Meriahnya Pawai Bantengan

|

Ilustrasi bantengan (Foto: mojokertokab.go.id)

Meriahnya Pawai Bantengan

BATU- Komunitas penari Bantengan se-Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kota Malang menggelar pawai di jalan-jalan protokol di Kota Batu, kemarin.

Pawai Tari Bantengan Nusantara itu merupakan agenda tahunan dari komunitas pecinta seni Tari Bantengan se Malang Raya.

Panitia Pawai Tari Bantengan Nusantara ke-5,Teguh Riwayanto mengatakan,Pawai Tari Bantengan tahun ini diikuti 60 grup.”Kalau dari Batu, rata-rata setiap desa/kelurahan menampilkan dua-tiga grup bantengan,” ungkap Teguh.

Menurut Teguh, sejak lima tahun terakhir Tari Bantengan menjadi sangat populer di masyarakat. Usia penarinya mulai 10-45 tahun. Tarian ini menjadi populer, lantaran gerak tarinya mudah untuk dihafalkan oleh semua lapisan masyarakat.

Kemudian daya tariknya yang lain adalah, Tari Bantengan ini sarat dengan kekuatan magis. Setiap penari yang memegang kepala banteng selalu kesetanan.

Kepala banteng yang dibawa sang penari sebenarnya terbuat dari kayu yang diukir menyerupai kepala banteng. Kemudian kedua tanduknya dibuat dari tanduk sapi.

Saat penarinya sudah lama kalap/kesetanan, maka seorang pawang akan bertugas untuk menyadarkan penarinya.

”Gamelan untuk mengiringi penari bantengan hanya terdiri dari dua gong, kendang, sama kenongtermasukjidor. Tapiadajuga yang sudah dimodifikasi dengan menambahkan orgen, gitar dan bas drum,” ucap Teguh.

Pawai Tari Bantengan Nusantara ke-5 ini mengambil start dari depan Stadion Gelora Brantas sampai depan Balai Kota Batu, di Jalan Panglima Sudirman. Tumpukan penonton akhirnya terpusat mulai Jalan Agus Salim, Alun-Alun Kota Batu sampai di depan Balai Kota Batu.

Ipung, penggiat seni Tari Bantengan menambahkan, pawai Tari Bantengan tahun ini juga disaksikan seniman luar negeri sedang melakukan kegiatan safari The Art Island Festival.

Seniman luar negeri itu yakni Bilgis Hijjas dari Malaysia, lalu, Soufiane Karim dan Stephane Mormand dari New Caledonia, Kiea Kuan Nam dari Perancis.

”Kemarin penggiat seni dari luar negeri itu kita ajak untuk mengunjungi punden/makam Mbah Sentono di Desa Oro Oro Ombo. Mereka kita ajak berdoa sekaligus kenduri dan melihat penampilan penari Bantengan di halaman punden,” sebut Ipung. Sesungguhnya kata dia, tari bantengan ini mengilustrasikan keangkaramurkaan pejabat pemerintahan.

(kem)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pimpinan DPR Ajak KIH Duduk Bersama