Kisah Batu Magis dari Batusangkar

|

Batu Angkek di Batusangkar (Foto: Okezone/Rus Akbar)

Kisah Batu Magis dari Batusangkar

BATUSANGKAR - Bentuknya mirip punggung kura-kura dengan diameter 50 sentimeter. Bagian dalam berwarna hitam dan di tengahnya terdapat lubang kecil. Bagian belakang berwarna kuning tembaga bertulis “Allah” dan “Muhammad”. Itulah batu angkek-angkek (angkat) yang konon bisa meramal nasib, rejeki, sampai ke hal-hal perjodohan.

Batu angkek-angkek terletak Nagari Tanjuang, Kecamatan Sungayang, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat. Batu tersebut diyakini memiliki daya magis. Kalau ada yang berhasil mengangkat, maka bertanda keinginan seseorang itu akan tercapai. Tapi kalau batu tersebut tak bisa diangkat, maka keinginannya tak akan tercapai. Di situlah daya magis batu yang tidak memiliki berat tetap itu.

Benda sakral itu terletak di dalam rumah gadang berukuran 4x16 meter milik warga Suku Piliang. Rumah gadang itu sudah berusia 104 tahun.

Alpi Putra (40), generasi ke-8 Datuak Bandaro Kayo, penemu batu tersebut. Alpi menceritakan keanehan yang terjadi saat menemukan batu tersebut.

Suatu malam, Datuak Bandaro Kayo yang juga Kepala Suku Piliang, bermimpi bertemu dengan Syech Ahmad. Datuak diperintah untuk mendirikan sebuah kampung yang diberi nama Palangan. Dia juga diminta membangun rumah gadang di lokasi tertentu.

Datuak pun kemudian mengumpulkan anggota suku dan menyampaikan kabar mimpinya. Setelah disepakati, akhirnya warga Piliang mendirikan rumah gadang. Namun apa yang terjadi, saat batagak tonggak tua (pemancangan tonggak utama), gempa dasyat terjadi disertai petir serta angit berubah gelap. Kejadian itu berlangsung selama 14 hari.

Warga suku bingung dan cemas. Tak lama setelah itu terdengar suara dari lubang tempat pemancangan tonggak utama. Suara itu berbunyi permintaan agar warga mengeluarkan benda dari lubang tersebut.

Datuak Bandaro Kayo pun mengumpulkan kembali warganya untuk mengambil benda di dalam lubang. Akhirnya, baru mereka ketahui penyebab mengapa tonggak tidak bisa dipancang serta bencana selama 14 hari. Setelah batu diangkat, bencana pun berhenti.

“Sebenarnya ada dua batu, hanya saja pasangannya tidak bisa dikeluarkan, Sebab setiap menggalinya batu itu terus amblas ke dalam, akhirnya memutuskan pasangan batu itu dibiarkan saja di dalam tanah,” tutur Alpi kepada Okezone.

Setelah batu itu diangkat barulah pemacangan tonggak utama itu bisa dilakukan.

(ton)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Etalase

      "Munir" Tetap Suarakan Keadilan

      Sunyi, kala belasan pegiat hak asasi manusia (HAM) dari Jaringan Pemuda Batu mengunjungi sebuah makam di TPU Kelurahan Sisir, Kota Batu, Jawa Timur, akhir pekan lalu.

    • Etalase

      Derita Balita Pengungsi Korban Tsunami Mentawai

      Gizi buruk dialami sejumlah anak dari pengungsi korban tsunami Mentawai. Minimnya asupan makanan bergizi serta lingkungan yang kotor turut berkontribusi membuat anak-anak tumbuh secara tidak normal.

    • Etalase

      Yadnya Kasada di Mata Wong Tengger

      Rela bolos sekolah serta rela menunda atau meninggalkan pekerjaan demi melarung sesaji ke kawah Gunung Bromo. Lantas, apa itu Yadnya Kasada di mata orang Tengger?

    • Etalase

      Istimewanya Upacara Yadnya Kasada di Gunung Bromo

      Yadnya Kasada termasuk upacara yang istimewa bagi warga Tengger karena diselenggarakan di Gunung Bromo. Dalam upacara tersebut juga diadakan ujian dan pengkuhan dukun-dukun baru.

    Baca Juga

    Kawanan Pencuri Bawa Pikap, Dua Motor Raib