Mengenal Pjs Rektor UI

|

Foto : Margaret Puspitarini/okezone

Mengenal Pjs Rektor UI

JAKARTA - Penunjukan Dirjen Dikti Djoko Santoso sebagai pejabat rektor sementara (Pjs) di Universitas Indonesia (UI) oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh tentu bukan tanpa alasan. Pengalaman sebagai rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) mungkin menjadi salah satu nilai lebih Djoko.

Djoko menyandang jabatan rektor ITB pada 17 Januari 2005, menggantikan Kusmayanto Kadiman. Rektor ke-14 ITB ini mengakhiri masa jabatannya pada 29 Januari 2010 dan digantikan oleh Akhmaloka.

Pria kelahiran Bandung, 9 September 1953 itu menamatkan pendidikan sarjananya di Teknik Geologi ITB pada 1976. Kemudian pada 1979, Djoko melanjutkan pendidikan postgraduate diploma ke Negeri Sakura, Jepang di International Institute of Seismology and Earthquake Engineering.

Tidak berpuas diri, Djoko kembali melanjutkan pendidikan program master di Asian Institute of Technology, Bangkok, Thailand. Pada 1982, pria bertubuh kecil ini meraih gelar M.Sc. dari kampus tersebut. Sementara itu, gelar doktor dalam ilmu teknik diraih Djoko dari ITB pada 1990.

Dua puluh tahun berselang, tepatnya pada 15 Juni 2010, Djoko dilantik oleh Mendikbud M Nuh menjadi Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Dia menggantikan Fasli Djalal yang saat itu diangkat sebagai Wamendikbud.

Kiprah Djoko di kampus teknik tertua di Indonesia itu sangat beragam. Dia mengawali karir sebagai dosen di ITB pada 1978 hingga akhirnya meraih jabatan akademik sebagai profesor dengan pangkat IV/e. Sebelum dilantik sebagai rektor ITB, Djoko merupakan ketua Senat Akademik ITB yang telah dijabatnya selama dua periode, yakni Januari 2002-Juli 2004 dan Juli 2004-Januari 2005.

Sejumlah jabatan penting di ITB juga pernah menjadi tanggung jawab Djoko. Mulai dariĀ  Sekretaris Program Magister Geofisika Terapan (1986-1997), Ketua Prodi Teknik Geofisika (1989-1997), Ketua Program Magister Geofisika Terapan (1997-2003), Kepala Laboratorium Eksplorasi Sumberdaya Bumi, Departemen Teknik Geofisika ITB (2000-2005), hingga Pembantu Rektor II (1997-2001).

Selain mencurahkan diri dalam kehidupan akademis, Djoko turut berpartisipasi dalam sejumlah organisasi, terutama terkait dengan keahlian dan profesinya. Sebut saja Himpunan Ahli Geologi Indonesia (HAGI) yang pernah dipimpinnya periode 1998-2000. Djoko juga tercatat sebagai anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) sejak 1976.

Tidak hanya di dalam negeri, Djoko juga berpartisipasi dalam komunitas atau organisasi internasional. Sejak 1995, Djoko tercatat sebagai anggota aktif Society of Exploration Geophysicist (SEG-USA), anggota aktif Australian Society of Exploration Geophysicist (ASEG) sejak 2000, serta menjadi anggota Environtmental and Engineering Geophysical Society (EEGSUSA) dan Southeast Asia Geotechnical Society (SEAGS) sejak 1982.

Bahkan, dosen teladan ITB 1977 itu juga aktif sebagai Adjunct Profesor di universitas luar negeri. Djoko aktif sebagai Adjunct Profesor di Curtin University of Technology, Australia sejak 1995 hingga sekarang serta Adjunct Profesor di Texas A&M University, College Station, AS pada 1995 hingga 2000.

Kecintaan Djoko terhadap ilmu dan publikasi karya ilmiah juga telah dimulai sejak dulu. Terbukti dia pernah menjabat sebagai Ketua Redaksi Buletin Geologi sepanjang 1979-1995, Ketua Redaksi Jurnal Teknologi Mineral (1990-1997), dan Kepala Penerbit ITB pada 1998.

(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Tertidur di Dekat Radiator, Kulit Pria Inggris Meleleh