Ferry Ferdiansyah

Menuju Swasembada Daging

Senin, 16 Juli 2012 10:06 wib | -

Indonesia dan Australia akhirnya sepakat untuk membahas peningkatkan kerja sama pengembangan usaha di bidang peternakan sapi dan infrastruktur di kawasan Indonesia tengah dan timur. Itu sebabnya dalam kunjungan kerja ke Darwin, Australia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga mengajak Gubernur Bali, Gubernur NTB, Gubernur NTT, dan Gubernur Papua Barat.
    
Penulis menilai format kerja sama antara Indonesia-Australia saat ini, terkait peternakan sapi adalah Indonesia membeli sapi dari Australia untuk memenuhi kebutuhan daging dalam negeri. Format kerja sama semacam ini tidak lagi sesuai dengan strategi Indonesia menuju kemandirian pangan. Untuk itu, Presiden SBY ingin mengajak dunia usaha di Indonesia untuk juga memiliki komitmen, inisiatif, dan betul-betul melaksanakan investasi di bidang peternakkan sapi. Jika kita menengok kebelakang, tepatnya satu tahun lalu, pemerintah Australia melalui Menteri Pertanian Australia Joe Ludwig menginstruksikan mengkaji ulang ekspor sapi ke Indonesia.
    
Hal itu dilakukan setelah pihak Australia, menerima laporan yang dilayangkan salah satu LSM pencinta binatang, serta melihat tayangan program Four Corners ABC soal penanganan sapi asal negara tersebut. Tayangan Four Corners ABC yang ditayangkan, Senin (30/5/2011), terlihat gambar rumah pemotongan hewan memberlakukan sapi asal Australia secara kejam. Di gambar itu tampak mata sapi dicungkil, ekor dipatahkan, dan tenggorokan dipotong. Keadaan ini membuat pihak Australia geram. Apa lagi gerakan LSM pecinta hewan di Australia memiliki posisi tawar kuat kepada pemerintahnya.
    
Namun, langkah yang dilakukan Australia ini, justru mendapatkan tantangan balik dari pihak Indonesia. Pemerintah menduga ancaman Australia menghentikan pasokan sapi ke Indonesia terkait kepanikan akan rencana swasembada daging sapi yang dicanangkan pemerintah.
    
Rencanannya pada 2014, Indonesia menargetkan impor daging sapi hanya 10 persen dari total konsumsi nasional. Saat ini kebutuhan daging sapi mencapai 430 ribu ton per tahun. Dari jumlah ini, sebanyak 25 persen atau 100 ribu ton daging berasal dari impor. Konsumsi daging sapi di Indonesia dinilai masih rendah atau sekitar 2 kilogram per kapita selama setahun. Dengan kondisi ini, pemerintah tak khawatir terhadap ancaman Australia yang akan menghentikan ekspor sapi ke Indonesia. Padahal, rencana swasembada  itu senduri, tidak sama dengan penghentian impor.

Peningkatan Kemitraan

SBY bersama delegasi pemerintah Indonesia dalam kunjungan kerja ke Darwin, Australia guna menghadiri pertemuan tahunan kedua pemimpin RI-Australia atau The 2nd Indonesia - Australia Annual Leaders Meeting. Salah satu agenda prioritas dalam  lawatan ini, adalah kerjasama Indonesia - Australia dalam pembelian sapi dari Australia untuk memenuhi  kebutuhan dalam negeri yang sangat besar.
    
Langkah yang ditempuh pemerintah, penilaian penulis, semakin mantap dalam mencanangkan 2014 sebagai swasembada daging sapi. Berbagai upaya terus dilakukan untuk merealisasikan target tersebut, termasuk  menjalin kerjasama dengan Australia. Seperti diketahui, Australia merupakan penyuplai sekaligus investor dalam industri peternakan sapi nasional.
    
Saat ini, ada empat wilayah Indonesia yang merupakan sentra daging sapi di Indonesia yakni Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Papua Barat. Khususnya NTT, memiliki potensi yang besar menjadi eskportir dan suplai daging dunia. Daerah ini,  memiliki potensi yang sama dengan Australia. Keadaan geografisnya memiliki hamparan savana yang luas sehingga sapi-sapi dapat dilepaskan secara bebas untuk mencari pakan.
    
Namun, kendala yang dihadapi oleh NTT adalah masalah sumber air khususnya pada musim kemarau yang biasa terjadi pada bulan September dan Oktober. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri peternak.
    
Alasan pemerintah untuk melakukan swasembada sapi itu, untuk memproteksi daging sapi lokal. Harga daging sapi segar impor saat ini, lebih murah sekitar Rp 15 ribu dari harga daging sapi lokal. Untuk harga daging sapi impor sekitar Rp 40 ribu sampai Rp 46 ribu, sedangkan harga sapi dari peternakan sekitar Rp 55 ribu sampai Rp 60 ribu.  Dengan perbedaan harga yang cukup tinggi itu,dapat diprediksi peternak sapi lokal mengalami kerugian yang cukup besar.
    
Banyaknya serbuan daging impor yang beredar di pasaran membuat permintaan daging lokal menurun. Kondisi ini membawa dampak buruk bagi peternak sapi lokal. Untuk menghindari kerugian dikalangan peternak pemerintah merespons dengan meningkatkan produksi daging lokal dan membatasi daging impor.
    
Impor daging Indonesia saat ini, sebesar 30 persen yang didatangkan dari Australia dan Selandia Baru. Jumlah impor itu harus terus berkurang hingga tersisa 10 persen dan 90 persennya bisa dipenuhi dari daging lokal. Sebenarnya, Kebijakan pembatasan impor sapi, sudah diberlakukan sejak 2010 lalu. Dengan harapan, pada 2014 mendatang, Indonesia hanya mengimpor 85.000 ekor sapi dari saat ini yang mencapai 260.000 ekor sapi atau setara 460.000 ton daging sapi. Data sensus menunjukan, total jumlah sapi di Indonesia saat ini sekitar 16 juta ekor. Adapun bentuk kerjasama dengan Australia, yakni penyediaan bibit unggul dan rumah potong hewan (RPH) modern.
    
Penulis menyimpulkan, konsep yang ditawarkan Pemerintah Indonesia kepada investor Australia cukup bagus, yaitu menjadikan Indonesia sebagai basis peternakan sapi untuk memasok pasar ekspor dunia. Itu cukup realistis mengingat biaya produksi di Indonesia lebih murah dibandingkan di Australia.  Keseriusan pemerintah, terlihat dengan mendorong empat gubernur untuk potensi pertenakan sapi guna menargetkan Indonesia agar mampu swasembada daging pada 2014.
    
Penekanan ini  menurut penulis, tidaklah  berlebihan jika dilihat dari fakta yang ada. Setiap kebijakan tanpa ada dukungan dari pemerintah daerah tak akan bisa berjalan. Apa lagi, masing-masing daerah, memiliki potensi besar untuk  mengembangkan peternakan sapi. Selain itu peran pemerintah daerah sangat vital dalam menyukseskan rencana swasembada sapi. Agar program ini dapat berjalan, diperlukan dukungan infrastruktur dan kebijakan lainnya demi terwujudnya swasembada sapi dinegeri ini.

Ferry Ferdiansyah
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercubuana Jakarta, Program Studi Magister Komunikasi


(//mbs)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERIKAN KOMENTAR ANDA

 
Berita
Terpopuler
Komentar Terbanyak
BACA JUGA »