Research Week UGM Bicara Ketahanan Pangan

|

Foto : UGM

Research Week UGM Bicara Ketahanan Pangan

JAKARTA - Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar diskusi dalam rangkaian Research Week guna membahas kedaulatan pangan di Tanah Air. Secara konseptual, kedaulatan pangan berarti menjamin rakyat bisa memproduksi pangan mandiri. Namun, sudahkah itu terjadi di Indonesia?

Dosen Fakultas Pernakan Ali Agus yang didapuk sebagai salah satu pembicara dalam diskusi bertajuk "Menggappai Kedulatan Pangan: Antara Cita-cita dan Realita" itu menyebutkan, kedaulatan pangan bermuara pada tercapainya semua kebutuhan rakyat secara mandiri. "Ujung-ujungnya bermuara pada pemenuhan kebutuhan pangan bagi rakyat, tanpa adanya ketergantungan pihak lain," ujar Ali, seperti disitat dari laman UGM, Sabtu (21/7/2012).

Untuk itu, kata Ali, perlu dilakukan jihad menuju kedaulatan pangan. Baginya jihad kedaulatan pangan sudah sangat mendesak, sebab petani selalu menderita. Sehingga, tidak bisa lagi menikmati hasil panen akibat serangan pangan impor. "Konsumen pun lebih memilih produk impor dibanding produk negeri sendiri," paparnya.

Pada topik "Politik Pangan Nasional Dan Pembiayaan Pertanian" mantan Menteri Koperasi Adi Sasono pun angkat bicara. Dia menandaskan, selalu ada motif ekonomi dibalik tindakan politik. Politik bukan sekedar wacana, konsep atau tulisan. Namun, berwujud tindakan. "Termasuk politik pertanian, bisa dipastikan selalu ada motif uang, ekonomi di balik kebijakan pertanian yang dikeluarkan," kata Adi.

Adi mengungkapkan, politik pembangunan saat ini "bias sektor modern" dan "bias kota" yang berakibat pemusatan pemilikan tanah karena ekspansi modal besar yang difasilitasi perundang-undangan dan jasa birokrasi. Akibatnya terjadinya proletarisasi massal dengan jumlah buruh tani meningkat pesat.

Sementara itu, Guru Besar Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian UGM  Dwijono Hadi Darwanto menyayangkan kebijakan ekonomi pemerintah di bidang pertanian yang lebih menitik beratkan subsektor pangan. Hal ini berdampak pada lemahnya pengaturan di subsektor lain, terutama perkebunan, peternakan, dan hortikultura.

Menurut Dwijono, hal itu mengindikasikan semakin lemahnya produksi dan perdagangan produk dari subsektor tersebut, baik di pasar domestik maupun ekspor. "Hal itu memperlihatkan prduktivitas, mutu, dan ketersediaan produk masih menjadi persoalan mendasar bagi upaya peningkatan daya saing produk perkebunan, peternakan dan hortikultura, terutama buah-buahan," ungkap Dwijono.

Saat membuka diksusi, Wakil Rektor Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Suratman mengimbau, kedaulatan pangan bukan hanya masalah politik pangan, melainkan komitmen kesadaran masyarakat. "Sadar bahwa pangan Indonesia adalah ruhnya. Komitmen inilah yang menjadi milik bersama, masyarakat Indonesia," katanya saat membuka diskusi.

(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Adik Perempuan Kim Jong-Un Pimpin Partai di Korut