SBY Janji Beri Atensi Khusus ke Madura

|

SBY Janji Beri Atensi Khusus ke Madura

JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan akan memberi perhatian khusus terhadap konflik di Sampang, Madura. Bahkan, di sisa masa jabatannya, SBY berjanji akan memberikan perhatian penuh terhadap persoalan-persoalan lain yang dihadapi warga Madura.

 

"Khusus masalah Sampang, presiden dengan tulus mengatakan bahwa sisa dua tahun ini akan menaruh perhatian penuh pada masyarakat Madura. Kesejahteraan, ekonomi, pendidikan, presiden akan memberikan perhatian betul-betul untuk Madura yang barangkali selama ini kurang disentuh," ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj, usai bertemu dengan SBY di Kantor Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (28/8/2012).

 

Dalam kesempatan ini, Said Aqil menegaskan bahwa kerusuhan di Sampang murni berlatar konflik keluarga. Di mana, kakak beradik, yaitu Tajul Muluk dan Roeis Al Hukama saling berebut pengaruh.

 

"Ini kasus kriminal murni, bukan NU dan Syiah. Tapi kakak beradik beradu pengaruh. NU, saya sudah perintahkan yang kebetulan Wagub dan beliau sudah turun dan sekarang sudah kondusif. Nanti kalau sudah tenang, saya akan turun. Silaturahim informal," kata dia.

 

"Alhamdulillah Presiden sepakat apa yang terjadi di Sampang adalah murni kriminal,” Said menambahkan.

 

Sebelumnya, Said Aqil di dampingi Sekretaris Jenderal PBNU Marsudi Syuhud, Rais Syuriyah PBNU, Masdar Farid Mas'udi, Saifudin Amsir, dan Artani Hasbi bertemu dengan Presiden di Ruang Cenderawasih. Turut serta dalam rombongan panitia Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama.

 

Dalam pertemuan ini PBNU juga menyampaikan desakan agar Presiden memberikan instruksi ke aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, untuk bertindak tegas dalam menangani kasus penyerangan warga Islam Syiah di Sampang, Madura. Pelaku penyerangan harus ditindak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

 

"Dakwah tidak dibenarkan kalau sampai harus saling melukai, apalagi saling bunuh. Oleh karenanya aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, harus bisa bertindak sesuai dengan hukum yang ada," ujarnya.

 

Terkait tudingan sejumlah pihak jika Syiah adalah aliran sesat, NU tidak sependapat jika penyelesaiannya dilakukan melalui jalan kekerasan.

 

"NU dengan Syiah jelas beda, terlebih dengan Ahmadiyah, jelas berbeda. Tapi, dalam pergaulan kami menolak adanya kekerasan, karena ajakan berubah itu ada metodenya. Dakwah, diskusi yang bermartabat, dan itu semua yang selama ini kami lakukan," tegasnya.

(ful)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Pemkab Banjarnegara Minta Bantuan Korban Longsor Diganti Semen