Bergaul dengan "Maut" Demi Misi Kemanusiaan

Andhika Purbo Swasono (Foto:http://andips.blogspot.com)

Bergaul dengan
"Alhamdulillah, akhirnya visa sudah di tangan. Pemerintah Bangladesh mengizinkan kami masuk.”

Kata-kata itu meluncur dari mulut Ketua Aksi Cepat Tanggap (ACT), Action Team for Rohingya, Andhika Purbo Swasono sesaat setelah tiba di Bangladesh dalam misi kemanusiaan untuk warga Rohingya.

Andhika bersama tim telah diizinkan pemerintah Bangladesh untuk memasuki wilayah konflik. Tak jauh lagi dia akan erapat ke pengungsi Rohingya di Myanmar. Sebagai kunjungan awal menemui pengungsi Rohingya di Myanmar, diakui Andhika memang tak banyak rencana yang disiapkan.

“Prioritasnya, memberi bantuan medis dan pangan. Hadirnya tim ini, mewakili kepedulian masyarakat Indonesia langsung ke tengah pengungsi. Seperti standar aksi ACT, kami tak pernah melupakan koordinasi dengan pemerintah, termasuk menetapkan mitra lokal. Bagaimana pun, kami adalah tamu di negeri orang, sehingga menghargai tuan rumah,” kata Andhika dalam keterangannya, Sabtu (28/7/2012).

Andhika mengatakan, misinya ke Rohingya merupakan panggilan untuk menjawab sejumlah isu kemanusiaan. Sebab, menurutnya, isu kemanusiaan sejatinya adalah “hajatan besar” umat manusia, apalagi dalam bulan Ramadhan penuh berkah ini.

"ACT sangat berbesar hati ketika pekan ini makin banyak simpati dan kesadaran mempedulikan Rohingya. Etnik muslim Rohingya, merupakan komunitas paling sengsara saat ini di antara penduduk dunia. Kita selayaknya terpanggil hadist orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang, saling menyayang dan saling cinta  bagaikan satu tubuh, jika salah satu anggotanya merasa sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakan sulit tidur dan demam,” ungkap Andhika.

Sebab itu, tanpa banyak pikir, Minggu 29 Juli 2012 mendatang, tim pertama Action Team for Rohingya akan berangkat menemui langsung para pengungsi Rohingya dipimpin Andhika.

Loyalitas Andhika Purbo Swasono, patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, dalam usianya yang masih muda, lahir di Jakarta 6 Juli 1980, Dia tak pernah menampik tugas kemanusiaan meskipun harus berhadapan dengan maut. Kesiagaan telah menjadi sikapnya. “Senjata saya, keikhlasan dan kesiapan menyapa saudara-saudara kita yang ditimpa kemalangan,” ujar sulung dua bersaudara dari pasangan Santoso SW dan Yupika Adelina Setyawati ini.

Karir Andhika di ACT dimulai sebagai relawan. Pertama kali, alumnus Departemen Matematika FMIPA Universitas Indonesia ini terlibat dalam tim kemanusiaan ACT saat gempa mengguncang Yogyakarta (2006). Sesudahnya, sejumlah event bencana dilibatinya. Tahun 2007, mendukung emergency team ACT. Tahun 2009, saat sejumlah bencana hadir beruntun di Indonesia, Andhika terlibat dalam sejumlah aksi kemanusiaan. Longsor Cikangkareng-Cianjur Selatan (2009), gempa bumi di Sumatra Barat, targedi pecahnya tanggul Situ Gintung (Ciputat Timur, Tangerang Selatan), gempa bumi Jawa Barat.

Andhika berkali-kali didapuk sebagai Action Team Leader. Tahun 2010 saja, dua kali posisi itu diamanahkan padanya yaitu saat erupsi Merapi (memimpin Tim Kesehatan) dan banjir bandang Cihaurbeuti, Ciamis (memimpin emergency team).


Pengalaman bergaul “dengan maut” tak pernah menyurutkan langkah Andhika. Justru situasi bersama korban-korban selamat dari bencana, meneguhkan rasa syukur dan pelajaran akan kehidupan. “Saya terkesan menyaksikan warga Jogja dan Jateng begitu tegar menghadapi bencana. Meski banyak kehilangan, harta bahkan anggota keluarganya, mereka tidak berlama-lama larut dalam kesedihan. Warga Jogja, dibanding korban bencana lainnya, lebih cepat bangkit kembali,” ungkap Andhika.


Wujud kesiapan menerima tugas, juga diperlihatkannya saat diterjunkan dalam Komite Indonesia untuk Solidaritas Somalia (KISS). Dari tim pertama sampai tim ketiga, Andhika ikut di dalamnya dan selama itu harus di luar negeri meninggalkan istrinya. Andhika bersama tim berkeliaran membawa bantuan masyarakat Indonesia melalui KISS- lembaga yang diinisiasi ACT-di Mogadishu, yang disebut media internasional sebagai kota paling berbahaya di dunia saat ini.

“Di sela tugas di Somalia dan Kenya, ACT sempat menugaskan saya membantu korban gempa di provinsi Van, Turki (2011), menyalurkan bantuan logistik,” kata Andhika.


Selama terlibat dalam KISS, Andhika mengelola tak hanya bantuan medis dan pangan. Ia mendampingi relawan lokal menyiapkan hewan kurban, mendistribusikan dan mendokumentasikan prosesnya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pekurban di Indonesia.

“Pendistribusian kurban di perbatasan Somalia-kenya mauoun di Mogadishu, dahsyat karena dilakukan di kawasan padat pengungsi dan minim kemampuan berbahasa Inggris. Mereka juga agak sulit ditertibkan. Tak mudah mendokumentasikan proses qurban di Mogadishu karena berlaku pembatasan aktivitas di alam terbuka orang asing sejak pukul 17.00,” jelas alumnus SMU Negeri 70 Jakarta ini.  


Andhika dan kesiapannya terjun di situasi genting kemanusiaan, teladan bagi kaum muda Indonesia. Mengapa ia menerima tugas berat ini? “Tak harus menanti berumur, untuk melakukan sesuatu yang berarti,” ujarnya. Maka, ia mengaku banyak belajar dari Ahyudin, presiden ACT yang dikaguminya.

“Seperti komandan (sebutan akrab kru ACT terhadap Ahyudin), sebelum pergi bertugas, saya menulis surat wasiat. Berjaga-jaga andai terjadi sesuatu terhadap saya, keluarga sudah siap dan melakukan hal terbaik. Doakan, ya, saya kembali pulang dengan selamat, jadi wasiat itu tak perlu dibuka,” ujarnya. (ugo)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kampus dengan Biaya Hidup Termurah di UK (1)