Morat-Marit Pemerintahan Libya PascaKhadafi

|

Foto : Polisi Libya (libya-businessnews)

Morat-Marit Pemerintahan Libya PascaKhadafi
KEMATIAN Moammar Khadafi menandai berakhirnya sistem pemerintahan sosialis di Libya. Dewan Transisi Nasional (NTC) memproklamirkan kemerdekaan pada November 2011. Namun kondisi Libya yang baru saja dilanda peperangan, masih belum stabil.

NTC membentuk badan eksekutif dan legislatif di Libya, serta meloloskan undang-undang untuk memperbolehkan warga Libya membangun partai politik. NTC menunjuk Perdana Menteri Libya yang baru, Abdurrahim Al Keib, yang tak lain adalah insinyur dari Amerika Serikat (AS).

Hubungan diplomatik Libya dan AS dipulihkan, tepat pada saat NTC membangun pemerintahan. Namun permasalahan baru kembali muncul yaitu, perpecahan di dalam tubuh NTC. Demikian diberitakan Reuters, sabtu (17/8/2012).

Dari sisi kemiliteran, pasukan fraksi oposisi Libya merupakan gabungan dari mantan angkatan bersenjata Libya, warga sipil, dan mantan gerilyawan Islam yang membangkang terhadap Khadafi pada dekade 1990. NTC sendiri memiliki tantangan berat yakni, memulihkan perekonomian Libya.

Banyaknya kubu politik di dalam tubuh NTC terbukti menyulitkan koalisi tersebut dalam memimpin Libya yang baru. Para pasukan-pasukan NTC yang berjuang menumbangkan kekuasaan Khadafi juga belum sepakat untuk menyerahkan senjatanya.

NTC pun memberlakukan larangan bagi warga pro-Moammar Khadafi yang ingin menyanjung jasa mantan pemimpinnya. Setiap warga yang terbukti menyanjung Khadafi dapat dijatuhkan hukuman penjara hingga 15 tahun. Meski demikian, larangan itu dicabut setelah munculnya aksi protes dari segenap aktivis HAM. Warga dan aktivis-aktivis HAM di Libya menilai, undang-undang itu sama sekali tidak demokratis.

Tepat pada 21 November 2011, putra Khadafi, Saif al Islam Khadafi diringkus oleh pasukan NTC di Kota Zintan. Saif yang disebut sebagai calon pewaris takhta Khadafi mengalami luka parah di jarinya.

Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) mendesak NTC agar menyerahkan Saif ke Den Haag agar pria berusia 39 tahun itu dapat langsung diadili. Namun NTC memutuskan untuk menahan Saif di Kota Zintan sampai kondisi di Libya kondusif. (AUL)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Usik Kedaulatan, Jokowi Harus Tegas Terhadap Malaysia