Usman Hamid: Hilangnya Penulis Buku Lapindo File Tak Wajar

|

Buku Lapindo file (Foto: Iman H/okezone)

Usman Hamid: Hilangnya Penulis Buku Lapindo File Tak Wajar

SURABAYA- Hilangnya Ali Azhar Akbar, penulis buku berjudul 'Lapindo File: Konspirasi SBY-Bakrie?' masih menyisakan misteri. Kondisi ini tentu mengingatkan saat zaman Orde Baru, banyak aktivis yang tiba-tiba hilang tanpa diketahui kabar beritanya.

Aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Usman Hamid, mengatakan, setidaknya tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam kasus orang hilang.

"Pertama profil orang hilang itu. Kedua kegiatan terakhir orang tersebut sebelum hilang adalah faktor kunci. Ketiga kabar hilangnya seseorang harus diusut secepat mungkin, mengapa bisa demikian," kata Usman kepada Okezone, Rabu (27/6/2012).

Usman menjelaskan, dua item saja sudah bisa digunakan untuk menduga adanya ketidakwajaran atas hilangnya Ali. Menurutnya, bisa jadi orang tersebut sedang disiksa dan masih hidup. Di luar itu, aparat penegak hukum harus bertindak sigab dengan catatan-catatan itu.

Dia juga meminta kepada keluarga Ali membuat laporan resmi. Laporan tersebut bisa dilakukan kepada Kepolisian maupun lembaga lain yang berwenang, seperti Komnas HAM.

"Keluarga juga bisa memulai membuat petisi kepada pejabat pemerintah agar mencari dan menemukan nasib dan keberadaan Ali," ujarnya.

Apabila upaya keluarga menemui jalan buntu, maka bisa dilakukan dengan menggalang dukungan masyarakat. Terlebih lagi saat ini era digital bisa dilakukan melalui jejaring sosial.

"Agar info kehilangan ini bisa diketahui oleh sebanyak orang dan bisa bantu mencari tahu nasib dan keberadaannya. Saya sendiri sangat bersedia memfasilitasi keluarga untukĀ  menggalang dukungan publik sosial media melalui petisi di situs Change.org/id Indonesia. Persis seperti petisi Imas Tati dua pekan yg lalu," tukasnya.

(kem)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Suster Bayi Fadlan Jadi Tersangka, Terancam Tujuh Tahun Bui