Peneliti IPB Temukan Antibiotik Alami untuk Lele

|

Ilustrasi : ist.

Peneliti IPB Temukan Antibiotik Alami untuk Lele

JAKARTA - Para peternak lele kini dapat bergembira. Pasalnya, Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) Sri Lestari Angka menemukan antibiotik alami dengan harga murah untuk menangkal penyakit Motile Aeromonad Septicaemia atau MAS yang kerap menyerang lele.

 

Peneliti pada Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB ini berhasil menemukan antibiotik alami berupa ekstrak campuran daun sirih, daun jambu biji, dan sambiloto. Ekstrak dedaunan ini selain ramah lingkungan juga dapat meningkatkan daya tahan atau imunitas ikan. Popularitas ketiga tanaman tersebut dalam dunia pengobatan tradisional tidak disangsikan, karena terbukti mujarab dan mampu menyembuhkan berbagai penyakit.

 

Selain itu, bahan pembuat antibiotik ini mudah didapat dan dibudidayakan serta proses pembuatannya juga mudah. "Harganya pun lebih murah dari antibiotik komersil lainnya. Melalui proses ekstraksi dan penggabungan yang tepat akan diperoleh khasiat yang maksimal,” ujar Sri, seperti disitat dari siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (18/7/2012).

 

Antibiotik ini bukan saja dapat mengobati, tetapi bisa juga digunakan untuk tujuan pencegahan dari penyakit MAS pada ikan. Dalam konteks pencegahan ini, antibiotik tersebut dapat diberikan pada ikan yang sedang dalam kondisi lemah dengan dosis lebih rendah.

 

Sri mulai melakukan penelitian sejak 1980 dimana pada saat itu terjadi wabah ‘penyakit merah’ pada ikan air tawar di Jawa Barat. Sejak saat itu, hingga 2000-an, dia mulai mempelajari kuman yang menjadi penyebab sakitnya ikan-ikan.

 

Temuan Sri selama 20 tahun mengenai jamu untuk mengobati sakit MAS ini akhirnya berhasil dipatenkan. Keanekaragaman flora Indonesia dengan banyak fungsi dan zat aktif-nya ini, terbukti mampu menjadi obat herbal yang ampuh untuk keberlanjutan usaha perikanan Indonesia.

 

Hanya saja, meski antibiotik alami temuan Sri ini sudah teruji di lapangan, sampai kini belum dapat diproduksi secara massal dalam sebuah pabrik. Faktor pendanaan diakui Sri menjadi kendala utama. Tentu ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi kalangan industri di Indonesia untuk menindaklanjuti temuan ini menjadi aplikasi bisnis yang menguntungkan.

 

Padahal, secara ilmiah keunggulan inovasi ini sudah diakui, yakni bersifat antibakteri tanpa menyebabkan resistensi pada bakteri pathogen, bersifat anti radang sehingga penyembuhan MAS dapat berlangsung dengan cepat, meningkatkan daya tahan ikan, ramah lingkungan, proses produksi murah dan sederhana. Selain itu juga penggunaannya praktis, dapat digunakan untuk anak ikan maupun ikan dewasa, dan bahan baku mudah didapatkan.

 

Dia menyebut, pengurai penyakit MAS ini bersifat zoonosis atau bisa menular ke manusia. "Mereka yang berpotensi tertular penyakit ini adalah yang bersentuhan langsung dengan pembudidayaannya, yaitu peternak atau petani ikan. Karena penyakit ini dapat dengan mudah berpindah melalui air," tuturnya.

 

Gejala yang ada pada manusia akibat tertularnya MAS ini adalah diare dan demam. Untuk pengobatannya, cukup dengan meminum obat diare dan demam yang sudah ada di pasaran.

 

Lalu bagaimana konsumen atau penghobi ikan lele dapat mengenal lele yang dimakannya bebas dari penyakit MAS ini? Sri menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan. Pasalnya, lele yang sudah terpapar MAS ini, secara fisik terlihat dengan jelas, yaitu berupa borok di wajah. Sehingga sangat tidak mungkin ada orang yang berani mengolah lele yang borokan tadi untuk menjadi lauk.

(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Komite Sekolah Bebani Orangtua Siswa