Pemilukada Jakarta Putaran Kedua, Masihkah Simbolik?

|

Adnan Mubarak (Foto: dok. pribadi)

Pemilukada Jakarta Putaran Kedua, Masihkah Simbolik?
PEMILIHAN kepala daerah di Indonesia, khususnya di beberapa daerah tertentu, memiliki dinamika politik yang khas. Begitu juga di DKI Jakarta, pemilihan kepala daerah di Ibu Kota sarat dengan fluktuasi politik yang tidak bisa ditemukan di daerah lainnya. Pada pemilihan gubernur tahun 2012 ini misalnya, jumlah kontestan pemilukada yang mencapai enam pasang dengan komposisi dan basis masa tersendiri menjadikan pemilihan gubernur sangat berwarna. Selain itu, karena jumlah kontestan yang banyak, kecenderungan pemilihan gubernur akan berjalan dua putaran pun menjadi kenyataan ketika tidak ada satu pun dari para kandidat pasangan calon gubernur dan wakil gubernur tersebut yang mengantongi suara melebihi 50 persen dari total suara keseluruhan.
 
Satu hal yang hampir dapat dipastikan terlihat begitu umum pada pemilihan gubernur Ibu Kota tahun ini adalah bahwa pada putaran pertama, pertarungan di antara para enam pasang kandidat calon gubernur dan calon wakil gubernur masih bersifat simbolik dan non-substansial. Persoalan-persoalan kebijakan masih belum banyak dieksplorasi dalam putaran pertama pemilihan gubernur dan wakil gubernur ini. Sekalipun ada, diferensiasi pola kebijakan di antara para kandidat yang ada masih sangat minim, sehingga kesemua kandidat memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dalam persoalan pola kebijakan. Karena itu, dalam beberapa momentum di pemilihan kepala daerah ini, tim sukses para kandidat calon kepala daerah sering menggunakan ukuran-ukuran simbolik, seperti kostum, latar belakang etnis, bahkan tingkat spiritualitas dari para kandidat. Penggunaan ukuran simbolik tersebut dipergunakan oleh para tim sukses kandidat untuk mengatasi ketidakefektifan kampanye kebijakan pemerintahan daerah yang tidak begitu “menjual”.
 
Seperti kita ketahui semua, pemilihan gubernur ini menyisakan dua pasang kandidat, Foke-Nara dan Jokowi-Ahok. Dapat dipastikan, kemenangan kedua pasang kandidat tersebut akan menjadikan pemilihan gubernur pada putaran kedua ini tidak akan kalah dinamis dengan yang terjadi pada putaran pertama. Faktor utama dinamisasi tersebut dapat ditemukan ke depannya karena keduanya memiliki keunggulan elektabilitas masing-masing yang bersifat simbolis. Foke-Nara unggul dalam persoalan pengalaman kerja di Jakarta selama berpuluh tahun dan dianggap sebagai putra daerah asli Jakarta serta basis militer yang dimiliki oleh sang pendamping. Sedangkan Jokowi-Ahok unggul dalam penggunaan warna kultur ke-Jawaan yang sangat kental dalam dirinya disertai dengan latar belakang etnis Tionghoa dan kalangan non-muslim yang direpresentasikan oleh sang pendamping. Di antara keduanya pun terdapat simbol-simbol khas yang menjadi ciri khusus dari masing-masing kandidat, seperti kumis dan kemeja kotak-kotak.
 
Tentunya pertarungan simbolik dari ritual demokrasi sepenting pemilihan kepala daerah terutama di wilayah Ibu Kota adalah sebuah panorama yang mesti dihapuskan dan diubah dengan mengedepankan kampanye berbasis kompetensi dan keunggulan track record secara berimbang. Karena seperti yang dapat kita lihat, pertarungan simbolik di antara para kandidat tidak mampu menjelaskan mengenai pilihan kemungkinan arah kebijakan yang dimiliki oleh para kandidat, melainkan euforia kampanye semata.
 
Marilah berharap, pada putaran kedua pemilihan gubernur dan wakil gubernur Jakarta 2012 ini, kandidat dengan program dan perencanaan kebijakan pengelolaan Ibu Kota terbaiklah yang akan meraih suara tertinggi, bukan karena etnis, tampilan fisik, apalagi pakaian yang dikenakan oleh pasangan calon kandidat. Dengan demikian, domain pertarungan di antara kedua kandidat tidak akan menimbulkan efek samping seperti konflik kesukuan atau hal sejenis di kalangan masyarakat Ibu Kota seperti yang terjadi di daerah lainnya. Lebih jauh lagi, proses pemilukada yang terjadi bisa lebih cerdas dan berkualitas sebagaimana mestinya.
 
Adnan Mubarak
Mahasiswa Fakultas Hukum
Universitas Indonesia
Peserta Beasiswa PPSDMS, Nurul Fikri Angkatan VI regional Jakarta
(rfa)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kabinet Jokowi Harus Steril dari Kaum Neolib