Biaya Kuliah Tidak Tergantung Demand

|

Ilustrasi: ist.

Biaya Kuliah Tidak Tergantung Demand

JAKARTA - Dalam ilmu ekonomi ada prinsip, harga naik ketika permintaan (demand) atas barang naik. Prinsip ini pula yang ditengarai berlaku pada "industri" pendidikan tinggi.

Tudingan itu salah satunya dialamatkan pada bidang pendidikan kedokteran. Banyak pihak menyebut, tingginya biaya pendidikan kedokteran disebabkan logika pasar. Namun, anggapan ini ditepis Rektor Universitas Diponegoro Prof. Sudharto P Hadi, MES, P.hd. Menurut Sudharto, perguruan tinggi bukanlah pasar, melainkan lembaga yang menghasilkan calon pemimpin bangsa.

"Saya sama sekali tidak setuju jika ada yang menyebut biaya Fakultas Kedokteran tinggi karena logika pasar, demand naik lalu harga naik. Perguruan tinggi bukan pasar dan bukan unit bisnis. Kampus adalah unit pendidikan," ujar Sudharto dalam keterangan tertulisnya kepada Okezone, Jumat (22/6/2012).

Sebagai lembaga pendidikan, kata Sudharto, kampus bertugas melahirkan sarjana unggul dan menghasilkan berbagai penelitian berdaya guna. Sudharto mengklaim, Undip bukan lembaga komersial. Hal ini terlihat pada jurusan Ilmu Komunikasi dan Ilmu Kedokteran. Meski keduanya merupakan jurusan favorit, Undip tidak serta merta menaikkan biaya kuliah.

Biaya kuliah di Ilmu Komunikasi, kata Sudharto, sama dengan program studi lain di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Menurutnya, yang menjadi dasar penentuan biaya kuliah adalah biaya operasional untuk memenuhi kebutuhan seorang mahasiswa menjadi sarjana, baik itu di bidang komunikasi, kedokteran, maupun bidang lainnya.

"Biaya kedokteran tinggi karena memang butuh biaya operasional cukup banyak, misalnya untuk praktikum dan laboratorium. Belum lagi masa studi di Fakultas Kedokteran cenderung lebih lama dari bidang studi lain. Tetapi, biaya ini pun sudah dihitung, minimal Rp25 juta per mahasiswa per tahun," ujar Sudharto.

Dia juga mengklaim, biaya kuliah di Undip melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun ini lebih murah dibandingkan tahun lalu. Begitu pula dengan biaya sumbangan, turun dari Rp25 juta menjadi Rp20 juta.

Jalur lainnya, yakni Ujian Mandiri (UM), memang mengutip biaya kuliah sedikit lebih mahal. "Tetapi, hal ini dimaksudkan untuk menutupi kebutuhan subsidi silang bagi mahasiswa yang diterima melalui jalur SNMPTN," tegasnya.

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Terduga Teroris Solo Mengaku sebagai Penjual Baju