Bermakna Baik, Nama 'Endang' Harus Dilestarikan

|

Endang Syahbenol memegang piagam Muri (Foto: Okezone/Prabowo)

Bermakna Baik, Nama 'Endang' Harus Dilestarikan
YOGYAKARTA - Komunitas Jogja Endang Club (JEC) berupaya melakukan pelestarian nama ‘Endang’. Salah satunya dengan membiayai ibu tidak mampu yang melahirkan. Namun syaratnya, setelah lahir salah satu kata di nama bayi itu diberi nama Endang.

Penggagas JEC, Endang Revolusiati Syahbenol, mengatakan, komunitas yang dibentuknya berharap nama Endang tetap eksis di tengah era globalisasi.

“Kata Ibu saya dulu, nama Endang itu merupakan anak petapa. Endang merupakan sosok perempuan yang memiliki kelakuan baik. Dia jujur, suka menolong, dan suka menabung kalau sekarang,” ucap Endang Syahbenol.

Saat ini, kata dia, jarang orangtua yang memberikan nama Endang pada putrinya. Mungkin, zaman sudah berubah sehingga Endang dianggap ketinggalan.

Karena itu, tak heran program-program komunitas ini tidak jauh-jauh dari kegiatan sosial. Para anggota JEC sepakat untuk fokus melakukan kegiatan sosial. Ini sesuai dengan visi dan misi komunitas, yakni menjadi organisasi perempuan yang unggul, peduli terhadap pendidikan, sosial, dan ekonomi masyarakat.

Keberadaan JEC diharapkan bisa memberi manfaat bagi anggota maupun masyarakat sekitar. Mereka pernah menggelar pemberian sembako yang dibungkus dengan kain blacu kepada petugas palang pintu kereta api, memberikan koran bekas untuk para pedagang di pasar tradisional untuk pembungkus dagangan, dan memberikan biaya pengobatan kepada seorang yang bernama ‘Endang’.

Pada 2008, muncul ide dari Endang Syahbenol untuk membuat rekor Muri. Niat itu langsung ditindaklanjuti dengan mendaftar ke Yayasan Muri.

Ternyata, ada beberapa syarat untuk memecahkan Muri, di antaranya, komunitas tersebut minimal harus beranggotakan 250 orang. Karena waktu itu anggota JEC masih 107, Endang Syahbenol mengajak anggota lain untuk mencari ‘Endang-Endang’ baru sebagai anggota.

Setiap anggota komunitas JEC mendapat kartu tanda anggota (KTA). Salah satu keuntungannya, mendapat diskon saat belanja barang atau jasa sesama ‘Endang’. Misalnya, saat mengurus surat ke Notaris Endang, anggota komunitas ini akan mendapat potongan biaya.

Setelah anggota Endang melebihi kuato, pada 17 Agustus 2008, komunitas JEC memecahkan rekor dengan jumlah pemilik Endang sebanyak 320 orang.
(ton)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Etalase

      "Munir" Tetap Suarakan Keadilan

      Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

    • Etalase

      Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

      Gizi buruk dialami sejumlah anak dari pengungsi korban tsunami Mentawai. Minimnya asupan makanan bergizi serta lingkungan yang kotor turut berkontribusi membuat anak-anak tumbuh secara tidak normal.

    • Etalase

      Yadnya Kasada di Mata Wong Tengger

      Rela bolos sekolah serta rela menunda atau meninggalkan pekerjaan demi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Lantas, apa itu Yadnya Kasada di mata orang Tengger?

    • Etalase

      Istimewanya Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

      Yadnya Kasada termasuk upacara yang istimewa bagi warga Tengger karena diselenggarakan di Gunung Bromo. Dalam upacara tersebut juga diadakan ujian dan pengkuhan dukun-dukun baru.

    Baca Juga

    Hermanto Dardak Dinilai Layak Jadi Menteri PU