki Bersepeda Ontel

Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)

Lelaki Bersepeda Ontel
SUNGGUH tak ada yang menyangka bila lelaki yang bersepeda ontel itu harus menanggung keputusan begitu berat. Keputusan yang sebenarnya sudah tak ada orang mau. Jika pun harus terlaksana, itu membutuhkan waktu panjang dan pertimbangan matang. Tak hanya sekadar comot dan menjatuhkan.
 
Apalagi lelaki bersepeda ontel itu begitu akrab di tengah- tengah kami, sekelompok guru yang juga sedang mengajar di satu lembaga yang sama. Terlebih dia masih naik daun dibandingkan kami yang masih itu- itu saja. Prestasinya dalam mengantar siswa dan lembaganya hingga dikenal di luar sana sangat menakjubkan.
 
Bayangkan saja, hampir semua trofi yang dijejer hampir sepanjang dua meter dengan disusun dua itu dan terpajang di atas lemari kantor adalah hasil jerih payahnya. Bila dihitung, jumlahnya tak kurang dari 30 buah. Jika dilihat dari tahun, yang terpampang terhitung sejak enam tahun lalu.
 
Sungguh dia lelaki yang luar biasa. Selalu saja menyempatkan diri untuk sekadar menyapa siswa dan juga tak henti- henti melatih mereka. Tak peduli sedang ada lomba atau tidak. Kami pun tak menghendaki sesuatu yang setragis ini terjadi. Terlebih aku teman akrabnya.
 
Lelaki itu sangat sederhana. Tak ada hari dengannya tanpa canda dan tawa. Dia pun sosok yang bijaksana. Hingga tak jarang siswa menganggapnya seorang kakak yang bisa dijadikan tempat curhat dan bermusyawarah. Bahkan di kampus, tak harus menunggu bilangan bulan atau pun tahun temannya sudah bisa dibilang berjibun.
 
Sebagai teman akrab, sudah hampir sepuluh tahun kuhabiskan waktu bersamanya. Tidak hanya di sekolah menengah, tapi hingga di bangku kuliah. Satu kelas dan satu kendaraan setiap harinya. Meski terkadang juga kami harus sendiri- sendiri karena keperluan yang berbeda. Terutama jika ada kegiatan diluar jam kuliah.
 
Jika sudah seperti itu, maka dia akan mengambil sepeda ontelnya. Dia adalah teman yang mempunyai komitmen tinggi terhadap cita-cita, meski sering disalahartikan oleh orang sekitar sebagai keegoisan. Tapi bagiku-yang sudah mengenalnya berpuluh tahun-tidak sama sekali.
 
Yang paling membuatku dan beberapa orang yang mengenalnya salut adalah keteguhan dan kekuatan cita-citanya, hingga tak jarang dia harus mengendarai ontel ke kampus demi hanya tak ingin absen dari jadwalnya latiahan mingguan di teaternya. Bahkan bila hendak pentas, seminggu penuh dia harus bolak- balik menggunakan sepeda ontel. Masih dia harus mengajar paginya. Sebuah jarak yang sebenarnya tak dekat. Sekitar 20 kilo meter dari rumahnya.
 
Berkat kegigihannya pula akhirnya buletin kampus di kelas kami bisa terbit beberapa kali, meski hanya dengan isi dan bentuk seadanya. Tapi cukuplah itu mengejutkan pihak kampus dan membuat terperangah beberapa teman di kelas yang berbeda. Bayangkan saja, kami yang masih tanpa sokongan dana dari siapa pun dalam sebulan bisa menerbitkan buletin sebanyak tiga kali. Meski yang mengisi itu-itu saja—karena memang yang lain tak ada yang bisa mengisi—tapi itu sudah mengangkat martabat kelas kami selama masih aktif kuliah. Hingga beberapa dosen selalu menyinggungnya di beberapa pertemuan dengan mahasiswa lainnya sebagai kelas kreatif yang perlu dicontoh.
 
Ah, hati berbunga- bunga. Teman akrabku satu-satunya yang selalu setia pada ontelnya telah membawa kami pada tempat yang semua mengharapkannya; dikenali kampus dan dosen.
 
Memang hal itu tidak mudah, banyak rintangan yang harus dihadapinya. Terkadang ditampik beberapa teman senior bahkan tak jarang teman seangkatan pun tak sudi membelinya. Tak bermutulah, kurang sreglah, atau bahkan yang lebih ekstrim lagi. Baru setelah sebagian besar dosen terlebih lembaga memujinya dan bahkan ada yang tak segan-segan membuat tugas dengan merujuk pada buletin kelas kami mereka berebut membeli dan hendak mengirimkan karyanya.
 
Sayang, buletin itu akhirnya kandas juga di awal perjalanan manisnya hanya karena kami telah terlebih dahulu disibukkan skripsi. Kenangan manis itu masih terus bermunculan seperti air sungai yang sedang deras airnya.
 
Entah apakah karena aku dipaksa harus berpisah atau…entahlah. Hanya saja aku memang tak bisa membendungnya untuk terus keluar dan terkadang kukisahkan kembali pada teman atau keluargaku ketika sedang ngumpul. Mereka hanya diam dan sesekali kudapati mereka menggeleng. Mungkin juga keberatan atas keputusan yang diterimanaya atau mungkin menyesalkan perbuatannya yang terkesan menyalahi kode etik lembaganya. Entahlah. “Secara pribadi sebenarnya saya enggan melepasnya.”
 
Suaranya terputus-putus. Seperti sedang memilih diksi yang bagus atau mungkin kehilangan kosa kata untuk sekadar menyampaikan pada kami. Kami hanya diam. Memaklumi apa yang sedang dialami kepala sekolah. Guncangan yang sangat hebat. Mungkin dia kecewa atas kepercayaannya yang terasa dihianati atau mungkin saja dia sedang bersedih kehilang orang yang berharga di lembaganya, entahlah.
Sunyi.
 
Kami hanya bisa menelan ludah kami yang mulai terasa kering. Saling bertatapan. Kepala sekolah masih tertunduk dalam. Seperti sedang mencari cara bagaimana melepaskan kekosongan dan kemacetan komunikasi ini. Sungguh tak biasa. “Namun keputusan tetaplah keputusan. Dia telah melanggar. Terpaksa dia harus diberhentikan.”
 
Kami masih diam. “Hanya saja seandainya tidak terlalu vulgar dan tak sampai diketahui yayasan mungkin saja ini tak perlu terjadi.”
 
Suaranya lirih hampir saja tidak terdengar. Seperti sedang berbisik pada seseorang yang sangat dekat. Tapi kami cukup jelas mendengar. Kami hanya bisa mengangguk lusuh. Membenarkan sepenuhnya kalimat yang berusan kami dengar. Wajahnya pucat pasih tapi dia tak sedang kurang tidur kurasa. “Tapi sudahlah tak perlu kita menyesali yang sudah terlewatkan.”
 
Suaranya begitu datar dan hambar. Seperti ingin menghapuskan duka mendalam yang masih berdarah dan bernanah. Lalu buru-buru dia berdiri hendak pulang. Sedang kami yang masih terdiam hanya mengikuti langkahnya dengan pandangan mata kami yang datar, setelah selesai bersalaman.
 
******
 
Memang sejak diberhentikan sebagai guru, lelaki bersepeda ontel itu tak lagi menampakkan dirinya. Jarang sekali kami melihatnya mengayuh sepeda ontelnya. Sepertinya dia hilang begitu saja ditelan tanah. Bahkan ketika aku mampir di rumahnya tak pernah kutemui kecuali hanya pintu tertutup atau ibunya yang sedang membersihkan halaman.
 
Akhirnya kabar menghilangnya lelaki yang bersepeda ontel itu menjadi desas-desus diantara kami dan beberapa tetangga sekitar. “Katanya, dia sekarang sedang menenangkan diri di sebuah tempat yang tak satu pun orang tahu. Dia memang sengaja begitu. Begitulah kabar yang kudengar dari percakapan orang-orang di pinggir jalan dekat rumahnya.”
 
Salah satu teman guruku yang memang sering lewat di jalan samping rumahnya ketika hendak pergi ke sekolah atau ke kota sepertinya juga memberikan perhatian lebih terhadap desas-desus itu. kebetulah kami bertemu disebuah warung makan yang tak jauh dari sekolah.
 
“Memangnya kapan kau berbicara dengan mereka?”
“Aku memang tidak pernah terlibat pembicaraan langsung dengan mereka, tapi aku sering mendengarnya dan memang berusaha untuk selalu mendengarnya.”
“Tapi menurut cerita yang aku dengar dia sekarang sedang bekerja untuk menghidupi istrinya.”
 
Versi Herman lain lagi. Kami hanya ternganga-nganga, terlebih aku yang sampai saat ini pun masih belum mendengar kabarnya. “Tapi menurut yang kudengar dari Bu Sri, penjual ikan, dia sedang menghindar bukan karena apa-apa. Katanya dia sedang melakukan penyelidikan secara diam-diam. Dia merasa dirinya dikeluarkan karena ada teman gurunya yang dendam. Sampai sekarang pun dia masih belum terima dan ingin segera mencari pelakunya.”
 
Mufid, teman sekelasku, yang mulai tadi sepertinya acuh dengan mengepulkan asap rokok ditemani secangkir kopinya tiba- tiba saja nyeletuk. Kabar yang sangat baru. Sampai saat ini pun kau tak mendengar apa-apa apa lagi cerita yang dikeluarkan Mufid. Kulihat teman- temanku juga sama terkejutnya. Kami terdiam beberapa detik lamanya.
 
“Memangnya kamu dapat kabar ini dari siapa Fid?” aku mencoba mendesaknya yang masih terlihat santai. Kulihat teman-teman yang lain juga mengeluarkan ekspresi yang sama denganku. Mereka mendekat. Ingin mendengarkannya berbicara lebih jelas. “Tapi aku juga tak tahu apakah ini benar atau tidak.”
 
Melihat wajah kami yang memelas penasaran, dia sepertinya sengaja bermain dengan kata-katanya yang sebenarnya terkesan membosankan. Tapi kami masih menunggu dan terus mendesaknya agar cepat mengatakan.
 
Dia masih diam. Sesekali asap rokoknya mengepul semakin pekat dengan senyum sumbing sebagai ciri khas. Jika sudah seperti ini tentunya dia sudah minta upah. Tidak besar memang, hanya sebatas rokok dan kopi. Baru setelah kubelikan yang dia minta dia kembali melanjutkan beritanya.
 
“Itu aku dapat tadi malam saat sedang di kumpulan. Kebetulan ada beberapa orang yang tak segera pulang termasuk aku. Kami berbincang-bincang soal tanaman kami di sawah. Lama kelamaan perbincangan mereka akhirnya mengarah pada satu titik. Lelaki yang bersepeda ontel itu.” “Terus siapa yang memunculkan pertama kali?”
 
“Sulit untuk mengatakannya karena sepertinya beberapa orang di antara mereka mengungkapkannya serempak. Dan mereka pun sebenarnya juga hanya kabar ke kabar. Tidak mesti juga.”
 
Dia menghentikan ceritanya sebentar. Menghisap rokoknya yang baru saja dinyalakan. Meminum kopinya yang masih mengepul. Sesekali diperbaikinya cara duduknya. Kami hanya terdiam menantikan kata selanjutnya. Jantungku berdebar ingin segera menuntaskan beritanya. Memang dia bilang tidak mesti tapi tabiatku yang sensitif dan mudah penasaran membuat semuanya menjadi runyam. Ah!
 
“Hanya yang juga mengganggu pikiranku dia katanya bilang bahwa orang yang telah mengeluarkannya sebenarnya bukan orang yang begitu jauh. Katanya mereka mendapat kabar ini dari orang yang sudah dapat dipercaya. Jadi tak mungkin bohong.” “Tak ada lagi?” aku mencoba memastikan.
 
Dia hanya menggeleng dan kemudian nyelonong pergi entah kemana. Mungkin ke sawahnya. Kami terdiam. Pikiran kami berjalan sendiri- sendiri. Sedang aku yang merasa teman dekatnya selama ini diam- diam merasa sangat ketakutan. Tubuhku gigil. Ada aroma baru yang merasuk dalam tubuhku.
 
Memang tak beralasan seandainya difikir sejernih mungkin. Tapi aku yang sensitif dan mudah penasaran meski sebenarnya tak bersalah tiba- tiba melihat beribu ancaman yang datang dan menyerangku dari berbagai arah. Sungguh serangan yang luar biasa.
 
Tubuhku masih berkeringat dingin saat kurasakan udara malam mulai memekarkan sayapnya. Saat itu semua temanku telah tak ada di sini. Mereka sudah sejak tadi pulang.
 
Gapura, 24-05-2012
 
Penulis Khairul Umam


(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)


Biodata Penulis
 
Khairul Umam, Lahir di Sumenep pada 27 Juni 1987 di sebuah desa terpencil sebelah timur laut kota, jauh dari keramaian. Mulai menginjakkan kaki di sekolah dasar sampai menengah atas di Madrasyah Nasy'atul Muta'allimin di desanya.
 
Alumnus STKIP PGRI Sumenep. Aktif menulis cerpen, puisi, dan esai bersama Komunitas Kobhung. Pernah mendirikan sanggar ancaka yang kemudian diketuainya selama dua periode (2005-2006 dan 2006-2007), pernah aktif di Sanggar Lentera selama setahu setengah (2007-2009), penasehat Forum Santri Penulis (FSP) 2009- sekarang, ketua umum Komunitas Kobhung periode 2009-2010.
 
Pada saat ini sedang menjabat sebagai divisi sastra periode 2010-2011. Cerpen dan puisinya dipublikasikan di beberapa majalah lokal dan nasional juga dipublikasikan di berbagai situs di antaranya Kompasiana, Blog, dan Facebook. Pernah mendapat juara III se-Kabupaten Sumenep dalam lomba menulis puisi (2008), mendapat juara II se Madura dalam lomba menulis cerpen di STAIN Pamekasan (2009), nominator lomba menulis cerpen se-Indonesia di STAIN Pyrwokerto, nominator dalam lomba menulis puisi mengukir cahaya ramadlan 2011, nominator dalam lomba menulis puisi Rindu Untuk Muhammad Kasih-Mu.
 
Antologi bersamanya antara lain ; antologi puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM) 2010 (puisi); antologi cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM) 2010 (cerpen); Merangkum Langit Oktober (puisi 2010); Sepasang Hati Gapura (2010); Lelaki yang Dibeli (Obsessi press, cerpen 2011); Atas Nama Bulan Yang Dicemburui Engkau (puisi 2011); Rinai Rindu Untuk Muhammad Kasih-Mu (puisi 2012); Antologi Seratus Penyair Untuk Pelacur Sanggar Gladakan Tuban (puisi 2012); dan Antologi Sastra Madura Comunity 2012.
 
Alamat                :Gapura Timur Gapura Sumenep Madura, utara PP Nasy’atul Muta'allimin
Kode pos          : 69472
Ponsel               : 087866184534
Email                 : khairulumamumam@yahoo. co.id
Blog                   : penulis-muda-khairul.blogspot.com
Facebook          : pornama moncar.

(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Putri Jokowi Terlambat Tes CPNS