Perlu Pemimpin "Visioner"

Hamidulloh Ibda (Foto: dok. pribadi)

Perlu Pemimpin
PEMILIHAN Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta 11 Juli 2012 merupakan momentum penting untuk perbaikan Ibu Kota lima tahun ke depan. Untuk itu, semua harapan warga DKI digantungkan kepada siapa pun yang akan menjadi pemimpin terpilih. Pasalnya, ibarat kapal yang sedang berlayar, “mau dibawa ke mana” kapal tersebut ada di tangan seorang nahkoda kapal, begitu pula dengan kota Jakarta. Jika pemimpinya visioner dan mampu mengemban amanah, maka Jakarta akan maju. Namun jika sebaliknya, maka Jakarta akan menjadi kota yang tertinggal. Padahal, Jakarta merupakan kiblat bagi kota di seluruh Indonesia.  
Perlu diketahui, keberhasilan dan kemajuan Jakarta sangat bergantung pada perilaku pemimpin dan warganya. Pemimpin tentu punya pengaruh besar, tetapi tanpa relasi memadai antara pemimpin dan pengikutnya, masyarakat tak dapat berkembang menjadi lebih baik. Untuk memahami kepemimpinan yang sebaiknya dijalankan di Jakarta, perlu pemahaman perilaku politik warga Jakarta.
 
Robert Kelley (1992) menjelaskan, followership (kepengikutan) menggunakan dua dimensi kualitas pengikut: independen dan berpikir kritis versus dependen dan berpikir tidak kritis; tingkah laku aktif versus pasif. Orang independen dan pemikir kritis berpikir lebih tajam, dalam, dan luas. Mereka tak terpaku pada panduan dan prosedur, menyadari dampak tindakan, berkehendak kreatif dan inovatif, serta menawarkan kritik konstruktif.
 
Memotong Pragmatisme
 
Diakui atau tidak, kebanyakan warga Jakarta tergolong masyarakat berkarakter pragmatis. Sebetulnya, masyarakat pragmatis memiliki kelebihan, tetapi tergantung situasi. Orang tipe ini sedikit mirip ”politikus”, tergantung angin dan menggunakan gaya kerja apa pun demi memuluskan agenda sendiri dengan risiko minimal.
 
Sisi positifnya, saat masyarakat mengalami masa sulit, jamaah yang pragmatis dapat berkontribusi karena tahu cara mempekerjakan sistem untuk menyelesaikan persoalan. Sisi negatifnya, mereka memainkan politik, aturan, dan regulasi serta melakukan penyesuaian demi keuntungan pribadi. Mereka dinilai tak mau pasang badan, mencari kemudahan, bekerja setengah-setengah, tidak antusias, dan medioker. Mereka mengikuti aturan pemerintah sejauh bermanfaat bagi mereka.
 
Sebagai jamaah pragmatis, kebanyakan warga Jakarta memilih berada di tengah jalan. Sesekali mengkritik pemerintah dengan tidak terlalu terbuka. Mereka menampilkan tugas yang diwajibkan, tetapi jarang lebih dari yang diharapkan; hidup dengan slogan, ”lebih baik selamat daripada menyesal”. Maka dari itu, hal ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemimpin baru ke depannya untuk merubah pola pikir masyarakat Jakarta yang pragmatis.
 
Tugas Pemimpin Visioner
 
Siapa pun yang terpilih dalam Pemilukada Jakarta nanti, dia harus mampu membawa perubahan dengan menjadi pemimpin visioner, yaitu pemimpin yang memiliki visi misi dan pemetaan perubahan Jakarta dengan jelas. Jika tidak visioner, maka lebih baik para calon lebih baik mundur sekarang juga. Kenapa demikian? Karena hanya pemimpin visioner yang mampu membawa perubahan.
 
Pemimpin Jakarta juga perlu membangun kepercayaan dan dapat menunjukkan adanya kesempatan, menggugah dan menginspirasi mereka dengan visi masa depan. Agar lebih efektif, pemimpin Jakarta juga perlu melibatkan masyarakat terlibat serta menyumbangkan pikiran kritis dan inovatif mereka. Jakarta yang memiliki warga dengan beragam budaya politik membutuhkan pemimpin visioner yang mampu menampilkan respek terhadap berbagai perbedaan (ras, jender, etnis, disabilitas, orientasi seksual, usia, karier, gaya, dan sebagainya).
 
Pemimpin Jakarta ke depan harus menghindar dari perilaku dan bahasa diskriminatif atau menyerang. Dia perlu meminta opini sebanyak mungkin pihak dengan perspektif berbeda, menghargai perbedaan saat membuat keputusan, serta berpegang pada kebijakan yang menentang pelecehan dan kekerasan. Gubernur DKI Jakarta harus dapat mempromosikan kerjasama di antara warga dan membuat mereka bekerja bersama untuk mencapai tujuan bersama.
 
Maka dari itu, yang perlu diperhatikan pemimpin Jakarta nanti adalah menciptakan perubahan. Pada intinya adalah perubahan Jakarta, karena hanya perubahan yang akan membawa Jakarta menjadi kota yang “bercahaya”. Perubahan itu meliputi bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, pendidikan, dan lain sebagainya. Atas permasalahan itu, pemimpin visioner menjadi jawaban tepat untuk mewujudkan perubahan di Jakarta. Semoga pemimpin Jakarta nanti mampu mengemban amanah itu. Wallahu a’lam bisshawab.
 
Hamidulloh Ibda
Direktur Eksekutif HI Study Centre Semarang,
Instruktur BPL Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Semarang Bidang KMO
(Kepemimpinan, Manajeman, Organisasi)
(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pertemuan Gagal, Hong Kong Masih Panas