Menuju Kursi DKI 1; Menuju Perubahan

|

Ida Pitalokasari (Foto: dok. pribadi)

Menuju Kursi DKI 1; Menuju Perubahan
SELAMA ini, berbagai media massa memberitakan banyak masalah di Jakarta seperti macet, banjir, sampah, kepadatan penduduk, pengangguran, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan. Belum lagi semrawutnya tata ruang, minimnya sarana transportasi publik, polusi, dan korupsi. Kita tidak boleh sekadar “pintar menghimpun” masalah, namun juga harus “cerdas menyelesaikan” masalah di Ibu Kota. Nah, tentunya kondisi ini pun membuat masyarakat Jakarta menaruh harapan kepada pemimpin baru yang akan berpentas pada panggung demokrasi Juli mendatang.  
Tugas berat pemimpin baru Jakarta adalah merekonsiliasi Jakarta. Pasalnya, masyarakat Jakarta hanya berharap satu kata pada kota Jakarta, yaitu “perubahan” ke arah yang lebih baik. Perubahan ini tentunya harus mengena di seluruh aspek kehidupan di Jakarta. Maka dari itu, untuk menciptakan perubahan, pemimpin baru harus mampu memetakan “kekuatan” dan “kelemahan” Jakarta. Cara ini akan mempermudah realisasi agenda perubahan untuk Jakarta.
 
Kekuatan Jakarta
 
Sebenarnya Jakarta kaya dengan sumber daya dan dinamika pengetahuan. Kekuatan ini belum tergarap baik karena berbagai kekurangan, seperti pemimpin yang tak berintegritas, birokrasi tak efektif, dan peraturan tidak konsisten. Potensi bisnis di Jakarta sangat tinggi dan jika dikelola dengan baik dapat menyejahterakan warganya. Orang dari berbagai etnis berkumpul di Jakarta. Kota ini bisa menjadi tempat membangun keterbukaan dan toleransi. Jakarta terbuka bagi dunia dan siap menerima temuan mutakhir meski juga rentan terhadap pengaruh buruk.
 
Bahkan, di Jakarta, Tuhan menciptakan orang Indonesia. Potensi perubahan perilaku dan perubahan politik ada di situ meski juga mengandung potensi konflik. Di Jakarta tumbuh kesadaran pelestarian lingkungan dan ide perkembangan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengabaikan kemampuan generasi mendatang memenuhi kebutuhan mereka. Sudah terbentuk gerakan politik hijau di kota ini. Kesadaran itu tumbuh dan mulai mengonsolidasi kekuatan.
 
Potensi pariwisata Jakarta tergolong besar. Ada pantai, laut, pulau, situs budaya, sentra perbelanjaan, beragam kuliner, dan seni. Peristiwa sejarah penting banyak terjadi di sini, dan itu bisa menjadi obyek wisata menarik jika dikelola dengan baik.
 
Kualitas dan Masalah
 
Kualitas Jakarta masih rendah. Tarik-menarik antara aspek konfliktualnya masih dimenangi oleh kekuatan yang menurunkan kualitas wilayah ini. Kita bisa menilainya berdasarkan dimensi kualitas tempat dari Florida (2005): diversitas, kelebihan khusus, kehidupan budaya, teknologi, talenta, kreativitas, toleransi atau keterbukaan, serta estetika mencakup arsitektur, taman dan warisan kota, lingkungan, dan keselamatan.
 
Kualitas diversitas Jakarta bisa digolongkan rendah karena kepadatan yang melebihi batas. Jumlah penduduk sangat tinggi (9,6 juta jiwa) dibandingkan dengan luas wilayahnya (666,33 km2). Seperti dikemukakan Slamet JP (Kompas, 16/4), rata-rata setiap individu mendapat ruang gerak terbatas: 8 x 8 m. Ranah pribadi dan ruang umum bertumpuk. Pada siang hari, Jakarta dipadati pekerja komuter dan macet adalah salah satu akibatnya.
 
Banyak lingkungan tempat tinggal yang tak memadai. Kita saksikan pinggir kali, kolong jembatan, lahan sepanjang rel kereta api, dan tempat berisiko lain menjadi tempat tinggal. Pemanfaatan ruang pun tergolong rendah, kebanyakan didominasi aktivitas ekonomi. Ruang untuk bermain, olahraga, belajar, dan aktivitas lain sangat minim. Akibatnya, hampir tak ada tempat khusus yang luas dan segar di Jakarta. Tempat olahraga dan rekreasi, restoran, serta ruang (semi) publik kurang dan tak tersebar merata.
 
Kualitas budaya di Jakarta juga rendah, padahal orang kreatif banyak tinggal di Jakarta. Tempat kegiatan seni dan budaya yang terbuka untuk umum bisa dihitung pakai jari. Itu pun pengunjung harus bayar mahal. Polusi jadi masalah besar di Jakarta. Selain banjir rutin yang menyusahkan dan mengotori Jakarta (meski sudah berkurang luasnya tiga tahun terakhir), udara, air, dan tanah tercemar. Akibatnya, kualitas lingkungan sangat rendah.
 
Keberlanjutan aset lingkungan alamiah terancam dan kualitas lingkungan hidup memburuk. Air tanah di Jakarta makin sedikit dan kenaikan air laut terus bertambah. Studi para ahli Belanda memprediksi, jika tak ditangani segera, setengah Jakarta bisa tenggelam pada 2025. Meski pada 2011 ada penurunan kejahatan 9,51 persen dibandingkan dengan 2010, tingkat kriminalitas di Jakarta tergolong tinggi. Jakarta pun dipersepsi makin menakutkan oleh warga.
 
Di banyak dimensi, kualitas Jakarta rendah, bahkan beberapa buruk. Hal ini memerlukan pemikiran dan penanganan khusus yang sungguh-sungguh. Ditambah lagi, sebagai ibu kota negara, pengelolaan Jakarta jadi lebih kompleks karena pemerintah pusat punya wewenang ikut mengelola. Pertentangan kepentingan dan kebijakan antara pemerintah pusat dan Pemprov DKI tak jarang terjadi. Saling lempar tanggung jawab dalam mengatasi masalah yang ada memperlambat dan menurunkan kinerja. Lobi politik pemprov terhadap pemerintah pusat membutuhkan kompetensi tersendiri.
 
Perubahan untuk Jakarta
 
Perubahan dan revolusi sangat dibutuhkan Jakarta. Maka dari itu, pemimpin Jakarta perlu punya kompetensi dapat diandalkan, integritas, akuntabilitas, fleksibilitas, diversitas, penyelesaian masalah, interpersonal, komunikasi, dan kemampuan bekerjasama. Lebih khusus lagi, diperlukan kompetensi fokus kepada warga, yaitu kemampuan dan kepedulian untuk memenuhi kebutuhan warga dengan cara yang memuaskan.
 
Gubernur DKI Jakarta harus orang yang dapat menampilkan kepedulian terhadap pencapaian dan peningkatan hasil, penuh gairah untuk meningkatkan penyajian layanan, dan berkomitmen terus-menerus melakukan perbaikan. Inisiatif, kemauan untuk terus belajar, peka terhadap global, dan berani mengambil risiko menjadi syarat bagi gubernur yang kompeten.
 
Mengelola Jakarta adalah pekerjaan amat pelik. Tuntutan terhadap orang yang mau menjadi gubernur sangat tinggi. Orang yang mau memimpin Jakarta harus punya semua kompetensi itu. Tak kalah pentingnya, dia harus orang yang mencintai Jakarta dan warganya: orang yang mau mengorbankan dirinya untuk yang dicintai. Wallahu a’lam bisshawab.
 
Ida Pitalokasari
Aktivis Himpunan Mahasiswa Islam IAIN Walisongo Semarang
Sekretaris Direktur HI Study Centre Semarang
 
(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    BJ Habibie Dirawat di RSPAD Gatot Subroto