Satukan Pemahaman untuk Hindari Konflik Budaya

|

Ilustrasi: ist.

Satukan Pemahaman untuk Hindari Konflik Budaya
SURABAYA – Konflik Indonesia-Malaysia membuat kalangan perguruan tinggi kedua negara prihatin. Kampus-kampus kedua negara ini pun turun tangan untuk membuat suasana negara lebih tentram dengan konferensi rutin.

Dalam pertemuan baru-baru ini, Indonesia diwakili Universitas Airlangga (Unair) sedangkan Malaysia diwakili University Malaya. Kampus kedua negara ini duduk bersama untuk melakukan kesepahaman menyelesaikan konflik tentang asal usul budaya. "Jika kita duduk bersama, semua akan beres, cepat selesai," kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo ketika membuka acara Indonesia-Malaysia 6th Conference, di lantai 5 gedung Rektorat Unair Surabaya, kemarin.

Soekarwo menerangkan, persoalan dengan Malaysia yang sering muncul adalah persoalan seperti Budaya Reog yang ada di Ponorogo, ternyata ada di Malaysia. Setelah ditelusuri, ternyata mereka asalnya dari Ponorogo, dan lama tinggal di Malaysia. "Saya melihat, bahwa karena Indonesia dan Malaysia ini merupakan bangsa serumpun, jadi akhirnya ada budaya yang mirip-mirip begitu," ujar Soekarwo.

Dalam konferensi yang bertema "Memperkuat Hubungan Strategik Serumpun" dan berlangsung 10-12 Juli 2012 itu, Soekarwo meminta agar para pemakalah nantinya lebih banyak membicarakan isu strategis, bukan dikalahkan dengan hal teknis. Soekarwo pun dalam kesempatan tersebut mengajak para pemakalah dari Universiti Malaya untuk menikmati berbagai budaya asli Jawa Timur. Antara lain budaya suku Tengger di lereng gunung Bromo dan kunjungan ziarah wali lima yang dikenal sebagai wali penyebar agama Islam. Tak ketinggalan, Soekarwo pun mempromosikan makanan khas Surabaya, rujak uleg. "Rujak ini terbuat dari mulutnya lembu. Rasanya enak sekali," terang Soekarwo.

Konferensi ini dilakukan antara FISIP Unair dengan Faculty of Art and Social Science Universiti Malaya. Dari Universiti Malaya, ada 60 pemakalah yang akan menjadi pembicara. Sementara itu Warek II Unair M Nasih mengungkapkan, acara bersama universitas-universitas ini perlu dilangsungkan terus menerus. Ini sudah kali keenam, dan diharapkan tidak kalah hasilnya dibanding konferensi sebelumnya. Dengan begitu kesepahaman bisa dibangun.

"Satu kata kunci penting, bahwa hubungan Indonesia-Malaysia harus dikembangkan berdasarkan hubungan strategis. Tidak berubah saat ada hal-hal yang bersifat teknis," terangnya.

Dekan Faculty Social and Arts Universiti Malaya Dato’ Dr Moh Redzwan Othman mengungkapkan, dengan adanya komitmen bersama maka bisa program ini bisa terselenggara. Nantinya program ini tidak sebatas pembicaraan saja, namun bagaimana mempererat hubungan baik bidang akademik maupun budaya. Pihaknya berharap kerjasama ini diwujudkan dengan pertukaran mahasiswa. Program ini pernah dilakukan di universitas Andalas Padang, Universitas Gadjahmada, Universitas Pajajaran dan lain-lain. "Ke depan kami optimistis akan ada perubahan kemajuan yang besar dari kerjasama ini," terangnya. (arief ardliyanto/koran si) (rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    'Pak Jokowi, Jangan Pilih Menteri yang Melanggar HAM'