Ide Unik, Dosen UGM Juarai Lomba Esai tentang Jakarta

|

I Made Andi Arsana (Foto: dok. pribadi)

Ide Unik, Dosen UGM Juarai Lomba Esai tentang Jakarta

JAKARTA – Gegap gempita pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) DKI Jakarta menggema hingga ke mancanegara. Salah satunya terlihat di Negeri Kincir Angin. Komunitas Masyarakat Indonesia (KMI) Belanda menghelat lomba penulisan esai bertajuk “Solusi untuk Jakarta”.    

Andi Arsana, dosen Teknik Geodesi di Universitas Gadjah Mada (UGM) didapuk sebagai juara pada lomba yang diikuti oleh 54 peserta di Asia, Australia, Eropa, dan Amerika ini. Uniknya, Andi tidak menetap di Jakarta. Dia juga tidak memiliki latar belakang yang mumpuni untuk mengajukan solusi berbagai masalah di Ibu Kota.

 

Mengutip situs pribadinya, madeandi.com, Senin (23/7/2012), Andi bercerita, kegemarannya menulis dan berkompetisilah yang mendorongnya “nekat” mengikuti lomba tersebut. Meski keraguan dan rasa tidak percaya diri menyeruak, Andi tetap menulis. “Tugas saya hanya menulis, bukan menilainya,” kata Andi.

 

Andi berkisah, esainya yang berjudul “Berkantor di Dunia Maya: Mengatasi Kemacetan Jakarta dengan Kebijakan Bekerja dari Rumah” terinspirasi dari kehidupannya sehari-hari. Andi, seorang kandidat doktor di University of Wollongong, Australia, hidup jauh dari keluarganya. Sang istri, Asti, sedang mempersiapkan diri di Bali untuk mengikuti kuliah melalui program beasiswa ADS; dan Lita, putri semata wayangnya tinggal bersama sang kakek dan nenek di Yogyakarta. Ketiganya memanfaatkan fasilitas Skype untuk berkomunikasi sehari-hari.

 

Pengalaman Andi mengampu kuliah jarak jauh bagi mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, sementara dia berada di Australia juga turut menyumbang ide dalam tulisannya ini. “Dari judul esai saja, saya yakin pembaca bisa membayangkan isinya,” imbuhnya.

 

Dalam esainya, Andi mengajukan solusi mengatasi kemacetan Jakarta dengan menekan aktivitas di jalan raya. Caranya, dengan menekan kebutuhan untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Andi menyarankan, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam aktivitas berkantor di Jakarta. Kebijakan kantor maya atau virtual office ini memungkinkan karyawan untuk bekerja dari rumah. Ide ini juga relatif mudah diterapkan dengan tidak memerlukan investasi tambahan.

 

“Jika aktivitas di kantor bisa ditekan dan dipindahkan ke rumah masing-masing maka kemacetan akan berkurang dengan signifikan. Interaksi yang sebelumnya dilakukan dengan bertatap muka di kantor bisa dilakukan dengan bantuan internet. Inilah yang penulis sebut sebagai kantor maya atau virtual office,” tulis Andi dalam esainya.

 

Kemenangan ini sontak membuat Andi terkejut. Pasalnya, dia merasa menulis dengan bahasa sangat sederhana dan tidak menggunakan referensi yang tidak sekuat tulisan ilmiah yang biasa dia baca. Tidak hanya itu, tulisan tersebut pun dirampungkannya hanya dalam waktu semalam. Andi kemudian mengirimkan tulisan tersebut, dan kemudian melupakannya karena banyak tugas lain. “Saya kemudian mendapat email mengejutkan dari panitia lomba yang menyatakan saya menang,” kenangnya.  

 

Meski menjadi pemenang, Andi yakin dia bukanlah pencetus gagasan terbaik untuk Jakarta. Dia juga yakin, idenya bukanlah hal yang baru dan banyak ide lain yang serupa. Bagi putra Pulau Dewata ini, pencapaian paling penting dari kemenangan ini adalah keberhasilannya mengalahkan ketakutan; bahwa gagasannya tidak akan ada apa-apanya dibandingkan ide mereka yang lebih ahli.  “Saya belajar, jika saya memilki perasaan dan kekhawatiran seperti itu, orang lain pasti juga punya,” tegasnya.

 

Simak tulisan Andi di tautan berikut.

(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Alihkan Hujan Jakarta, BNPB Tunggu Surat Gubernur