Dua Tersangka Suap PON Rahasiakan Peran Gubernur Riau

Rabu, 20 Juni 2012 00:45 wib | Mustholih - Okezone

Foto: Ilustrasi Foto: Ilustrasi JAKARTA - Dua tersangka suap pembahasan Peraturan Daerah tentang Pembangunan sarana dan prasarana Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII Riau, Taufan Andoso Yakin dan Lukman Abbas, merahasiakan peran Gubernur Riau, Muhammad Rusli Zainal, dalam perkara korupsi di pembanguan yang menelan biaya Rp2 triliun tersebut. Taufan dan Lukman Abbas kompak menggelar aksi bungkam saat dicecar para juru warta soal kemungkinan Rusli Zainal terlibat di perkara tersebut.

Taufan dan Lukman Abbas meninggalkan Gedung KPK setelah azan magrib berkumandang. Mereka dijebloskan di Rumah Tahanan berbeda usai menjalani pemeriksaan lebih dari jutuh jam. Tafuan dibui di Rutan Cipinang, Jakarta Timur dan Lukman dibui di Rutan KPK.

Menurut Johan Budi, masing-masing ditahan untuk 20 hari ke depan. "Taufan diduga menerima hadiah sedangkah Lukman Abbas diduga memberi hadiah," ungkap Juru Bicara KPK, Johan Budi, di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (19/6/2012).

KPK menjerat Lukman pasal 5 Ayat 1 huruf a atau b atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 KUHP. Sedangkan Taufan dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 5 Ayat 2 atau Pasal 11 Undang-undang Tindak Pidana Korupsi.

Johan Budi mengatakan KPK akan mengembangkan kasus ini kepada adanya kemungkinan pihak-pihak lain yang terlibat. Menurut Johan Budi, suap PON Riau tidak akan berhenti hanya di Taufan dan Lukman Abbas. "Ini belum berhenti," tegas Johan.

Dugaan Rusli Zainal terlibat dalam perkara suap menguat, sejak Gubernur Riau tersebut diperiksa sebagai saksi di kasus PON. Namun, kata Rusli, ketika suap terjadi, dirinya sedang berada di Jakarta mengadakan rapat dengan Menteri Kesejahteraan Rakyat. "Saya waktu itu ada rapat di Jakarta," kata Rusli Zainal ketika itu.

Kasus dugaan korupsi PON Riau bermula dari penangkapan tujuh anggota DPRD Riau, dua pegawai Dinas Pemuda dan Olahraga Riau, dan empat pegawai swasta pada 3 April lalu. Dari pemeriksaan mereka, KPK menetapkan status tersangka terhadap dua anggota DPRD Riau, Muhammad Faisal Anwan dan Muhammad Dunhir, staf PT Pembangunan Perumahan (PP) Persero, Rahmat Syahputra dan Kepala Seksi Pengembangan Sarana dan Prasarana Dispora Riau, Eka Dharma Putra.

Mereka diduga melakukan korupsi pada pembahasan Peraturan Daerah nomor 6 tahun 2012 tentang Venue Lapangan Lembak. Belakangan, KPK juga mengendus korupsi mereka terjadi pada pembahasan Perda nomor 5 tahun 2008 tentang pelaksanaan pembangunan stadion utama untuk PON XVII.

Pada 8 Mei 2009, KPK lalu menetapkan bekas Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Riau, Lukman Abbas, dan Wakil Ketua DPRD Riau, Taufan Andoso Yakin, sebagai tersangka korupsi PON terkait Perda Nomor 6 Tahun 2010. Lukman diduga memberikan suap sementara Taufan diduga menjadi penerima suap.
(sus)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »