Sujiwo Tejo Apresiasi Atlas Wali Songo

|

JAKARTA - Seniman Sujiwo Tejo memberikan apresiasi terhadap buku berjudul Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto. Menurut dia, buku ini memberikan pemahaman konprehensif tentang Islam di Nusantara.

 

"Tanpa buku ini, masa depan Islam akan sangat formal dan karakternya bukan seperti NU. Tanpa menghargai wali Allah, kita hanya menjadi pribadi mukmin, tapi bukan muhsin," ujarnya dalam acara peluncuran buku Atlas Wali Songo di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (5/7/2012).

 

Dalam kesempatan ini, Agus Sunyoto menjelaskan, proses Islamisasi di Nusantara penuh dengan sentuhan Wali Songo. Tonggak terpenting penyebaran Islam di Jawa dan Nusantara ditandai sejak abad ke-7 Masehi dan makin berkembang pesat sejak abad ke-14 Masehi dengan keberadaan Wali Songo. Sayangnya, ada sebentuk penghilangan sejarah akibat pengaruh sastra Eropa.

 

"Adalah tindakan ahistoris ketika kaum intelektual membicarakan Islam Indonesia tanpa menyertakan Wali Songo di dalamnya dengan pertimbangan beda paham dan aliran," ungkapnya.

 

Diakuinya, buku Atlas Wali Songo lahir dari sebuah keterpaksaan. Manakala dia menyimak buku Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve yang tidak menyebut satu kalimat pun tentang Wali Songo. Termasuk khazanah kekayaan budaya Islam di Jawa saat pertengahan abad ke-15 silam. Argumen yang jauh dari nilai ilmiah dituturkan pula oleh penulis Sjamsudduha dalam bukunya Walisanga Tak Pernah Ada?.

 

Dia memandang, dua penilaian tadi sebagai usaha sistematis dari golongan minoritas mengurangi peran penganut paham ahlussunah waljamaah. Padahal, secara sosiokutural-religi, penganut Wali Songo bervariasi, mulai dari kaum santri, priyayi, dan abangan.

 

Agus pun menyimpulkan, ada pula peran orang Eropa dalam literatur yang hanya memaknai sesuatu sebagai objek tunggal. Otoritas pengetahuan Eropa itu menganggap sejarah dari sekelompok wali Allah tidaklah ada.  "Kita tak bisa seterusnya mengikuti pandangan Eropa seluruhnya karena mereka terbatas memaknai kajian sejarah Nusantara yang beragam," papar Agus.

 

Sadar pentingnya makna keberadaan Wali Songo dalam dakwah Islam, Agus memulai penelitiannya dengan memadukan aspek sejarah dan arkeologi dari peninggalan jejak di situs-situs Jawa yang tersebar di pantai utara.

 

Data material berupa prasasti yang ditulis saat para Wali Songo ke sana atau beberapa saat setelah mereka meninggal disambangi oleh Agus. Dia pun menemukan bukti otentik ajaran Wali Songo tak menghilangkan nilai-nilai sosial dan aturan dalam perilaku kehidupan rakyat lokal. Ini terlihat dari pemakaian istilah lokal yang persuasif seperti sembahyang (sembah Hyang), puasa (apuwasa),  maupun pesantren.

 

"Munafik kalau peran Wali Songo disingkirkan dalam sejarah Islamisasi Nusantara dalam waktu dakwahnya yang lebih dari setengah abad karena banyak bukti histografisnya," tegas Agus.

 

Rekonstruksi syiar Islam melalui kajian histografi yang dilakukan Agus diapresiasi Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Berbagai bukti yang dipotret penulis dalam bukunya memperkuat pijkan historis Wali Songo. Sehingga publik tidak lagi terombang-ambing antara mitos dan fakta.

 

Temuan menarik dalam studi sejarah diungkapkan Kiai Said dengan pemaparan kepercayaan Kapitayan di kalangan masyarakat Jawa purba. Atau yang diberi label animisme-dinamisme oleh sejarawan Belanda. Ternyata, sebut Kiai Said, kepercayaan tauhid Kapitayan itulah yang memudahkan masyarakat Jawa dan Nusantara menerima ajaran tauhid yang dibawa Wali Songo.

 

"Kita dan Wali Songo bisa menerima ajaran Kapitayan. Sebab, ahlusunah waljamaah mengategorikan agama secara proporsional, yakni ad-din (ada bekasnya), millah (tidak diketahui siapa pembawanya), dan nihlah (ritual keagamaan)," papar Kiai Said.

 

Acungan jempol Kiai Said disematkan untuk Agus karena mampu menghadirkan Wali Songo sebagai tokoh sejarah yang layak diteladani semangat dan strategi dakwahnya. Penempatan tersebut, ujar Kiai Said, sangat proporsional lantaran Wali Songo bukanlah dewa. Tapi, kesembilan wali Allah itu manusia yang bisa bertindak obyektif menggalang kepercayaan umat untuk syiar Islam dengan menghormati agama serta kepercayaan yang ada.

 

"Para wali membawa ajaran ahlusunah waljamaah, sehingga cocok dengan kondisi bangsa yang majemuk. Mahzab ini mengajarkan mengembangkan pemahaman mendamaikan dunia keilmuan, politik, dan spiritualitas membangun peradaban Islam,"ulas Kiai Said.

 

Buku Atlas Wali Songo diterbitkan Pengurus Pusat Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama bekerjasama dengan penerbit Iiman dan Trans Pustaka.

(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Sendang Ontrowulan 'Tercemar' Akibat Ritual Seks Bebas