ITS Jawab Tantangan Dahlan Iskan

|

Ilustrasi : ist.

ITS Jawab Tantangan Dahlan Iskan

JAKARTA - Gerakan mengurangi konsumsi beras sebagai makanan pokok terus digalakkan dengan menggandeng sejumlah pihak terkait hingga perguruan tinggi. Seperti halnya yang dilakukan Perum Perhutani yang mendapuk Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dalam pengadaan mesin pengolah sagu menjadi beras.

Khusus untuk pembuatan mesin pengolah sagu, Perhutani menggandeng ITS. Kerjasama ini disambut hangat oleh Rektor ITS Tri Yogi Yuwono. Sejak tiga bulan lalu, ITS tidak tinggal diam atas tantangan Dahlan Iskan untuk membuat alat pengolah sagu. Tri Yogi berkata, Jurusan Kimia telah melakukan riset pembuatannya tanpa menggunakan mesin. ''Jadi, sekarang riset untuk pembuatan mesinnya,'' ujar Tri Yogi, seperti disitat dari ITS Online, Rabu (11/7/2012).

Pihak ITS diberi tugas untuk merancang mesin baru untuk mengolah sagu menjadi mirip beras. Dari desain tersebut, Perhutani akan membuat mesinnya dan memperbanyak sesuai dengan kebutuhan. Direktur Utama Perhutani, Bambang Sukmananto bertutur, pembuatan pabrik ini ditargetkan akan selesai pada Agustus tahun depan. Sehingga, mesin buatan ITS pun harus selesai sebelum 2013 menjelang. ''Mulai 2013 nanti harus sudah produksi awal,'' tutur Bambang.

Perhutani akan membangun pabrik sagu di kawasan Sorong Selatan, Papua. Pembangunan tersebut merupakan salah satu respons BUMN untuk mendukung program pemerintah menyukseskan pembangunan di Papua, khususnya di bidang peningkatan produksi dan ketahanan pangan. Tidak hanya itu, pembangunan pabrik sagu juga merupakan jawaban atas tantangan yang dilontarkan Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan di ITS beberapa waktu lalu.

Daerah Sorong dipilih karena merupakan kawasan terdekat dari hutan sagu seluas 1 ha yang terdapat di Papua. Hutan sagu itu tidak banyak dimanfaatkan, karena kebanyakan masyarakat Indonesia menggunakan beras sebagai bahan makanan pokok. Untuk proyek pembangunan pabrik ini, BUMN menggelontorkan dana Rp50-Rp70 miliar. Pembebasan lahan dan penanaman sagu skala besar pun telah dilaksanakan. Seluruh lini dalam BUMN akan terjun bersama menangani proyek ini. Misalnya, PLN akan turun tangan dalam penyediaan listrik.

Produksi awal tersebut, lanjutnya, akan dibuat 100 ton sagu per hari. Sehingga, dalam satu tahun produksi sagu mirip beras bisa mencapai 25 ribu ton. Hasil produksi sagu tersebut tidak hanya untuk konsumsi warga Papua, namun akan dijual di seluruh Indonesia. Harga jual sagu tersebut dipatok Rp8 ribu per kg. Harga tersebut, menurut Bambang, akan lebih murah jika dibandingkan dengan per kilogram harga beras pada tahun depan. ''Jadi tidak akan rugi,'' ujarnya.

Tidak hanya bekerjasama dalam pembuatan mesin pengolah sagu. Perhutani juga meminta ITS mengirimkan sarjananya untuk bekerja di Perhutani. Khususnya sarjana Teknik Kimia dan Teknik Lingkungan.(mrg)

(rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kejagung Sita Aset Udar Pristono