Harwanto, Si Doktor Insektisida

|

Ilustrasi : Corbis

Harwanto, Si Doktor Insektisida

JAKARTA - Ulat Spodoptera exigua Hubner (Lepidoptera:Noctuidae) adalah musuh utama para petani bawang merah. Namun, mengatasi hal tersebut umumnya petani masih bertumpu pada penggunaan insektisida kimia sintetik yang dapat menimbulkan dampak buruk, seperti pencemaran lingkungan, resurjensi, resistensi, dan musnahnya organisme bukan sasaran.

Untuk itu, salah satu peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur Harwanto melakukan terkait penggunaan pestisida alami untuk mengatasi ulat bawang merah. Dengan disertasinya yang berjudul Bioaktivitas Ekstrak Limbah Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L.) Sebagai Insektisida Nabati Untuk Ulat Bawang Merah Spodoptera exigua Hubner (Lepidoptera:Noctuidae), Harwanto berhasil meraih gelar doktor dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

“Perlu terobosan alternatif pemanfaatan bahan alami (nabati) dari bagian tanaman yang berpotensi sebagai pestisida misalnya dari daun, ranting, batang, kulit, akar, dan umbi,” ujar Harwanto, seperti dilansir dari situs UGM, Selasa (17/7/2012).

Harwanto menambahkan, banyak contoh bahan alam yang sudah terkenal digunakan sebagai insektisida nabati di antaranya, daun tembakau dengan kandungan nikotinnya, tepung bunga piretrum dengan kandungan piretrin, akar tuba dengan kandungan rotenon, serta mimba dengan kandungan azadiraktin.

Khusus ekstrak limbah daun tembakau di Indonesia masih terbatas dilakukan penelitian atau belum banyak diungkap secara mendalam dari aspek ilmiah terhadap S.exigua pada skala laboratorium terutama untuk tingkat toksisitas dari berbagai pelarut, mortalitas dan perkembangan, aktivitas makan, efisiensi konsumsi pakan, dan perkembangan dan penekanan produksi. “Ini sangat penting karena di lapangan banyak petani memanfaatkan peraman tembakau sebagai bahan untuk mengendalikan S.exigua,” paparnya.

Penelitian yang dilakukan Harwanto dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi UGM dan Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur. Dari hasil penelitian yang dilakukan tersebut terungkap profil kromatografi limbah daun tembakau Madura yang diekstrak dengan pelarut aquades berbeda dengan pelarut lain karena senyawa bioaktif yang terlarut adalah 100 persen nikotin (C10H14N2) dengan kesamaan indeks 94 yang mempunyai toksisitas 83 persen (efektif) dengan mekanisme baik melalui mulut maupun kontak untuk larva instar II S.exigua.

“Ekstrak limbah daun tembakau Madura berpengaruh terhadap mortalitas dan perkembangan S.exigua dan tidak berpengaruh terhadap variabel reproduksi,” tutur Harwanto.

Dia berharap, ke depan ada penelitian lanjutan mengingat banyak permasalahan yang belum terjawab. Penelitian pemanfaatan ekstrak limbah daun tembakau Madura terhadap larva instar II S.exigua kontribusinya masih sedikit dalam khasanah iptek.

Selain itu untuk menjaga tingkat efektifitas ekstrak limbah daun tembakau Madura terhadap serangan hama target, maka perlu diperhatikan pada saat aplikasi di lapangan terutama pada musim hujan karena kandungan senyawa bioaktif dalam ekstrak mudah larut dalam air.

(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Serangan Udara Suriah Tewaskan 90 Orang