Jerami Fermentasi, Alternatif Pakan Ternak di Musim Kemarau

|

Foto : UGM

Jerami Fermentasi, Alternatif Pakan Ternak di Musim Kemarau

JAKARTA - Musim kemarau merupakan saat sulit bagi peternak untuk mencari pakan hijauan. Menyadari hal tersebut Kelompok Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mencoba memberikan solusi sebagai alternatif pakan ternak dengan menggunakan jerami fermentasi.

Salah satu peneliti, Yanuartono, mengatakan, pemanfaatan pakan jerami fermentasi ditujukan untuk membantu peternak yang kesulitan mendapatkan pakan hijauan di saat musim kemarau. Selain itu, petani diajak untuk memanfaatkan limbah jerami yang melimpah saat musim panen padi tiba.

“Yang terpenting, peternak tidak mengalokasikan waktunya lagi untuk mencari rumput dan bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja lainnya,” kata Yanuar, seperti disitat dari laman UGM, Sabtu (4/8/2012).

Dia menerangkan, pakan fermentasi dibuat dengan cara cukup sederhana. Pertama, mencampur jerami kering dan polar dengan perbandingan 10:2. Kemudian, tambahkan air secukupnya.

"Campuran jerami dan polar ini dimasukkan ke dalam tabung untuk dilakukan fermentasi selama satu minggu. Pakan sapi ini siap dipanen, ditandai dengan aroma yang harum dan tekstur tidak berubah,“ tuturnya.

Pakan ini, menurut Yanuar, mempercepat penyerapan sari makanan dalam tubuh sapi. Pasalnya, sapi membutuhkan waktu fermentasi terhadap seluruh makanan yang ditampung di dalam rumen. “Justru pada pakan alternatif ini, proses fermentasi sudah dilakukan lebih dulu,” tukasnya.

Peneliti lainnya, Erif Maha Nugraha, menambahkan, jumlah pemberian pakan pada sapi tiap hari minimal 10 persen dari total berat badan. "Bila pakan yang diberikan kurang dari 10 persen maka akan berisiko mengganggu sistem kesehatan reproduksi sapi. Jika pemberian pakan susah yang rusak sistem reproduksinya,” papar Erif yang merupakan dosen Obsgin FKH UGM tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti FKH UGM ini merupakan bagian dari kegiatan program pendampingan peningkatan kualitas dan kapasitas ternak bagi warga sekitar. Kegiatan ini diterapkan pada kelompok ternak ‘Sidodadi’, dusun Kepuh kulon, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

Salah satu peternak, Hartono, mengatakan, hasil pendampingan yang dilakukan dari peneliti FKH UGM tersebut sudah berjalan selama tiga tahun. Beberapa hasil pemanfaatan teknologi tepat guna sudah dimanfaatkan langsung oleh peternak. Di antaranya pemeriksaaan kesehatan rutin dan pemanfaatan limbah kotoran ternak untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organik. “Biogas sudah kita manfaatkan untuk dapur kandang ternak,” imbuh Hartono.

Pakan fermentasi, lanjutnya, merupakan produk inovasi terbaru yang diterapkannya. Menurut Hartono, pakan tersebut cukup membantu dalam sebagai pakan alternatif ternaknya. ”Ternyata ternak saya suka dan lahap. Kini saya rutin membuat pangan fermentasi,” tandasnya.

(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Tiga Pendaki Dievakuasi dari Gunung Guntur