Jakarta dan Indonesia

|

Kalil (Foto: dok. pribadi)

Jakarta dan Indonesia
SEBAGAI warga yang tidak pernah dibesarkan oleh Jakarta, penulis cukup tahu diri untuk tidak menuliskan sesuatu yang penulis sendiri tidak ketahui secara gamblang. Sehingga dalam sekelumit tulisan ini, penulis membatasi paparan pada aspek-aspek tertentu yang memang sudah menjadi wawasan bagi kebanyakan orang tentang Jakarta.  
Berbicara soal Jakarta, mau tak mau secara tidak langsung kita turut pula membicarakan Indonesia, negara kita. Sebagai Ibukota negara sekaliber Indonesia, tentu Jakarta tak lagi “semlohai” atau “seksi” di mata publik. Tetapi lebih dari itu, Jakarta adalah magnet, manifestasi dari segala bentuk kehidupan di Indonesia, sekaligus gambaran secara umum yang mewakili Indonesia di mata dunia.
 
Jakarta menjadi magnet, sebuah daya tarik yang teramat kuat, utamanya bagi pendatang yang berasal dari daerah-daerah. Mereka berbondong-bondong, dengan asa bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik di Ibukota. Meskipun, kenyataan yang terjadi tidak selalu demikian. Justru dengan banyaknya masyarakat urban, tata kelola masyarakat di Jakarta terkadang menjadi lebih sulit terorganisasi, hal ini terbukti dengan banyaknya permasalahan yang tidak sedikit melibatkan masyarakat pendatang.
 
Kenyataan di atas bisa menjadi tantangan bagi beberapa calon pemimpin Jakarta periode mendatang. Seperti telah diketahui bersama, beberapa calon DKI I bukan merupakan putra daerah yang lahir di Jakarta. Jokowi misalnya, walikota yang cukup populer di Jawa Tengah ini merupakan putra Solo. Sedangkan Hidayat Nur Wahid, adalah putra daerah dari Klaten. Adanya fenomena ini menunjukkan bahwa Jakarta memang masih “seksi” untuk dikelola dan dipimpin oleh orang yang tepat. Maka tidak heran jika harus ada usaha untuk “memperebutkannya” dalam pemilukada kali ini.
 
Sedangkan dilihat dari segi potensi, jelas Jakarta bisa dikatakan memiliki semuanya. Dari segi perekonomian misalnya, Jakarta merupakan pasar yang menjanjikan dengan banyaknya jumlah penduduk. Meskipun di sisi lain, persaingan menjadi tidak sehat karena lahan yang tidak mungkin bertambah luas dan penduduk yang terus berkembang. Maka solusi yang tepat harus dipilih oleh pemimpin Jakarta periode mendatang guna mengatasi permasalahan ini.
 
Dari segi sosial kebudayaan, Jakarta adalah segalanya. Seperti disampaikan di awal tulisan, Jakarta adalah gambaran umum masyarakat Indonesia. Segala bentuk kebudayaan, suku, adat, dan agama bertemu dan berkembang di sini. Maka tidak mengherankan, kita bisa menemukan apapun budaya masyarakat Indonesia di kota megapolitan ini. Jakarta dengan segala kekurangannya memang mengakomodasi hal tersebut, bukan hanya untuk warga Jakarta, tetapi untuk semua, untuk Indonesia.
 
Penulis tidak dapat memberi justifikasi bahwa pemimpin yang ideal untuk Jakarta adalah harus seperti ini. Namun, idealnya seorang pemimpin adalah yang dikenal dan mengenal masyarakatnya, mengerti dan paham betul Jakarta seperti apa. Maka, dengan demikian segala kebijakan yang diterapkan tidak lagi untuk kepetingan sekelompok golongan, tetapi mampu mengakomodasi kompleksitas dan pluralitas yang tumbuh dan berkembang di Jakarta. Akhirnya, selamat melaksanakan pesta demokrasi.
 
Kalil
Lahir di Blora
Mahasiswa S1 Akuntansi
Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)
Ketua UKM Kewirausahaan (Unimus)
(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Ditinggal Pacar, Remaja Ini Nekat Ingin Akhir Hidup