Cerpen

Menerka Sisy

Selasa, 31 Juli 2012 14:39 wib | -

Menerka Sisy Ilustrasi (Gelar Agryano Soemantri/Okezone) DI DEPAN sana, di bawah  flamboyan yang berderet-deret dengan kenari, angkutan umum memuntahkan beberapa tubuh. Tubuh-tubuh itu bergegas, lenggak lenggok menuju bangunan paling mewah di dekat warung-warung tenda yang tumpah di jalanan.
 
Sesekali tawanya berderai. Saling menatap sebentar. Saling mengomentari. Meyakinkan kepada karibnya kalau-kalau ada yang salah dengan dandanannya. Karibnya menggeleng dan meyakinkan bahwa ia sudah sempurna. Hanya mungkin terendus aroma aneh. Aroma yang tak biasa. Itu membuatnya sedikit mengernyitkan dahi, dan spontan bertanya kalau-kalau ada yang tidak beres pada dirinya.
 
“Ah, cuma nyoba merek baru. Lin bilang, baunya lebih kalem.”
“Harga teman.”
“Mahalan mana dengan yang kita beli minggu lalu.”
“Cuma beda dikit. Ada diskon di lantai tiga.”
“Kok ga ngajak-ngajak, sih. Eh, tapi aku kurang suka baunya. Terlalu kalem.”
“Kamu sih, maunya yang santer-santer. Biar  kedengaran merek parfumnya.”
 
Lalu tawa mereka berderai, renyah. Tawa itu terhenti di depan parkiran taksi yang membuat blok sendiri di sisi timur dari bagian bangunan itu. Tentu saja, jingkat-jingkat kecil mereka menerbitkan keinginan untuk menggoda.
 
Sepatu hak tinggi, rok mini, juga lenggang jalannya, apalagi senyum yang selalu mengembang di bibirnya yang tersaput lipstik warna merah merekah. Rambut mereka yang dibuat sedemikian rupa, mengejar tren dari sebuah majalah fashion nasional yang beredar di kota ini.. Misalnya, mau tidak mau ikut membangun asumsi tersendiri bagi mata awam yang melihatnya. Tetapi mereka bukan wanita-wanita yang tidak teruji pada jalur yang tengah ditempuhnya.
 
Seperti biasa, mereka tetap mengembangkan senyumnya. Tak masalah, senyum bukanlah barang mahal yang untuk mendapatkannya seseorang harus taruhlah, mengajak makan siang bersama atau harus ngedate pada malam-malam tertentu selepas pulang kerja. Tidak seperti itu.
 
Seperti pagi itu, Sisy, Rita juga Lin masih menjaga senyumnya. Seperempat jam lagi senyum itu akan bertebaran di balik-balik kaca. Di balik-balik etalase. Di tengah-tengah bauran parfum dengan aroma dan merk yang berbeda. Pada label-label harga yang terpajang angkuh di celana-celana, baju-baju, sepatu, kaus kaki, underwear, tetek bengek make up hingga mobil  keluaran terbaru di show room pada lantai pertama.
 
Seperempat jam lagi: waktu yang cukup bagi Sisy dan kawan-kawannya untuk ngrumpi soal tren, gaya hidup paling gres yang suatu hari nanti mereka berharap akan mencicipinya. Tentu saja, sebelum pintu utama yang dipasangi tulisan enter itu mengangga dan siap menelan mereka selama berjam-berjam di dalamnya.
 
***
 
Sisy termenung di balik kaca etalase, menunggu jam siang tiba. Saat istirahat makan, saat melepaskan penat. Ia akan melepaskan tawa riangnya. Menebarkan senyum tanpa dibuat-buat. Ngobrol  ringan sana-sini sambil  menikmati  semangkuk bakso dengan mi basah bebas formalin. Ia memilih tanpa sambal. Mungkin lebih banyak saus tomat dengan kecap manis yang sepadan. Semanis senyumnya. Semanis pesan-pesan pendek yang masuk ke ponselnya.
 
Jari-jari lentik Sisy mulai menari. Sekadar menjawab setiap pesan pendek yang masuk di inbox. Bermacam-macam. Dari sekadar tawaran makan siang atau ajakan kencan di akhir pekan.  Beberapa juga dari kawan-kawan lama. Bertanya ini itu tentang ia sekarang ada di mana, lagi ngapain, kerja di mana,  bla bla bla. Ada juga beberapa pujian yang menyangkut dirinya.  Pasti dari laki-laki. Laki-laki  dewasa, sebagian agak kebelang-belangan. Laki-laki yang bersedia menjemputnya dengan mobil mewah pas giliran shift malam.
 
Pernah sekali waktu dengan laki-laki tambun. Dua atau tiga kali,  mungkin. Dan Sisy membikin laki-laki  itu manyun. Hanya ungkapan thank you, meluncur manis dari rekah bibirnya tanpa tawaran ini itu, bahkan sekadar mampir ke kontrakkan. Lumayan, dapat  tumpangan malam-malam, batin Sisy.
 
Sisy tersenyum sendiri. Ia mengenang beberapa orang lagi. Bermacam-macam tipenya, yang paling diingatnya adalah tipe seperti ini:
 
“Sudah lama aku pelajari pohon-pohon dan jenis tanaman. Terutama bunga. Sisy suka bunga apa?” Sisy nyengir. Sebenarnya sedang menebak ke mana arah pertanyaan itu.
“Aku punya villa di dekat bukit.”
 
Sisy  tambah  bengong. Pria di depannya makin semangat bicara. “Aku sering weekend di sana. Biasanya dengan Burgundy. Sore menjadi tenang di dekat  bunga-bunga azalea, sebagian mawar ada juga anyelir. Aku juga merawat anggrek.  Sisy bisa ke sana kapan saja.”
 
Sisy melirik jam tangannya. Membiarkan pria setengah baya itu ngoceh. Napasnya bercampur aroma bir. Di dekatnya musik impor menguasai ruang. Merayakan suasana, sendawa orang-orang lupa.  Sisi menyeruput coca cola ukuran mini hingga tandas. Ia kembali melirik jam tangannya.
 
“Udah malam. Aku malu sama tetangga. Ibu kosku orang baik. Besok giliranku shift pagi. Percaya deh, obrolannya bisa disambung kapan-kapan. Selalu ada waktu, kan?” ujar  Sisy setengah merayu, sambil menuangkan bir di gelas terakhir pria itu.
 
Pria itu tampaknya masih enggan. Masih terlalu pagi untuk pulang. Ia menatap lekat-lekat ke arah Sisy seolah ingin melahapnya. Sisy tak mau kalah. Matanya menebar naluri melindungi diri sendiri. Naluri itu merambat hingga ke tangannya. Sisy merambahi rambut pria di depannya. Membelainya sebentar di kepalanya yang sedikit botak sambil berkata dengan perasaan ingin mematikan. “Cukup honey, please!!. Selalu ada waktu, kan?”  
 
Pria di depannya mengangguk tak berdaya. Sisy memberikan isyarat  ke pramusaji. Pria itu melolos beberapa ratusan ribu dari dompetnya. Membayar semestinya, memberikan tip sewajarnya. Lalu mereka pergi, berjalan beriringan tanpa bergandengan tangan.
 
Sisi senyum-senyum datar mengenang semua itu. Pukul 12.30 waktu setempat, istirahat siang tiba. Sisy melenggang, menggamit tas jinjingnya, meninggalkan kaca-kaca etalase, menuju ke kafe kecil di lantai bawah tempat ia menikmati pergantian jam kerja bersama Rita, Lin, dan karibnya yang lain.
 
***
Saudara-saudara, aku teringat pria-pria itu. Dan di dalamnya,  aku menerka dan mengenang Sisy. Berpijak dari penuturan seseorang, aku mulai membuat stimulasi teks. Mungkin tak ada kaitannya dengan cerita ini. Mungkin tak melulu begitu. Tapi bisa jadi  ada Sisy lain, yang mungkin, sekali lagi mungkin, memang jenis wanita seperti ini:
 
Dalam penciptaan suatu kali waktu, ia adalah roh yang jatuh dari jenis pohon walnut. (Ini menurut penganut tradisi Celtic di sana, dituturkan oleh seorang kawan yang ketika kuliah di tempat itu sering menghabiskan sore, menatap daun-daun yang berguguran di Leicester Square. Waktu itu di tempat yang lain-kami sedang menghabiskan sore tanpa pekerjaan dengan menghirup kopi sambil berdiskusi tentang standar wanita idaman).
 
“Manusia cenderung dibawa oleh sifat pohonnya, katanya. Aku ambil contoh, misalnya Pohon Walnut.” “Ada apa dengan pohon itu?” tanyaku penasaran.
 
“Biasanya dari jenis ini cenderung hedonis, jaga gengsi, bergairah dan yang paling bombastis: seksnya tinggi,”  ujar kawanku sambil cengar-cengir.
 
Asyik juga, sih. Tapi bayangkan saja, berapa yang harus dihabiskan untuk manusia mahal semacam ini?”
 
Aku  tergelak. Terbesit  tentang  perempuan-perempuan yang mungkin saja jatuh dari Pohon Flamboyan, tempat Sisy dan  kawan-kawannya turun dari angkutan kota. Setengah iseng aku bertanya. ”Bagaimana dengan cewek yang jatuh dari pohon Flamboyan?”
 
Kawanku mengernyitkan dahi, mereka-reka sesuatu. Detik berikutnya ia menjawab dengan spontan. “Ya, kalau ga terkilir, paling-paling kakinya lecet!”
Tawa pun berderai di tempat itu. 
 
Hujan mereda.  Pukul 14.00. Di depan sana, di bawah flamboyan yang berderet-deret dengan kenari, angkutan umum memuntahkan beberapa tubuh. Tubuh-tubuh itu bergegas, menjadi Sisy-Sisy yang lain. Mereka menenteng tas.
 
Tas jinjing yang menyimpan piranti make up. Untuk gaya hidup yang satu ini, aku juga  pernah mendengar komentar lain dari kawanku ini. “Sungguh, bukan wanita kelas dewi-dewi yang menenteng tas ke mana-mana, apalagi tas kresek. Coba kau ingat, sejak zamannya Aphrodite hingga Nawang Wulan tidak ada satu pun yang melakukan itu.”
 
Aku kembali dibuatnya tergelak, lalu mendadak diam ketika pikiranku beralih ke Sisy.  Jika dipastikan Sisy bukan wanita  kelas dewi-dewi, bahkan wanita yang bukan jatuh dari Pohon Walnut, lantas kami, aku dan kawanku itu, kira-kira masuk golongan kelas apa, jatuh dari pohon apa?
 
Lalu satu pertanyaan lagi dalam benak, ”Duh, kira-kira yang gimana sih, standar Sisy?
 
Jember, 2012
 
Penulis Tjak S. Parlan
 
(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)
 
Penulis lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Alumni Jurusan Ilmu Administrasi Universitas Muhammadiyah Mataram. Menulis puisi dan cerpen. Sejumlah karyanya terbit di Majalah Ekspresi (Bali), Koran Kampung, Jurnal Replika, Koran Mataram, Tabloid Shootplus (Mataram-Lombok), Harian Sinar Harapan. Juga dalam antologi komunal seperti Tonggak; (2005-cerpen), Simpang Lima (2009-puisi).
 
Kemudian, Dzikir Pengantin Taman Sare (2010-puisi) dan Tuah Tara No Ate: Bunga Rampai Cerpen dan Puisi Temu Sastrawan Indonesia IV (2011), Dari Takhalli sampai Temaram: due likur penyair NTB (2012-puisi). Bersama seorang kawan menulis kumpulan cerpen Ajarkan Aku Mencintai dengan Tangan (2001). Intens sebagai perajin tata letak dan turut aktif di Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB. (//ful)

Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.

BERITA TERKAIT

BERIKAN KOMENTAR ANDA

BACA JUGA »