M Nuh: Lebaran di Luar Negeri Penuh Haru

Foto : Mendikbud M Nuh/Okezone

M Nuh: Lebaran di Luar Negeri Penuh Haru
JAKARTA - Lebaran tentu terasa sangat indah ketika dapat dirayakan bersama keluarga dan orang-orang terdekat. Namun, bagi mahasiswa yang berada di luar negeri dan tidak dapat pulang ketika Hari Kemenangan tersebut, tentu menyisakan kepedihan tersendiri.  
Hal ini ternyata pernah dialami Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh ketika menjalani studi S-2 dan S-3 di Universite Science et Technique du Languedoc (USTL) Montpellier, Prancis pada 1985. Dia menyebutkan, suasana Lebaran di Prancis sangat berbeda.
 
"Karena saya di Prancis, tentu berbeda suasananya dengan Arab atau Malaysia. Ketika di Prancis, saya berlebaran dengan sesama pelajar Indonesia di sana," ujar M Nuh ketika berbincang dengan Okezone, baru-baru ini.
 
Menurut M Nuh para pelajar Indonesia di Prancis memiliki rasa kekeluargaan yang erat. "Ikatannya luar biasa, semakin haru, dan semakin emosional. Membayangkan tradisi lama yang biasa dilakukan tapi saat itu tidak bisa serta biasa melewatkan dengan keluarga, saat itu harus sendirian," tuturnya.
 
Apalagi, lanjut M Nuh, saat itu belum ada teknologi handphone sehingga berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia tidak semudah saat ini. Dia menyebutkan, untuk dapat menelepon ke Tanah Air, para mahasiswa harus merogoh kocek yang cukup dalam.
 
"Dulu, telepon itu mewah sekali. Uang beasiswa harus dialokasikan untuk telepon karena biayanya sangat mahal. Tarif teleponnya sangat mahal. Dulu, untuk telepon bisa menghabiskan 50 Franc sementara uang beasiswa hanya 1.200 Franc. Sangat terasa betul mahalnya," imbuh mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.
 
Beruntung, katanya, teknologi semakin canggih yang memudahkan mahasiswa untuk berkomunikasi dengan keluarga di Tanah Air. "Sekarang tidak mahal. Dengan Skype, mahasiswa tidak perlu membayar untuk bisa mengobrol berjam-jam," paparnya.
 
M Nuh mengaku, meski terasa sedih dan penuh haru, hubungan kawan-kawan sesama pelajar selama di sana jutsru semakin akrab. Menurutnya, hal ini sesuai dengan teori primodialis, yakni suatu ikatan yang didasarkan atas ikatan asali, ikatan asal.
 
"Ketika seseorang masuk pada wilayah dengan ketidakpastian yang tinggi, maka ikatan primodialisnya makin kuat. Itu rumusnya. Sama halnya ketika berada di luar negeri yang memiliki ketidakpastian tinggi, maka ikatannya makin kuat. Demikian pula dengan suku, agama, maupun almamater," katanya menjelaskan.
(mrg)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Kisah Pilu PKL Semarang di Pesta Rakyat