facebook pixel

LIPI Buat Dua Sistem Pengisian Baterai Bus Listrik

F: Bus Listrik LIPI (Ahmad Luthfi/Okezone)

F: Bus Listrik LIPI (Ahmad Luthfi/Okezone)

JAKARTA – Masalah utama pengembangan mobil listrik di Indonesia adalah stasiun pengisian ulang baterai listrik. Sistem pengisian ulang baterai ini harus banyak tersedia bila ingin memajukan teknologi mobil listrik di Tanah Air.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai pengembang bus listrik mengaku, telah banyak melakukan pembenahan pada sistem pengisian ulang baterai listrik. Salah satunya adalah dengan mengembangkan sistem pengisian baterai dengan dua cara.

 

"Kendaraan listrik yang kami kembangkan bisa di-charge dengan dua cara, yaitu dengan quick charge dan slow charge ," ungkap peneliti LIPI Sunarto di Jakarta, Selasa (26/6/2012).

 

"Kalau sistem pengisian baterai itu tergantung dari stasiun pengisian. Kalau sistem quick charging itu hanya membutuhkan 100 kilo watt dan bisa mengisi penuh dalam 30 menit, dan membutuhkan soket yang lebih besar," urainya.

 

Sedangkan slow charging, kata Sunarto, dapat dilakukan di rumah, dengan membutuhkan listrik 1.300 watt. Dan akan memakan waktu hingga tiga sampai empai jam lama pengisian.

 

Bus hasil pengembangan LIPI ini dengan sekali pengisian baterai 500 Ampere, mampu menempuh jarak hingga 150 km. Sementara kecepatan maksimumnya mencapai 100 kilometer per jam.

 

Bus dengan kapasitas 15 penumpang ini menggunakan baterai Lithium (LifeP04). Baterai diklaim mampu menurunkan biaya operasional lebih dari 50 persen dan penurunan biaya perawatan hingga 70 persen.

(zwr)