Dokter Gigi Harus Dengarkan Suara Hati

|

Foto : UGM

Dokter Gigi Harus Dengarkan Suara Hati
JAKARTA - Gaya hidup hedonis di era globalisasi saat ini membuat para dokter gigi kesulitan untuk menegakkan etika kedokteran gigi. Bahkan, ketika menjalankan profesi bisa dipastikan para dokter gigi baru akan menghadapi situasi ketika akal susah menerima suara hati nurani.

Namun, Kepala Balai Pelatihan Kesehatan Propinsi DIY Jaka Supriadi berbagi wejangan dalam pelantikan 43 dokter gigi baru Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. "Hal tersebut wajar terjadi, namun peribahasa mengatakan adalah bisa karena biasa. Artinya, sesuatu yang sulit akan menjadi mudah bila dibiasakan. Dengan meyakini suara hati nurani adalah suara Tuhan, Insya Allah, zaman hedonis bukan lagi menjadi penyulit dalam menjalankan sumpah atau janji yang telah diucap," ungkap Supriadi, seperti dilansir dari laman UGM, Kamis (28/6/2012).

Dia menyatakan, hingga saat ini penyakit gigi atau jaringan periodontal masih menduduki 10 besar penyakit di hampir semua Puskesmas. Kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, sebanding dengan lamanya program kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas. "Semua metode pelayanan kesehatan sudah dilakukan, mulai kuratif, promotif, preventif dan rehabilitatif. Namun angka penyakit tidak cukup signifikan bergeser dari 10 besar penyakit di Pukesmas," katanya menjelaskan.

Maka, sulit mencari sumber kesalahan, apakah pada sistem kesehatan atau program kesehatan yang kurang tepat, ataukah SDM yang tidak memiliki kompetensi. Banyak spekulasi muncul menanggapi situasi tersebut, namun sebagai insan yang telah berniat mengabdi pada dunia kesehatan sekaligus anggota masyarakat perlu untuk melakukan introspeksi.

"Apa-apa saja yang sudah kita berikan pada lingkungan sekitar? Sebagai profesional kesehatan, kita semua tidak hanya dituntut untuk dapat mengimplementasikan profesi yang dimiliki secara baik dan benar, namun kita dituntut pula untuk mampu memberikan contoh kepada lingkungan sekitar kita akan pelaksanaan pola hidup bersih dan sehat," imbuhnya.

Di hadapan para dokter gigi baru, Dekan FKG UGM Iwa Sutardjo Rus Sudarso berpesan, sebelum terjun di tengah masyarakat sebagai tenaga profesional kesehatan gigi, para dokter gigi baru diharapkan selalu mengkaji dan menghayati apa-apa yang sudah diperoleh selama menempuh pendidikan di FKG UGM. Sehingga dalam memecahkan persoalan selalu didasari sikap profsional dengan pendekatan keilmuan. "Semua diaplikasikan secara baik dan penuh rasa tanggung jawab. Jangan sampai melakukan cabut gigi saja, tanpa berlandas ilmu dan penelitian yang pernah dilakukan," ujar Sutardjo.

Pada pelantikan kali ini terdapat 43 dokter gigi baru yang terdiri dari 37 dokter gigi wanita dan enam dokter gigi pria. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi sarjana kedokteran gigi diraih Fajar Kumalasari dengan nilai 3,79. Sementara IPK tertinggi klinik 4,00 diraih empat lulusan, yakni Agnis Sabati Elfina Aci, Fitri Diah Oktadewi, Diana Evikawati dan Veni Wira. Untuk penghargaan dokter gigi terbaik disandang oleh Tasya Adistya, Fransiska, dan Veni Wira.(mrg) (rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Ditinggal Pacar, Remaja Ini Nekat Ingin Akhir Hidup