Indonesia Makin Kaya Inovasi

|

Ilustrasi : Corbis

Indonesia Makin Kaya Inovasi

JAKARTA - Minat generasi muda Tanah Air untuk meneliti semakin meningkat. Hal ini terbukti dengan banyaknya inovasi yang telah dihasilkan oleh warga Indonesia di berbagai level pendidikan, mulai dari SD hingga profesor.

Staf Ahli bidang Kesehatan dan Obat Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) Amin Subandrio mengungkap, saat ini minat anak-anak muda untuk berinovasi semakin baik. "Sekarang minat mahasiswa untuk meneliti lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sebagai sebuah kegiatan positif, penelitian hendaknya terus digalakkan oleh pihak universitas terhadap mahasiswanya," ujar Amir selepas menjadi keynote speaker dalam ajang Biocamp di Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT), Jakarta Pusat, Kamis (5/7/2012).

Menurut Amin, dukungan Perguruan Tinggi (PT) dalam mendorong minat penelitian pada mahasiswa sangat diperlukan sebab meneliti mendatangkan banyak manfaat bagi mahasiswa. "PT harus mendorong mahasiswa untuk terus meneliti, apa pun itu. Karena dengan meneliti akan melatih integritas mahasiswa tersebut," ungkapnya.

Amin memaparkan, dalam sebuah penelitian tidak selalu langsung berhasil. Dibutuhkan percobaan berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang tepat. "Peneliti itu boleh gagal, tapi tidak boleh bohong. Maka, meneliti jadi sarana tepat untuk melatih integritas anak muda," katanya menambahkan.

Saat ini, pembinaan penelitian bagi mahasiswa S-1 adalah porsi Ditjen Dikti Kemendikbud. Namun, ke depan, dia berharap ada sinergi antara Dikti dan Kemenristek. "Tiap universitas tidak harus memiliki satu peneliti senior saja tapi juga melibatkan seluruh civitas academica," tukasnya.

Dukungan terhadap minat para inovator muda ini tidak hanya datang dari pemerintah. Dari sektor industri, beberapa kompetisi maupun kerjasama penelitian diadakan bagi para mahasiswa. Salah satunya ajang Biocamp besutan Kemenristek dan PT Novartis Indonesia.

Presiden Direktur Novartis Indonesia Lutfi Mardiansyah berkata, selain Biocamp, mereka juga melakukan kerjasama penelitian di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Penelitian ini meliputi bidang tropical disease, seperti malaria, demam berdarah, dan tuberculosis yang melibatkan para mahasiswa baik S-1 hingga S-3. "Untuk menemukan molekul diperlukan waktu yang sangat lama, maka saat melakukan penelitian di kampus masih sangat awal untuk mengambil kesimpulan. Namun, berbagai penemuan mahasiswa terutama obat herbal sudah diadopsi oleh sejumlah perusahaan lokal hanya saja tidak terekspos," kata Lutfi.(mrg)

(rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Penahanan Pem-bully Jokowi Bisa Ditangguhkan