Mahasiswa UGM Ubah Urin Kambing Jadi Pupuk Organik

|

Foto : Pupuk cair organik dari urin kambing Ettawa karya mahasiswa UGM/UGM

Mahasiswa UGM Ubah Urin Kambing Jadi Pupuk Organik
JAKARTA - Pemanfaatan susu kambing Ettawa sudah biasa dilakukan oleh para peternak. Namun, urin kambing pun bisa disulap menjadi produk baru dengan nilai ekonomis tinggi. Ya, di tangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta urin kambing Ettawa diubah menjadi pupuk cair bernama pupuk urin organik Ettawa alias Purinowa.

Pupuk cair ini dibuat dari urin kambing peranakan Ettawa yang telah difermentasi. Diformulasi dengan bahan-bahan organik, pupuk cair ini ternyata mampu menjaga dan memelihara kesuburan tanah dan tanaman.

Sang inovator, yakni Munif Khoriunamala, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM mengatakan, ide ini muncul setelah kelompok peternak kambing Ettawa di daerah Dusun Barak I, Margoluwih, Sayegan, Sleman, mangeluhkan bau tidak sedap urin di kandang kambing hingga membuat para tetangga terganggu. Lalu, Munif bersama anggota timnya membuat ide untuk memanfaatkan urin tersebut untuk diolah menjadi pupuk organik.
 
Bagaimana caranya? Bagian bawah kandang dipasang pipa paralon berlubang. Cairan urin yang menetes dari kandang, masuk ke pipa, yang kemudian dialirkan ke dalam bak penampung kapasitas 2.000 liter. "Sementara ini, tiap bak menampung urin dari 10 ekor Ettawa. Tiap hari, rata-rata satu ekor kambing menghasilkan minimal tiga liter urin,” tutur Munif, seperti dilansir dari laman UGM, Rabu (4/7/2012).

Satu minggu sekali, urin dalam bak penampung diambil dan dipindahkan ke dalam tabung fermentasi. Namun sebelumnya dalam tabung tersebut sudah dicampur dengan bahan organik untuk mempercepat proses fermentasi. “Urin itu kita campur empon-empon (rempah-rempah), molase, dan bahan organik lainnya,” katanya menjelaskan.

Urin yang sudah dicampur bahan organik tersebut dibiarkan mengendap selama tujuh hari, supaya mendapatkan hasil fermentasi yang lebih baik. Urin fermentasi akan berwarna cokelat dan masih berbau. "Untuk menghilangkan bau amoniak, maka cairan urin fermentasi mendapatkan perlakuan aerasi dengan menggunakan pompa. Jadi baunya tidak menyengat lagi,” papar Munif.

Dosen peneliti FKH UGM Sarmin mengungkapkan, Purinowa telah diuji di laboratoirum. Diketahui, kandungan Nitrogen (N), Phospat (P) dan kalium (K) dari urin Ettawa lebih tinggi dibanding dari urin sapi dan kelinci sehingga sangat baik untuk dimanfaatkan untuk pupuk organik. “Yang kita tahu, pengalaman petani di sini setelah menggunakan Purinowa ini bisa mengurangi serangan hama,” ujar Sarmin.

Kini pupuk Purinowa, dijual dalam kemasan botol plastik satu liter. Dijual dengan harga Rp15 ribu per botol. Tiap bulan kelompok tani Dusun Barak I memproduksi sekira 80 botol. “Sekarang kita bantu pasarkan ke petani-petani dan lewat swalayan,” katanya menambahkan.

Adanya pupuk organik dari urin kambing Ettawa ini, kata Sarmin, diharapkan bisa menambah sumber penghasilan bagi peternak kambing ettawa di dusun barak I. “Ada sekira 100 ekor kambing Ettawa di dusun ini,” papar Sarmin.

Indarto (45), salah satu peternak, mengaku banyak mendapatkan manfaat dengan adanya Purinowa karena sumber penghasilan mereka tidak hanya lewat susu Ettawa tapi justru bertambah dengan memanfaatkan urin kambing. “Kalau susu, belum tentu bisa dapat satu liter sehari tiap ekornya. Kalo urin kan bisa lebih dari itu,” tutur Indarto.(mrg) (rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kondisi Kesehatan BJ Habibie Berangsur Pulih