Cangik Jadi Ratu

|

Ilustrasi (Gelar Agryano Soemantri/Okezone)

Cangik Jadi Ratu

ISU suksesi kepemimpinan berembus di Kerajaan Surasena setelah Prabu Basudewa berniat mundur demi menjadi pendeta di Pertapaan Randugumbala. Seluruh rakyat mulai kaum brahmana, kesatria, sampai golongan kawula bertanya-tanya kepada siapa tahta akan diserahkan.

Tak heran jika saban hari terdengar obrolan mengenai masalah suksesi ini dari dalam istana dan pura bahkan sampai ke warung-warung kopi di pinggiran jalan. Padahal, Prabu Basudewa sebenarnya juga tidak tahu kepada siapa tahta akan ia berikan. Kakrasana, putra tertuanya, telah menjadi raja di Mathura dengan gelar Prabu Baladewa. Adik Kakrasana, Narayana, sudah bergelar Prabu Sri Batara Kresna setelah menjadi raja di Dwaraka.

Sementara anak bungsunya, Putri Sembrada, menikah dengan Arjuna dan kini tinggal di Madukara. Tak satu pun dari ketiga anaknya yang berminat meneruskan tahta Surasena. Prabu Basudewa tertunduk lesu. Apa jadinya Surasena tanpa seorang raja?

Berhari-hari Prabu Basudewa tak mau makan, tak bisa tidur, hanya termenung layaknya tokoh novel cinta-cintaan yang sering dia baca di masa muda. Sungguh akhir yang tragis jika Surasena pupus dari dunia pewayangan hanya karena tak punya pewaris tahta.

Sang Prabu jadi ingat ketika ketiga anaknya masih kecil, betapa dia sangat berharap salah satu dari mereka akan menjadi the next number one, syukur-syukur bisa sekalian jadi the next Surasena idol yang dicintai rakyat. Tapi setelah dewasa, anak-anaknya malah lebih suka menjadi raja dan ratu di negara lain. Mungkin karena tak kuat menahan beban pikiran, berhari-hari kemudian Prabu Basudewa jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Jagat pewayangan pun gempar. Prabu Basudewa mangkat sebelum sempat menunjuk ahli waris, dan itu  artinya raja baru harus segera ditemukan atau Surasena akan dihapus selamanya dari daftar lakon kerajaan yang sering dimainkan dalang-dalang. Dewan Kerajaan yang terdiri dari kaum brahmana dan kesatria langsung menggelar musyawarah nasional tapi tidak menemukan kata sepakat. Ketiga anak sang prabu tetap enggan memimpin Surasena. “Kami tidak ingin ada di bawah bayang-bayang ketiak ayahanda,” kata Kakrasana mewakili kedua adiknya.

Kakrasana malah menyodorkan ketiga istri ayahnya untuk dipilih sebagai ratu. Mereka adalah Dewi Mahira, Dewi Mahindra, dan Dewi Badrahini. Kalau ketiganya dianggap kurang pantas menjadi ratu, Kakrasana masih punya calon lain, yaitu Ken Sagupi, bekas cemceman Prabu Basudewa yang sekarang sudah jadi istri Antagopa. Ken Sagupi dinilai pantas untuk ikut bertarung memperebutkan posisi Si Nomor Satu karena dia pernah melahirkan Arya Udawa, putra Prabu Basudewa lainnya yang ternyata lebih senang mengaku sebagai anak Antagopa.

Usulan Kakrasena disambut baik oleh seluruh peserta musyawarah. Namun, Dewan Kerajaan tak berani memutuskan, siapa di antara keempat calon yang pantas memimpin Surasena. Maka setelah melalui perundingan alot berjam-jam, akhirnya diputuskan biar rakyat sendiri yang akan menentukan siapa yang paling pantas untuk menjadi pemimpin mereka.

Tanpa membuang-buang waktu keempat calon dihadirkan untuk bertarung dalam Pilratu alias Pemilihan Ratu. Masing-masing calon dipersilahkan menggelar kampanye untuk menarik simpati rakyat. Ada calon yang terang-terangan menunjukkan keinginannya menjadi ratu, tapi ada juga yang malu-malu. “Saya hanya meneruskan keinginan rakyat,” kata calon yang malu-malu itu.

Yang jelas seisi Surasena menyambut gembira perhelatan akbar yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah negeri mereka. Rakyat mengelu-elukan jago masing-masing. Jargon-jargon politik dan janji-janji manis bertebaran ke tengah massa. Spanduk dan pamflet memenuhi seisi negara. Yel-yel pendukung pun membahana di mana-mana.

Suasana bukan main riuhnya saat hari pemilihan tiba. Rakyat berbondong-bondong memenuhi bilik-bilik suara. Pilratu pun sukses diselenggarakan. Beberapa hari kemudian hasil penghitungan suara diumumkan. Hasilnya keempat calon memperoleh suara sama banyak. Dewan Kerajaan segera menggelar rapat dan diputuskan untuk mengulang Pilratu, namun lagi-lagi hasilnya sama kuat. Bahkan ketika Pilratu diulang sampai sepuluh kali, hasilnya tetap saja sama. Rapat Dewan Kerajaan pun kembali digelar.

“Weleh, weleh, rakyat sudah jenuh kalau terus-terusan mikirin Pilratu.” 

“Harus segera dicari solusi sebelum rakyat kecewa dan memilih jadi golput.”

“Golput nggak bagus untuk pencitraan. Golput menandakan ada sesuatu yang salah dengan pemerintahan.”

“Jadi solusinya bagaimana?”

Semua diam. Kakrasana merasa tak enak hati. Dia merasa bersalah. Andai dia mau meneruskan jabatan ayahnya sebagai Raja Surasena, tentu masalah ini tak akan terjadi. Tapi sebagai kesatria berpikiran modern, Kakrasana tak mau terus menetek pada orangtua.

Jika dia menjadi raja, maka itu harus usahanya sendiri bukan karena warisan, bukan karena nepotisme. Kakrasana ingat dengan kejadian di negara tetangga, di mana putra mahkota seorang raja sama sekali tak dihargai rakyatnya sendiri. Rakyat berani melempari putra mahkota dengan telur busuk. Tentu hal itu karena sang putra mahkota terbiasa mengandalkan kewibawaan ayahnya sehingga lupa untuk mengembangkan kharisma diri sendiri. Kakrasana tak mau bernasib seperti itu.

“Sebaiknya kita meminta petunjuk pada Paman Semar Badranaya,” kata Kakrasana sambil batuk-batuk sedikit biar kelihatan tambah wibawa.

“Lho, kenapa harus Semar? Semar kan cuma abdi dalem, bukan kasta tinggi?”

“Kebijaksanaan seseorang tidak ditentukan dari status sosial, tapi dari nuraninya.

Keluhuran budi pekerti Paman Semar sepatutnya menjadi cermin kebijaksanaan. Beliau merupakan perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Perkataan Paman Semar sama dengan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan. Jika kita mau merendah hati mendengarkan suara rakyat kecil, maka Surasena pasti akan menjadi negara yang unggul dan sentosa. Biarkan Paman Semar memilih siapa dari keempat calon yang pantas menjadi Ratu Surasena.”

Karena tak satu pun peserta rapat yang dapat membantah perkataan Kakrasana, maka Semar pun segera dihadirkan di sana. Tanpa membuang waktu, Semar langsung disuruh menentukan pilihan. Keempat calon ratu duduk berjejer di hadapan Semar. Semar berjalan bolak-balik memerhatikan keempatnya. Tiba-tiba Semar tertawa, keras sekali.

“Paman Semar, kenapa paman tertawa?” tanya Kakrasana.

“Saya merasa geli karena tidak ada satu pun yang pantas jadi ratu!”

Wajah keempat calon ratu merah padam menahan malu dan marah. Suasana mendadak jadi riuh.

“Tenang … tenang … mohon Paman Semar menjelaskan.”

“Lihatlah tubuh mereka, semuanya gembrot! Tubuh gembrot pertanda banyak makan, tak pernah prihatin, jarang berpuasa. Bagaimana mereka bisa memahami arti penderitaan jika sehari-hari hidup mereka dipenuhi kesenangan?”

“Maksud paman?”

“Bagaimana seorang ratu bisa memahami penderitaan rakyatnya yang hidup miskin dan kekurangan makan, jika dia sendiri selalu memanjakan lidah dengan makanan?”

“Senang makan enak itu urusan perut, nggak ada hubungannya dengan kualitas sebagai pemimpin,” bantah seorang kesatria anggota Dewan Kerajaan.

“Benar tuh! Memangnya ada jaminan kalau pemimpin kurus bakal lebih baik dari pemimpin gendut?” sela yang lain.

Semar tertawa lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya. “Memang kualitas pemimpin tidak ditentukan dari ukuran tubuh, tapi daripada memilih orang gembrot jadi ratu, saya lebih senang memilih orang kurus,” kata Semar.

Orang-orang tersentak. Mereka sadar ada suatu petuah yang wajib diperhatikan dalam kata-kata yang diucapkan Semar. Status Semar sebenarnya memang cukup terhormat. Semar bukan cuma pengasuh putra-putra Pandawa, tapi lebih dari itu, dia adalah sahabat bagi mereka. Tidak mungkin Semar berkata dusta.

“Kalau begitu Paman Semar, siapa yang akan menjadi ratu?” tanya Dewi Sembadra. Sang dewi yang sedari awal lebih memilih diam akhirnya tergoda juga untuk buka suara.

Semar diam. Orang-orang menahan nafas.

 

“Cangik!”

“Apa?”

 

Kakrasena, Narayana dan Sembadra serentak berdiri.

“Bagaimana Cangik bisa jadi ratu? Dia kan pengasuh bayi, dan bukan bagian dari dinasti!” seru Narayana.

“Sudah saatnya politik dinasti diakhiri. Tak akan pernah ada reformasi kalau penguasa selalu berasal dari dinasti yang sama. Lagipula Cangik mewakili penderitaan rakyat. Tubuhnya kurus sedari muda.”

Semar berdiri di podium layaknya pemimpin mau pidato. “Cangik memang perempuan tua dan buruk rupa. Tapi dia sangat setia kepada junjungannya. Dia mewakili penderitaan rakyat. Lihat saja tubuhnya kurus kering begitu. Kurus melambangkan orang yang jujur, sederhana, nggak neko-neko, nggak mengejar materi maupun kekayaan. Orang gemuk pun jika dia bekerja tanpa pamrih maka pelan-pelan akan menjadi kurus. Surasena akan bahagia jika bisa memiliki kesetiaan Cangik yang tanpa batas. Dia akan menjadi pemimpin yang berpihak pada rakyat.”

Orang-orang terpana mendengar pidato Semar. Tokoh satu ini memang memiliki getaran mistis Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa. Akhirnya Kakrasana mengusulkan kepada para brahmana dan kesatria untuk mencoba usul Semar dengan menjadikan Cangik sebagai ratu.

“Jika nanti mbok Cangik ternyata melenceng dari garis-garis besar amanat penderitaan rakyat, maka para brahmana dan kesatria dalam Dewan Kerajaan berhak menurunkan mbok Cangik dari jabatannya,” katanya.

Usul Kakrasana diterima semua pihak. Cangik pun mendadak muncul dalam ruangan itu. Seperti biasa, di mana dia bisa datang dan pergi semaunya dalam semua lakon yang melibatkan kaum Pandawa. Sambil menyisir rambutnya, ia berjalan tenang menuju kursi singgasana. Sesekali dia melirik genit ke arah para kesatria. Dan sejak saat itu, resmilah Cangik menjadi Ratu Surasena.

 

***

Bertahun-tahun sudah Cangik letih bekerja sebagai pengasuh putri-putri pandawa. Selama itu dirinya selalu dituntut untuk bersikap ikhlas dan mengabdi pada junjungan dengan gaji seadanya sesuai standar UMR pembantu rumah tangga. Cangik tidak pernah berani minta kenaikan gaji karena takut dituduh pamrih dan tidak setia. Padahal gaji yang diterimanya hanya cukup untuk membeli sisir, sehingga hanya itu hartanya yang paling berharga dan dengan bangga dia bawa ke mana-mana.

Sekarang dirinya sudah menjadi ratu, tentu keadaan tak boleh lagi sama, pikirnya. Maka dapur kerajaan jadi tambah sibuk saja. Saban hari sang ratu selalu minta disediakan bermacam hidangan lezat. Mulai mi ayam jamur, steak sapi lada hitam, sampai pizza ukuran besar ditambah susu segar jadi menu kesukaannya. Belum lagi aneka buah impor yang harus selalu tersedia di atas meja.

Pelan-pelan berat badan Cangik bertambah dan bertambah terus. Cangik bukan lagi perempuan tua kurus renta berdada rata. Sekarang dia ratu bertubuh tambun dengan payudara menonjol di dada.

Kepemimpinan Cangik disambut suka cita oleh Dewan Kerajaan. Di bawah kepemimpinan Cangik, gaji anggota dewan dilipatgandakan dan mendapat berbagai insentif  bulanan. Cangik bahkan sering mengundang mereka dalam berbagai pesta yang diselenggarakan di ballroom istana. Surasena benar-benar menjelma sebagai kerajaan yang dipenuhi rasa bahagia dan gelak tawa. Namun, nun jauh di pinggiran negara, rakyat yang makin kurus bertanya-tanya, kapan Pilratu berikutnya akan digelar. ***

Penulis Eka Maryono 

(Bagi Anda yang memiliki cerita pendek dan bersedia dipublikasikan, silakan kirim ke alamat email: news@okezone.com)

Eka Maryono lahir di Jakarta, 2 Maret 1974. Pendidikan terakhirnya ditempuh di jurusan Sastra Jepang, Universitas Nasional (1991-1997). Cerpen-cerpennya dimuat di Republika, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Sumut Pos, Radar Surabaya, Sumatera Ekspres dll. Bukunya yang telah terbit: Etalase Sunyi (Kumpulan Puisi, Yayasan Pintar, 2002) dan Rumah Terakhir (Kumpulan Cerpen, Fajar Publisher, 2012). Kini aktif dalam komunitas Studi Sastra Jakarta.

(ful)

berita terkait

foto & video lainnya

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Bingkai

      Aku Curi Uang Milik Rakyat Negeri Ini

      AKU dan Qazi - istriku yang cantik - baru saja menikah. Kami punya tempat tinggal besar nan nyaman.

    • Bingkai

      Jadilah Terang

      DIANDRA, anakku tersayang masih saja seperti ingin mencoba mencabik-cabik perasaanku yang telah rapuh ini.

    • Bingkai

      Lebaran Tanpa Suami

      SELESAI mandi sore dan hendak berganti baju, Rukmini berdiri berlama-lama di depan cermin. Dipandangi tubuh telanjangnya.

    • Bingkai

      Pekuburan Hendra

      AKU tak tahu harus bersedih atau bergembira. Mataku tak lepas dari gerakan penggali kubur yang sibuk sedari tadi.

    • Bingkai

      Cangik Jadi Ratu

      ISU suksesi kepemimpinan berembus di Kerajaan Surasena setelah Prabu Basudewa berniat mundur demi menjadi pendeta di Pertapaan Randugumbala.

    Baca Juga

    Ada Tabrakan Karambol di Tol Pondok Indah